-->

Kronik Toggle

Menjadi Ghostwriter (2)

Djoko Prakoso mengawali ”profesi” sebagai ghostwriter sekitar sepuluh tahun silam. “Awalnya, saya hanya bantu-bantu teman. Tapi, lama-lama saya dikenal getok tular memiliki aktivitas di bidang ini. Saya juga tidak pernah menawarkan diri bahwa saya bisa membantu menuliskan dengan baik,” jelas Djoko kemarin (27/2).

Banyaknya pertolongan yang diberikan Djoko kepada sejumlah kolega itu memang membuatnya makin dikenal. Paling tidak, bisa terlihat dari gaya penulisannya.

Biasanya, budayawan yang mengetahui konseptor pidato langsung menyindirnya. “Oleh honor pira iki rek (dapat honor berapa ini), konco-koncone yo diciprati rek (teman-temannya juga diberi bagian),” ujar Djoko, lantas tertawa.

Setelah jatuhnya Orde Baru, Djoko juga laris manis diminta para juru kampanye (jurkam) untuk membikin konsep pidato. “Para jurkam biasanya hanya pintar ngomong, tapi isinya saya yang bikin,” ujarnya. Dia mengatakan bahwa pidato yang digarap hanya khusus budaya. “Kalau kaitannya dengan para jurkam, itu ya budaya dengan kebangkitan ekonomi, budaya dengan pengembangan KUD, dan sebagainya,” jelasnya.

Selama ini, Djoko memang amat dikenal dalam aktivitas tulis menulis. Nama Djoko kerap disebut dalam cerita pendek romantis di Panjebar Semangat atau Jaya Baya dengan nama Rembang Djoko Kinanti. Dia selalu mengikutkan nama Rembang karena masa kecilnya banyak dihabiskan di Rembang, Jawa Tengah. “Saya bisa menari, menulis, itu juga belajar di Rembang,” katanya.

Di luar itu, Djoko juga banyak menghasilkan naskah wayang orang. Hingga saat ini, sudah 20 naskah karyanya dipentaskan. Di luar itu, aktivitas kepenulisannya juga sudah menghasilkan beberapa buku. “Ada satu buku lagi yang siap edar. Karena cover-nya belum cocok, belum saya luncurkan,” ucap bapak tiga anak itu.

Di samping menggarap pidato, Djoko terkadang mendapatkan ”order” lain, namun juga tak jauh-jauh dari aktivitas penulisan. Di antaranya, membantu penyusunan karya ilmiah atau laporan penelitian. ”Order” ini sangat jarang didapatkan, terkadang enam bulan sekali. Untuk yang itu, Djoko sangat selektif menerima. Dia menolak mentah-mentah apabila pihak yang meminta tolong pasrah bongkokan dibuatkan karya tulis.

“Kalau maunya dibuatkan karya ilmiah, tentu saya tidak mau. Yang begini sudah melanggar kaidah ilmiah,” ujar pria 45 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta itu. Pria asli Solo tersebut mau campur tangan semata-mata untuk mengedit tulisan agar enak dibaca dan sturuktur kalimatnya pas.

“Saya menyadari ada orang-orang yang pintar, tapi mereka memiliki kelemahan dalam bidang tulis menulis. Saya kira, ini juga bagian dari tugas-tugas kemanusiaan,” kata bapak tiga anak itu.

Sumber: Jawa Pos, 28 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan