-->

Kronik Toggle

LIPI Luncurkan Buku Yo Abdurachman

Jakarta– LIPI meluncurkan buku Yo Paramita Abdurachman, Perempuan Mendahului Zaman. Tokoh ini adalah salah satu perempuan peneliti generasi pertama.

“Ungkapan perempuan mendahului zaman memang layak diberikan pada Yo Abdurachman karena dia tidak hidup pada masa di mana feminisme ramai berkembang, namun ia bertindak dengan aksi nyata, bukan hanya lewat pernyataan pemikirannya,” kata Peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Jaleswari Pramodhawardani, saat peluncuran buku itu, di Jakarta, Senin (1/3).

Menurutnya, minat Yo sebenarnya begitu luas, maka ia layak dijuluki sebagai seorang spesialis yang generalis.

Dalam tulisan-tulisannya, katanya, tidak banyak mengungkapn tentang sosoknya sendiri, tetapi justru terlihat pemikirannya lewat penelitian yang dibuatnya.

Yo Abdurachman, kata Jaleswari, tidak bisa diidentikkan dalam satu karakter tertentu.

Dalam tujuh artikel yang terdapat dalam buku tersebut, terlihat Yo Abdurachman menaruh perhatian besar pada budaya Indonesia yang berkaitan dengan perempuan.

“Namun demikian, Bu Yo ini bukanlah seorang feminis, melainkan seorang humanis,” tutur Jaleswari.

Mantan Ketua LIPI Taufik Abdullah mengatakan Yo Abdurachman paham ilmu sosial yang berkaitan dengan politik, ekonomi, dan budaya.

Namun, katanya, perhatian Yo Abdurachman tercurah untuk sosio-kultural.

Ketua LIPI Umar Anggara Jenie mengatakan tujuan pembuatan buku ini adalah sebagai tanda cinta dan penghargaan kepada Yo Abdurachman, yang selalu mengingatkan akan adanya warisan budaya yang harus dilestarikan oleh kaum muda.

“Buku ini merupakan biografi singkat Ibu Yo dan ada pula tulisan-tulisan Bu Yo yang terfokus pada warisan tradisional Indonesia, khususnya daerah Cirebon,” kata Umar Anggara Jenie.

Semasa hidupnya, Yo Abdurachman merupakan salah satu perempuan peneliti generasi pertama di Lembaga Research Nasional (cikal bakal LIPI).

Ia pernah menjabat sebagai pembantu Pemimpin Badan Pembantu Pradjurit Pekerdja pada tahun 1944-1945, juga salah seorang penerjemah UUD 45 ke dalam bahasa Inggris, serta dikenal sebagai pencetus munculnya Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Dalam laman resmi LIPI disebutkan, karya-karya Yo Abdurachman memperlihatkan kemajuan pikirannya sebagai perempuan, mencerminkan jiwa yang bebas yang tidak terkungkung oleh batas-batas budaya yang kaku, bahkan mampu menembus dimensi ruang dan waktu.

Hal tersebut merupakan suatu kelangkaan pada zamannya. Buku “Perempuan Mendahului Zaman” merupakan buku kedua setelah “Bunga Angin Portugis di Nusantara” yang diluncurkan pada tahun 2008.

Beberapa karya Yo Abdurachman yang terangkai dalam buku ini merefleksikan perhatiannya pada budaya masa lalu.

Bagi perempuan yang selalu memakai kebaya dan kain batik ini, warisan masa lalu merupakan a living tradition yang perlu diteruskan karena merupakan karakteristik bangsa.

Tulisan Yo Abdurachman pada umumnya menggambarkan tentang kontinuitas dan perubahan dalam bidang sejarah, tradisi, dan seni agar rakyat Indonesia bisa menghargai asala-usul, perbedaan, dan keragaman.[*/ito]

*) Dikronik dari inilah.com, 1 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan