-->

Kronik Toggle

Lasmi Singgah 2 Jam di Newseum Indonesia

JAKARTA — Hanya dua jam Lasmi di ruang Newseum Indonesia (8/3). Tidak sedang menggalang kembali sisa kekuatan di Jakarta Pusat, sebagaimana optimisme tentang Masyarakat Sosialis Raya yang diimpi-impikan saat Gerwani (desa/kota, pusat/ranting) berada pada etape Revolusi harus segera diselesaikan. Lasmi hanya beramah tamah. Tentang niat, tentang cita-cita. Juga empatik kepada dia yang ingin membikin sekolah di desa.

Nusya Kuswantin–yang menjadi juru bicara penuh dan pembela si “bisu” Lasmi–dalam testimoni pengantarnya mengatakan “ramah tamah” ini sekadar ingin berbagi nasib perempuan-perempuan Indonesia seperti Lasmi yang menjadi paria di negeri ibunya sendiri. Cok Sawitri, pengarang Janda dari Jirah dan Sutasoma, juga memberikan apresiasi atas pilihan Nusya membawa Lasmi kembali ke masyarakat walau dengan beberapa catatan.

“Halaman-halaman awal sempurna. Halaman-halaman belakang terlihat Nusya tergesa-gesa,” kata Cok. Cok, seperti diakui Syafruddin Azhar dari Kaki Langit Kencana yang sekaligus moderator, adalah penghubung antara Nusya dan penerbit. Tidak lupa Syaf menceritakan secara blak-blakan bagaimana dia ciut mengeditori Lasmi lantaran didebat oleh Nusya.

“Masalah yang ‘sret… sret’ (upacara pembantaian) itu saya sudah usulkan kepada Nusya tambah lima puluh halaman lagi. Jangankan nambah, soal titik dihitung,” cerita Syaf. Dan cerita itu diakui Nusya sekaligus memberi sekuplet keterangan tambahan, “Bagaimana saya harus menambahi 50 halaman lagi. Saya harus mempersiapkan diri betul-betul. Perasaan harus penuh. Kembali sendiri. Dan itu tak mudah.” 

Memang menulis novel tak mudah. Apalagi mendatangkan pembaca yang berlimpah-limpah. Tak banyak memang yang datang untuk persinggahan Lasmi. Juga suara menghardik Lasmi sudah tak segarang di luar sana, di luar gedung in di mana Westerling dan Sultan Hamid II pernah membuat permufakatan melancarkan “Revolusi Pejambon” yang gagal pada 1952 itu.

Ya, Lasmi memang pernah disidang Dewan Pembaca Indonesia Buku. Dihardik. Diapa-apain. Tapi di Newseum Indonesia, kantor pusat Indonesia Buku, Lasmi diterima secara terbuka dengan beberapa alasan. Taufik Rahzen yang bertindak sebagai tuan rumah menilai usaha Nusya membawa kembali Lasmi ke masyarakat ini harus diberikan tempat lantaran kita sudah kehilangan sastra yang memberi ruang bagi desa-desa lantaran ditabukan lantaran dihancurkan. Ini sastra yang tak berpretensi untuk memintari. Mestinya di sana Lasmi diposisikan. Lasmi berupaya mengembalikan kembali kedaulatan desa.

“Ketimbang September karya Noorca M Massardi, karya Nusya ini lebih menyentuh,” ujar Taufik. Sekaligus pandangan Taufik Rahzen ini adalah suara liyan dari Indonesia Buku. (GM/Kitabuku.com)

1 Comment

matahari - 10. Mar, 2010 -

LASMI,
Membawa kita kembali ke masa di mana saat matahari merekah, warga kembali merasa ketakutan dan malam hari terasa sangat mencekam, gelap tidak hanya di luar, di dalam rumahpun sulit untuk bergerak dalam kegulitaan. Warga terpaksa memadamkan lampu demi keselamatan keluarga sendiri. Tembok bagian depan rumah kita tuliskan “NU” besar-besar, agar truk-truk pencabut nyawa tidak datang menciduk keluarga kita untuk dieksekusi ……
Suasana tak menentu ……., rakyat kebingungan …
Hem …. Oktober 1965 di sebuah kota kecil di dekat Malang ….
LASMI
Membuka mata kita yang terlupa – sejarah hitam di negeri kita ….

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan