-->

Kronik Toggle

Kuak Budaya Madura lewat Antologi Cerpen

Jember – Budaya keras dan kasar seakan menjadi image yang melekat pada orang Madura. Namun, hal itu bisa diungkapkan secara lebih indah dan estetik oleh seorang pemuda asal Madura, Mahwi Air Tawar dalam antologi cerpennya yang berjudul Mata Blater yang juga menjadi bahan diskusi budaya di aula Lembaga Penelitian Universitas Jember, kemarin.

Dalam diskusi budaya tersebut, Mahwi menuturkan keakrabannya terhadap darah yang dihasilkan akibat pertikaian atau pertengkaran dengan beragam persoalan yang ada. “Sejak kecil saya sangat akrab dengan budaya carok (bertengkar dengan menggunakan celurit). Bahkan, ketika saya masih duduk di bangku kelas tiga SD, saya sudah pernah melihat perut seorang istri ditusuk oleh suaminya ketika mereka bertengkar,” katanya.

Hal itulah, kata dia, yang mendasari pembuatan karya-karya tulisnya. Di balik itu semua, Mahwi bertekad ingin menunjukkan budaya Madura secara estetik.

“Meski saya mengiyakan kekerasan sangat mendarah daging dalam diri kami, orang Madura. Namun saya dendam kalau ada orang yang mengatakan, orang Madura itu hanya bisa carok,” ujarnya.

Dikatakan, meski karya-karyanya yang mengangkat etnis budaya Madura sempat dimusuhi oleh beberapa seniman Madura karena kata-kata dalam karyanya dianggap menelanjangi orang Madura, Mahwi tak pernah putus semangat mengupas budaya daerahnya lebih detail melalui karyanya. Baik dalam bentuk puisi maupun cerpen.

“Saya pernah diancam agar tidak datang ke Madura selama beberapa lama, karena tulisan-tulisan saya dianggap terlalu berani menelanjangi orang Madura secara keseluruhan. Namun, hal itu saya anggap sebagai sebuah apresiasi,” paparnya.

Lelaki kelahiran Sumenep pada 1983 silam ini tetap berusaha menunjukkan kepada publik tentang citra seorang blater (sebutan dalam bahasa Madura yang berarti jagoan) bukanlah seorang pembuat onar. Namun, kata Mahwi, blater adalah seseorang yang berani mati demi harga diri dan demi keberlangsungan hidup yang damai antar sesama serta demi keberlangsungan tradisi yang diyakini kebenarannya. “Ini juga sekaligus mengupas pergolakan masyarakat Madura dalam mempertahankan identitas tradisi dan menegakkan jati diri di era modernisasi,” pungkasnya. (fit)

*) Dikronik dari jawa pos, 6 Maret 2010

1 Comment

Aufal Wong - 20. Agu, 2010 -

Perkenalkan Madura lewat karya sastra, saya bangga banget dengan mas Mahwi. Selamat buat Mahwi Air Tawar atas beberapa cerpennya yang gak ecek-ecekan…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan