-->

Kronik Toggle

Kuliah Publik dan Bedah Buku DM

http://www.krjogja.com/news/detail/24121/Akademi.Sastra-Esaias.Sastra.Butuh.Jalan.Tengah.html
Akademi Sastra-Esaias Sastra Butuh Jalan Tengah
Minggu, 14 Maret 2010 11:02:00
Damhuri Muhammad (Foto:Denny Hermawan)
YOGYA (KRjogja.com) – Beberapa tahun belakangan terakhir, akademisi sastra dan esais sastra di indonesia tidak pernah ‘rukun’ terkait terbitnya ulasan novel kontroversial Adam-Hawa karya Muhidin M. Dahlan.
Hal ini menimbulkan perlawanan dari kalangan akademisi sastra. Bahwa pengulas mengabaikan aspek metodologis, tumpul pisau analisisnya, yang menyebabkan ulasan tidak mendalam. Ironisnya, sebagian besar peneliti sastra yang berlatar belakang akademik dan menguasai aspek metodologis justru tidak tekun menyiarkan ulasan mereka di media publik.
Demikian disampaikan oleh Esaias dan penulis buku, Damhuri Muhammad ketika menjadi pembicara di dalam Kuliah Publik Jalasutra, Sabtu (13/3) malam di gedung JEC Yogyakarta. Kuliah yang bertema Akademisi Sastra vs Esais Sastra: Mencari Jalan Tengah ini merupakan salah satu rangkaian acara pameran buku IKAPI DIY, yang diselenggarakan Penerbit Jalasutra.
Menurutnya, para penyuka sastra membutuhkan pemahaman yang komprehensif terhadap teks-teks sastra yang digandrungi. Namun tidak ada akedemisi sastra yang terpanggil melakukannya. Kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh para esais sastra jalanan di koran minggu.
Damhuri menjelaskan sebagian besar esais sastra sama sekali tidak memiliki latar belakang kelimuan sastra. Namun memiliki ketrampilan tulis dalam menggarap esai kajian sastra, sehingga disambut hangat penyuka sastra. Tak jarang menurutnya polemik dan perdebatan sengit mengemuka diantara akademisi sastra dan esais sastra. Misalnya, lanjut Damhuri esai bertajuk ‘Romantika Pasca-Enam Lima”‘ di salah satu koran nasional yang mengulas cerpen Mati Baik-Baik, Kawan!, karya Martin Aleida.
“Esai saya dianggap Mikael Johani, seorang akademisi sastra sebagai tulisan yang tidak memiliki basis historis, dangkal, dan tidak layak diperbincangkan sebagai kajian ilmiah. Polemik kami di facebook dikomentari lebih dari 300 orang,”ujarnya.
Di kesempatan ini, dilakukan peluncuran ‘Darah-Daging Sastra Indonesia’ karya Damhuri. Buku ini mengulas mengenai perjalanan kesusastraaan Indonesia sejak zaman Balai Pustaka, disertai berbagai kritik sastra yang menyertainya. (Den)

YOGYAKARTA–Beberapa tahun belakangan, akademisi sastra dan esais sastra di indonesia tidak pernah ‘rukun’ terkait terbitnya ulasan novel kontroversial Adam-Hawa karya Muhidin M. Dahlan.

Hal ini menimbulkan perlawanan dari kalangan akademisi sastra. Bahwa pengulas mengabaikan aspek metodologis, tumpul pisau analisisnya, yang menyebabkan ulasan tidak mendalam. Ironisnya, sebagian besar peneliti sastra yang berlatar belakang akademik dan menguasai aspek metodologis justru tidak tekun menyiarkan ulasan mereka di media publik.

Demikian disampaikan oleh Esaias dan penulis buku, Damhuri Muhammad ketika menjadi pembicara di dalam Kuliah Publik Jalasutra, Sabtu (13/3) malam di gedung JEC Yogyakarta. Kuliah yang bertema Akademisi Sastra vs Esais Sastra: Mencari Jalan Tengah ini merupakan salah satu rangkaian acara pameran buku IKAPI DIY, yang diselenggarakan Penerbit Jalasutra.

Menurutnya, para penyuka sastra membutuhkan pemahaman yang komprehensif terhadap teks-teks sastra yang digandrungi. Namun tidak ada akedemisi sastra yang terpanggil melakukannya. Kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh para esais sastra jalanan di koran minggu.

Damhuri menjelaskan sebagian besar esais sastra sama sekali tidak memiliki latar belakang kelimuan sastra. Namun memiliki ketrampilan tulis dalam menggarap esai kajian sastra, sehingga disambut hangat penyuka sastra. Tak jarang menurutnya polemik dan perdebatan sengit mengemuka diantara akademisi sastra dan esais sastra. Misalnya, lanjut Damhuri esai bertajuk ‘Romantika Pasca-Enam Lima”‘ di salah satu koran nasional yang mengulas cerpen Mati Baik-Baik, Kawan!, karya Martin Aleida.

“Esai saya dianggap Mikael Johani, seorang akademisi sastra sebagai tulisan yang tidak memiliki basis historis, dangkal, dan tidak layak diperbincangkan sebagai kajian ilmiah. Polemik kami di facebook dikomentari lebih dari 300 orang,”ujarnya.

Di kesempatan ini, dilakukan peluncuran ‘Darah-Daging Sastra Indonesia’ karya Damhuri. Buku ini mengulas mengenai perjalanan kesusastraaan Indonesia sejak zaman Balai Pustaka, disertai berbagai kritik sastra yang menyertainya.

Sumber: KRJOGJA.COM, 14 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan