-->

Kronik Toggle

Menjadi Ghost Writer (1)

Menjadi ghostwriter tentu saja tak pernah mudah. Seorang penulis bayangan yang baik adalah seni memberi hati dan menjadi orang lain. Seorang penulis ghostwriter papan atas yang minta dianonimkan membeber kiatnya.

Menjadi awam. Itulah kata pertama yang disebutnya ketika ditanya apa resep utama ketika menjadi ghostwriter tokoh, terutama politik. Tokoh, terutama politikus, memang dia sebut sebagai pelanggan utama. Baru kemudian institusi seperti universitas atau lembaga.

Menurut Sigit (sebut saja begitu, Red), dia selalu membandingkan dengan dirinya. ”Selama ini, saya tak pernah mau membaca memoar politik atau tokoh. Yang saya dapatkan hanyalah hal-hal yang menjemukan, hal-hal yang itu-itu saja. Seperti kumpulan pidato gaya lama,” katanya.

Dengan menjadi awam, Sigit menyatakan dirinya selalu ingin dan ingin mencari hal yang menarik dari kliennya. ”Bahkan seperti terapi,” ucapnya. Dia buka kartu, selama sesi wawancara, dirinya selalu menanyakan satu hal penting: tentang perasaannya. ”Terus itu yang saya tanyakan, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya?” katanya.

Sigit mengungkapkan, beberapa kali dirinya mendapat bonus lebih karena kliennya terkagum-kagum sendiri dengan sepenggal kehidupan dirinya yang telah ”ditemukan” dari serangkaian wawancara. ”Saya sampai pernah secara spontan diberi uang Rp 5 juta tambahan karena menemukan hal itu,” jelasnya.

Menurut dia, memoar atau buku otobiografi tokoh merupakan kartu mati penerbitan mana pun. ”Hampir tak ada orang yang mau mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membeli buku gaya lama itu. Harus ‘diberi hati’,” tambah pria yang mematok Rp 40 juta per buku tersebut.

Nama seseorang mungkin besar di masyarakat. Tapi, menjadikannya enak dibaca dalam sebuah buku atau memoar adalah hal lain. ”Anda harus memberinya hati. Itulah tugas seorang ghostwriter,” tegasnya.

Sigit menyatakan, satu hal yang harus diingat para penulis biografi, baik yang resmi maupun ghostwriter. ”Bila politikus, jangan pernah terlalu terbebani dengan aspek politis buku tersebut. Sebab, politikus sendiri sudah sangat genius di urusan politik,” paparnya.

Yang dibutuhkan politikus pada dasarnya sama dengan yang dibutuhkan bintang film, bintang olahraga, atau siapa pun untuk mendapatkan buku yang menarik. Yakni, seorang penulis yang tahu pertanyaan-pertanyaan apa saja yang harus diajukan untuk memancing keluar hatinya. ”Itu saja,” ujarnya. ”Kisah hidup apa yang lebih menyentuh hati dibandingkan dengan seseorang yang awalnya bukan siapa-siapa, cenderung sengsara, tapi kemudian berhasil meraih mimpinya? Garis besarnya seperti itu, tinggal pengembangannya” ucapnya.

Dengan resep seperti ini, Sigit yang mengaku sudah berprofesi menjadi penulis sejak sepuluh tahun lalu tersebut sudah menghasilkan dua biografi tokoh dan empat buku tokoh terkenal negeri ini. Belum terhitung, buku-buku untuk institusi. Meski masih mengontrak, tapi itu karena gaya hidupnya yang sederhana. Juga karena belum menikah. Namun, tabungannya sudah mencapai ratusan juta rupiah, meski tak punya pekerjaan tetap.

Sumber: Jawa Pos, 28 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan