-->

Kronik Toggle

Menjajal Pasar Sempit

DI negeri kelahirannya, Amerika Serikat, novel grafis karya Will Eisner terbilang laku, walau tak pernah dalam jumlah sensasional. Yang jelas, cetak ulang terus dilakukan sejak pertama kali terbit. Maklum, jenis komik dewasa berbobot sastra serius sudah lazim di sana. Pada 2004 saja, misalnya, penjualan novel grafis mencapai US$ 207 juta, melonjak hampir 300 persen dibanding lima tahun sebelumnya.

Di sini Nalar, perusahaan yang menerbitkan terjemahan trilogi Kontrak dengan Tuhan-tiga karya puncak Eisner-tak berharap banyak. “Selain tak terlalu terkenal, pasar komik dewasa di Indonesia sangat sempit,” ujar J.B. Kristanto, redaktur Nalar.

Menurut Kristanto, Nalar tertarik menerbitkan karena trilogi itu merupakan mahakarya Eisner. Karya ini diharapkan dapat menambah referensi bagi pencinta komik di sini, yang selama ini lebih banyak dihadapkan dengan komik untuk anak-anak.

Hak cipta untuk mencetak 3.000 eksemplar didapat Nalar dari W.W. Norton & Company, New York, pada Oktober 2009. “Kami berkorespondensi selama enam bulan melalui surat elektronik,” kata Kristanto.

Setelah kontrak kerja sama diteken, proses produksi langsung dilakukan. Lamanya sekitar tiga bulan, di luar penerjemahan yang tergolong merepotkan. Banyak kata berupa slank Yahudi-Inggris atau Italia yang susah dicari artinya. “Kami tidak menerjemahkan bahasa, tapi kebudayaan. Karena itu, istilah-istilah yang khas tidak kami terjemahkan,” kata Kristanto, yang menggunakan jasa tiga penerjemah dari Asha Fortuna.

Selain itu, karena Eisner menggunakan tulisan tangan, penerbit harus mencari jenis huruf di komputer yang paling mirip. Nalar juga harus memindai satu per satu halaman dan menghapus semua teks bahasa Inggris untuk diganti dengan bahasa Indonesia. Maklum, untuk mendapatkan softcopy-berupa gambar sudah jadi yang tinggal diisi tulisan, Nalar harus merogoh kantong lebih dalam. “Sebagai penerbit rumahan, untuk membeli copyright dan biaya produksi saja bagi kami sudah sangat mahal,” kata Kristanto.

Mulai dipasarkan melalui penjualan online akhir Januari lalu, trilogi Kontrak dengan Tuhan terjual sekitar 30 paket buku sebelum resmi diluncurkan tiga pekan lalu. Penerbit buku kartun laris Benny-Mice ini juga memajang ketiga buku itu di jaringan toko buku Gramedia, baik berupa paket tiga buku sekaligus yang dibanderol Rp 145 ribu maupun secara terpisah yang harga per bukunya berkisar Rp 50 ribu.

Melihat pasar komik dewasa yang sangat sempit, penerbit Nalar tak mau muluk-muluk menargetkan bukunya bakal laris manis layaknya Benny-Mice. Walau begitu, Kristanto tetap berharap buku yang dilempar ke pasaran bisa habis terjual.

Ini Bukan Komik, Katanya

SATU sudut kumuh Bronx di Kota New York itu tampil dalam garis-garis hitam tegas dan tebal, dengan arsir atau blok di sana-sini. Gambar-gambar yang dibangun dengan bahan-bahan itu-berupa gedung, orang, aneka peralatan, suasana-tampak suram. Dan cerita yang diantarkannya memang bukan dongeng yang berakhir-bahagia-selamanya: inilah kisah tentang Frimme Hersh, seorang imigran Yahudi saleh yang memprotes Tuhan karena kematian putri angkatnya; dia lalu sukses menjadi juragan properti, tak pernah peduli pada moralitas, tapi meninggal penuh penyesalan.

Kisah berjudul A Contract with God (diterjemahkan menjadi Kontrak dengan Tuhan) itu dibuka, dengan sudut penglihatan kamera jarak jauh, ketika seseorang sedang berjalan di tengah guyuran hujan lebat, di antara genangan air. Mengenakan topi lebar, kepalanya menunduk sepanjang jalan. Langkahnya menimbulkan bunyi kecipak. Dialah Hersh, yang hari itu baru pulang dari pemakaman putrinya.

“Hanya air mata tangis sepuluh ribu malaikat yang bisa menyebabkan banjir seperti ini! Dan, setelah dipikir-pikir lagi, mungkin memang demikianlah adanya…,” kalimat ini membuka narasi, yang dilanjutkan (pada halaman berikutnya) dengan, “… lagi pula, hari ini Frimme Hersh menguburkan Rachele, putrinya.”

Lalu di halaman-halaman berikutnya (dengan gambar dari sudut pandang yang kian dekat): “Tidak terlalu aneh, seorang ayah membesarkan anaknya dengan penuh kasih dan sayang hanya untuk kehilangan sang anak tadi…. Itu terjadi pada banyak orang setiap hari”; “…mungkin, bagi orang lain”; “… tapi tidak bagi Frimme Hersh”; “Karena Frimme Hersh punya kontrak dengan Tuhan!”

Diterbitkan pertama kali pada Oktober 1978, cerita bergambar (komik, jika Anda mau menyebutnya begitu) karya Will Eisner itu merupakan monumen. Karya itu bukan saja mengukuhkan penciptanya sebagai pengarang cerita bergambar yang punya kontribusi signifikan dalam perkembangan komik sebagai medium, melainkan juga menempatkannya sebagai pelopor penting novel grafis, komik sebagai karya sastra. Melalui bukunya ini, Eisner, yang waktu itu berusia 61 tahun dan sudah berpengalaman sejak 1930-an dengan beragam karya, memperkenalkan konsep sejilid buku komik (trade paperback) berisi cerita orisinal yang mengandung muatan sastra serius.

Berkat penerbit Nalar, buku itu kini bisa dibaca dalam bahasa Indonesia. Terjemahan lengkap tiga judul trilogi-Kontrak dengan Tuhan, Daya Hidup, Jalan Raya Dropsie: Pemukiman-diluncurkan awal bulan lalu. Satu forum diskusi untuk merayakannya digelar di Bentara Budaya Jakarta tiga pekan lalu. Tampil sebagai pembicara Seno Gumira Ajidarma, sastrawan yang menyelesaikan studi doktoral tentang komik.

l l l

Ide tentang buku itu datang menjelang akhir 1970-an, tak lama setelah Eisner menghadiri konferensi komik di satu hotel di New York. Ketika itu ia baru saja menjual sahamnya pada sebuah penerbitan. Dia percaya apa yang hendak dia kerjakan itu merupakan solusi bagi masalah kehilangan pembaca yang sedang dihadapi komik. “Saya beralasan bahwa anak-anak 13 tahun yang membaca karya saya pada 1940-an sudah bukan lagi anak-anak 13 tahun, mereka kini 30, 40 tahun. Mereka pasti menginginkan sesuatu yang lebih daripada dua superhero, dua superman, berantem satu dengan yang lain,” katanya.

Eisner yakin subyek bukunya, yakni hubungan antara seorang lelaki dan Tuhan, belum pernah muncul dalam komik yang mana pun. Dia memperlihatkan draf bukunya kepada Tom Inge, editor yang kerap membantunya, yang menurut dia secara tak langsung menyemangatinya karena, “Dia menatapnya (draf itu) dan tak tertawa,” katanya.

Ketika buku itu rampung, dia menelepon Oscar Dystel, chairman dan CEO Bantam Books di New York. Eisner tahu orang itu sibuk, pasti tak banyak waktu untuk mengobrol. “Ada sesuatu yang mau saya perlihatkan kepadamu, sesuatu yang saya kira sangat menarik,” katanya.

“Ya, well, apa itu?” dari seberang terdengar jawaban.

Eisner bergulat dengan pikirannya. Dia mengisahkan momen itu antara lain saat berbicara dalam Simposium Will Eisner 2002 di Universitas Florida, Gainesville, Florida, Amerika Serikat. Katanya, “Seorang pria kecil muncul dan berkata, ‘Demi Tuhan, bodoh, jangan bilang itu komik. Dia akan menutup teleponnya.'” Maka Eisner bilang, “Ini novel grafis.”

“Wow! Kedengarannya menarik. Ke sinilah.”

Dia memang akhirnya datang dan memperlihatkan bukunya itu. Tapi, seperti sudah dia perkirakan, dia disarankan untuk membawanya ke penerbit yang lebih kecil karena, di mata Dystel, buku itu tak lebih dari sebuah… komik. Dia menuruti saran itu. Tapi sejak itulah istilah novel grafis terus digunakan, padahal, seperti kemudian dia akui, sudah ada orang yang melontarkannya lebih dulu-hanya tanpa hasil. “Saya menggunakannya untuk mengembangkan apa yang saya yakini sebagai kesusastraan yang mungkin pada medium (komik) ini,” katanya.

Buku yang diberi judul A Contract with God, and Other Tenement Stories itu sesungguhnya terdiri atas empat cerita pendek yang bisa berdiri sendiri-sendiri tapi diikat oleh tema yang sama. Selain A Contract with God, yang khusus mengisahkan pemberontakan Femme Hersh terhadap Tuhan, ada The Super (diterjemahkan menjadi Sang Pengawas), The Street Singer (Penyanyi Jalanan), dan Cookalein. Keempat cerita ini berlatar sama, tenement atau rumah susun fiktif di sebuah jalan yang juga rekaan bernama Dropsie Avenue di Bronx pada 1930-an-masa ketika Amerika baru saja dilanda Depresi Besar.

Eisner mengakui bahwa dia terilhami oleh antara lain buku-buku Lynd Ward, yang pada 1930-an memproduksi novel utuh tanpa teks dalam wujud cetakan dari cukil kayu. Dia mendapatkan salah satu buku Ward, Frankenstein, pada 1938-dua tahun sebelum dia memulai penerbitan komik superhero The Spirit, yang melambungkan namanya. Upayanya melalui A Contract with God merupakan, dalam kata-katanya, “perluasan atau pendalaman dari premis asli Ward”; dia melakukannya dengan bertumpu pada kisah hidupnya, khususnya kematian putrinya pada 1970 karena leukemia dalam kisah Hersh, dan juga orang-orang di sekitarnya.

“Aku merasakan dorongan kuno para pelaut untuk membagi akumulasi pengalaman dan observasiku. Jika Anda mau, sebut saja aku saksi grafis yang melaporkan kehidupan, kematian, patah hati, serta pergulatan tanpa henti untuk menang… atau paling tidak untuk bertahan hidup,” Eisner menulis dalam pengantar bukunya ketika diterbitkan lagi pada 2005.

Dia punya segudang “amunisi” teknik untuk mengolah aneka faset kejadian dalam hidup itu menjadi bahasa seni komik. Dia mengerahkan bakatnya yang sudah terasah puluhan tahun dalam hal pengaksaraan, menyisipkan huruf dan kata dalam gambar; juga dalam menciptakan figur karikatural. Dengan semua itu, dia menghidupkan narasi melalui setting dan tema yang lazim di kalangan imigran, memasuki wilayah lintas-kultur.

Berbeda dengan komik pada umumnya waktu itu, Eisner, misalnya, menyatukan teks narasi dengan gambar (montase) tanpa menggunakan balon; di sana-sini dia memadukannya dengan teks percakapan yang diletakkan dalam balon. Contohnya, selain pada saat dia mengawali kisah Hersh, adalah pembukaan pada Sang Pengawas, tentang profil Scuggs, penjaga rumah susun Dropsie 55. Tidak di semua gambar, memang. Tapi tetap saja frekuensinya boleh dibilang signifikan-apalagi jika kemudian dibandingkan dengan dua judul buku lainnya, A Life Force (Daya Hidup) dan Dropsie Avenue (Jalan Raya Dropsie: Pemukiman), yang kembali ke pendekatan bercerita konvensional.

Selain itu, Seno Gumira mencatat dua pendekatan lain yang diperagakan Eisner (semuanya sebetulnya sudah dieksplorasi sejak The Spirit): halaman pembuka (splash) yang dirancang tampil spektakuler, bisa mandiri, tapi tetap merupakan acuan bagi pembaca untuk mengikuti halaman-halaman selanjutnya; serta dibuangnya garis-garis pembatas panil, juga halaman yang justru dijadikan panil bagi panil-panil.

Tentu saja, ada kalangan yang melihat justru gaya visualisasi Eisner sebenarnya tak pas benar untuk karya yang sarat nuansa seperti yang hendak dia wujudkan. Figur-figur karikaturalnya, jika diamati, mungkin tampak lebih cocok untuk cerita, ya, humor. Narasinya pun dianggap kadang-kadang terasa berlebihan, terlalu “diatur” untuk mendapatkan efek tertentu.

Kita bisa saja akur dengan pendapat itu. Tapi, bahkan jika demikian, andai kita menempatkan diri di masanya, tetap saja sulit untuk tidak menyadari, sebagaimana dikemukakan Seno, bahwa dalam novel grafis Eisner terkandung bukan saja “perkembangan strategi estetik”, melainkan juga “kandungan tematik” yang menjadikannya bukan sekadar komik. Ekspresi wajah dan sikap tubuh memang karikatural, tapi bukan untuk mencari efek lucu, melainkan “menegaskan berlangsungnya segala macam ironi dalam kehidupan manusia….”

Atau, meminjam David L. Ulin, yang menulis ulasan di Los Angeles Times pada 20 November 2005, setelah kita rampung menyimak-membaca teks, menangkap rangkaian gambar-seluruh halaman: kita bisa merasakan ada “sesuatu yang sangat penting… satu kualitas yang berwibawa, seolah-olah kita sedang menyaksikan kelahiran suatu gerakan, semacam big bang estetika”.

l l l

Eisner masih melanjutkan apa yang dia mulai dengan A Contract with God beberapa tahun kemudian. Dia menerbitkan serangkaian novel grafis yang bercerita tentang komunitas imigran di New York, khususnya komunitas Yahudi, di antaranya The Building, A Life Force, Dropsie Avenue, dan To the Heart of the Storm. Sebagian, misalnya A Life Force (1988) yang menjadikan kecoak sebagai metafora tentang bagaimana manusia sanggup bertahan hidup, malah sebenarnya jauh lebih kuat untuk mengusik pikiran dan perasaan pembaca. Tapi kepeloporan A Contract with God tak terpinggirkan.

Memang benar, pada 2005, ketika dia meninggal, karya-karyanya bisa tampak ketinggalan zaman dibanding karya kontemporer dari, misalnya, Chris Ware, Marjane Satrapi, dan Seth. Banyak pula yang merasa jengah dengan kecenderungannya untuk blak-blakan dalam hal moral dan sentimentalitas. Walau begitu, tak bisa dibantah satu hal yang pasti: bahwa karya-karyanyalah yang memicu munculnya seniman-seniman baru itu, yang dengan penuh percaya diri menunjukkan betapa komik bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar bacaan anak-anak.

Dengan itu, Eisner memperoleh julukan sebagai Bapak Novel Grafis. Ada pula yang menyetarakannya dengan Orson Welles, sutradara, penulis, aktor, dan produser yang malang-melintang dengan inovasi di bidang film, teater, televisi, dan radio.

Sampai ajal menjemputnya, Eisner tak pernah kehilangan keyakinan pada komik. “Saya sangat percaya bahwa medium ini adalah sastra. Ia satu bentuk sastra dan kini sedang mencapai kedewasaannya,” katanya dalam forum Simposium Will Eisner di Universitas Florida, Gainesville, Florida, tiga tahun sebelum kematiannya.

Purwanto Setiadi

*) Dikronik dari Tempo, 1 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan