-->

Tokoh Toggle

Mudjiati:Dari Kios Majalah-Koran ke Telur Asin

mudjiatiMESKI usianya sudah 61 tahun, Mudjiati masih lincah ke sana kemari untuk mengantar koran dan majalah ke pelanggan. Dia pun selalu gembira menjalankan aktivitas tersebut.

Bagi Mudjiati, pekerjaan yang telah dilakoninya selama sebelas tahun itu memang mendatangkan banyak kesenangan. “Saya senang karena masih bisa bekerja sampai sekarang,” katanya.

Sepuluh tahun lebih melayani pembeli membuat Mudjiati hafal perilaku pelanggan. Misalnya, dia tahu kapan saat ramai dan saat sepi pembeli koran dan majalah.

Mudjiati juga niteni kebiasaan pembeli. Misalnya, menjelang pertandingan dua klub sepak bola kondang, akan banyak pembaca yang mencari ulasan seputar kans dua kesebelasan tersebut. Dengan begitu, dia tahu kapan dagangannya akan laris.

Bahkan, wanita kelahiran Surabaya itu juga tahu daya beli warga di sekitar tempatnya berjualan. Karena itu, dia tidak segan membeli majalah yang lama tidak laku untuk dijual kembali. Benar-saja, peminat majalah lama itu cukup banyak. Maklum, harganya murah. Padahal, barangnya “baru”, masih terbungkus plastik pula. “Paling sering majalah tentang masakan yang dicari ibu-ibu,” katanya.

Mudjiati juga merasa bertambah pintar sejak berjualan koran dan majalah. Maklum, sambil bekerja, dia meluangkan waktu untuk membaca beragam informasi. Mulai berita terkini, pengetahuan memasak, hingga kiat berwirausaha.

Misalnya, wirausaha membuat telur asin yang kini dikembangkan nenek enam cucu itu. “Saya mendapatkan mendapatkan informasi cara membuat telur asin dari membaca koran dan majalah,” tuturnya.

Ilmu dari bacaan tersebut lalu dicobanya di rumah. Ternyata berhasil. Karena itu, muncul ide untuk Mudjiati membuat lebih banyak telur asin untuk dijual. “Ternyata, laku juga,” ujarnya.

Bahkan, Mudjiati juga menularkan ilmu membuat telur asin itu kepada warga sekitar. Ibu-ibu PKK di tempat tinggalnya dia ajari membuat telur asin yang sempurna. “Sekarang banyak ibu-ibu yang membuat telur asin sendiri,” tegasnya. Itu membuat Mudjiati senang.

Kini, membaca sudah menjadi keharusan bagi Mudjiati. Tak aneh, meski usia menginjak kepala enam, dia tidak tampak ketinggalan zaman. Bagi Mudjiati, mencari uang memang tak lagi menjadi motif utama dalam bekerja. Bekerja, bagi dia, juga berarti mengatasi kesepian. Bahkan, bekerja berarti menambah pengetahuan dan mempertahankan daya ingat. 

Tempat sang Cucu Bertanya

SEBELAS tahun berdagang, Mudjiati dua kali kehilangan kios. Meski begitu, dia tak pernah kapok berdagang koran dan majalah. “Ini kios ketiga,” katanya.

Saat kiosnya hilang karena operasi penertiban, mantan karyawan sebuah perusahaan kontraktor itu harus membayar utang kepada mereka yang menitipkan dagangan di kiosnya. “Kalau barangnya rusak, kita harus mengganti kan. Ya mengangsur,” ujarnya.

Meski begitu, ibu dua anak itu menyatakan tetap menikmati kesempatan berdagang sambil menambah pengetahuan tersebut. Dia merasakan banyak manfaat dari kegiatan itu. Salah satunya membuatnya tidak kesepian. “Senang juga bisa berbagi pengetahuan kepada orang lain,” tambahnya.

Di rumah pun, Mudjiati jadi tempat bertanya bagi cucu-cucunya. Maklum, tiap hari nenek enam cucu tersebut membaca. Karena itu, dia tahu banyak hal. “Kalau pengetahuan kita banyak, saat ditanya cucu, kan bisa menjawab. Bagi saya, itu menyenangkan,” ujarnya.

Mudjiati mungkin tidak fasih menjawab saat sang cucu bertanya matematika. Tapi, dari koran dan majalah yang dibacanya, dia tahu banyak hal, tempat, dan kejadian di dunia. Karena itu, untuk urusan pengetahuan umum, sang cucu bisa mengandalkannya. (may/soe)

*) Dikronik dari Jawapo, 3 Maret 2010 dengan judul asli “Mudjiati Senang Bisa Tularkan Pengetahuan ke Tetangga”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan