-->

Kronik Toggle

Menjadi Ghostwriter (3)

Menjadi ghostwriter juga dijalani Bonari Nabonenar. Penulis yang juga jurnalis itu mengatakan, tidak ada yang salah dengan menjadi ghostwriter. Tidak ada yang dirugikan dan sama-sama menguntungkan.

Hanya, Bonari mengatakan, dirinya melakukan sejumlah pembatasan-pembatasan terhadap ghostwriting. ”Yang pertama, saya tidak akan mau bila itu untuk keperluan akademis. Seperti skripsi, tesis, ataupun disertasi. Itu pantangan saya,” urainya.

Yang kedua, dia tidak mau melakukan ghostwriting dengan data-data palsu. ”Sebab, itu berarti saya membohongi publik,” ujar pria yang juga aktif dalam pembelaan hak-hak TKW di Hongkong tersebut. Dua hal ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar olehnya.

”Maka, itulah yang membedakan saya dengan ghostwriter lain. Saya adalah ghostwriter baik yang punya prinsip, hahaha,” katanya kemudian tertawa. Menurut dia, jasa pembuatan skripsi dan sebagainya itu merupakan sebuah bentuk ghostwriter yang jahat. ”Karena itu betul-betul penipuan,” tambahnya.

Bapak satu anak itu berpendapat bahwa ghostwriter sebagai sebuah pekerjaan tidak bisa diharapkan. ”Sebagai pekerjaan, tidak bisa dijagakke,” urai Bonari. Menurut dia, penting bagi seorang ghostwriter untuk menjadi baik karena bila dibiarkan tak terkendali, mereka akan merusak dunia tulis-menulis secara keseluruhan.

Karirnya di dunia ghostwriting dimulai pada 2000. Dia mau ketika ditawari salah seorang tokoh Jawa untuk menarasikan tiga naskah ludruk. ”Per naskahnya Rp 400 ribu. Jadi, bila tiga naskah setebal 100 halaman, honornya Rp 1,2 juta,” tambahnya. Dia mau mengerjakannya karena memang kepepet uang. ”Saya tak ambil pusing. Pokoknya, saya kerjakan secepatnya. Saya serahkan dan kemudian dapat uang. Habis perkara,” tambahnya.

Bonari kemudian seperti berjalan dengan dua kaki. Satu proyek murni buku dan lainnya ya itu tadi, melakukan ghostwriting. Yang paling sering dan melegakan dia adalah pada 2008. Ketika itu, dia mendapat job melakukan ghostwriting untuk seorang petinggi di Jawa Timur. Tugasnya adalah membuat opini di sejumlah surat kabar.

Bonari menghasilkan sekitar tujuh tulisan opini berbobot di sejumlah media massa dan sangat sukses mengesankan sang pejabat adalah orang yang betul-betul menguasai permasalahan dan menjelaskannya secara gamblang. Total dia mendapat Rp 20 juta, sebuah laptop baru, dan sebuah laptop second yang menjadi operasionalnya mengetik. ”Sangat lumayan sekali,” katanya.

Namun, untuk itu Bonari tak mengerjakan­nya setengah-setengah. Dia mengikuti perjalanan tokoh tersebut ke sejumlah daerah. Memperhatikan caranya berkomunikasi, menghafalkan diksi tokoh tersebut, mengolah data, dan baru kemudian menuliskannya. ”Bagaimanapun, jangan pernah setengah-setengah untuk melakukan ghostwriting,” tuturnya. Seorang penulis bayangan yang berhasil, bagi Bonari, adalah penulis yang berhasil membuat tulisan begitu mirip dengan tokoh tersebut. ”Detail-detail kecil seperti celetukan khas atau gaya omong sedapat mungkin dimasukkan,” imbuhnya.

Sumber: Jawa Pos, 28 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan