-->

Tokoh Toggle

Kristiani Herawati:Ibu Negara, Ibu Buku

ani sbyBeijing, China, 31 Juli 2007, Ibu Negara Kristiani Herawati Yudhoyono berpidato di atas mimbar sidang UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization). Ia memutar film untuk memaparkan fakta-fakta dan hasil yang bisa dicapai program perpustakaan keliling Indonesia Pintar melalui sarana mobil pintar, motor pintar, kapal pintar, dan rumah pintar. Pihak UNESCO pun terpikat. Program Ani dianggap sebagai suatu kegiatan pemberantasan buta aksara dan memberikan pendidikan bagi masyarakat yang tak terjangkau.

UNESCO sendiri miliki program Pemberantasan Buta Huruf se-Dunia (UNESCO Regional Conferences in Support of Global Literacy). Dan mobil pintar/motor pintar dianggap sesuai untuk menjangkau daerah terpencil. Setahun kemudian UNESCO menerapkan program serupa di delapan negara, seperti Brasil, India, Mesir, China, Nigeria, Meksiko, Banglades, dan Pakistan.

Indonesia Pintar adalah program perpustakaan keliling gagasan Ani yang digarap bersama para istri kabinet Indonesia Bersatu (Jilid I). Dibantu oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan organisasi Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Ani mengusung semboyan “Gemar membaca untuk meraih cita-cita”.

Tujuan program ini adalah mendekatkan buku pada para pembacanya, terutama anak-anak. Dengan pertimbangan letak geografis Indonesia dan kemudahan akses, dipilihlah mobil dan motor yang ditata sedemikian rupa sehingga menjadi perpustakaan yang dilengkapi sarana belajar inovatif.

Langkah pertama dimulai dengan mobil pintar. Sarana belajar dalam Mobil Pintar meliputi buku bacaan yang 85% untuk anak-anak, CD interaktif, arena panggung dan perangkat komputer jenis laptop, serta arena permainan edukatif.

Di situ anak akan di pandu tutor untuk melakukan kegiatan membaca buku dan mendengarkan cerita, membaca dan menonton secara interaktif melalui layar komputer, menonton VCD secara pasif melalui monitor, bermain dengan pelbagai alat permainan edukatif, bermain peran dan berkesenian di panggung serta berapresiasi menonton kegiatan tersebut di panggung mini.

Ternyata program Mobil Pintar diminati anak-anak dan orang tua. Kemudian dibuatlah Motor Pintar. Konsepnya tak jauh beda dengan mobil pintar, hanya saja operasionalnya menggunakan sepeda motor. Dengan Motor Pintar jangkauan pelayanan perpustakaan keliling dapat menjangkau daerah-daerah terpencil di pedesaan.

Lain untuk daerah-daerah yang terpisah oleh sungai atau laut. Untuk kawasan seperti itu ada program kapal pintar. Keberadaan kapal pintar dapat mengantarkan buku ke hadapan anak-anak laut dan mereka yang di pedalaman sungai hutan-hutan tropis Indonesia.

Dukungan dari masyarakat sekitar lokasi tujuan mobil pintar kemudian melahirkan ide membuat Rumah Pintar. Secara konsep tak jauh berbeda, hanya saja sifatnya permanen/tidak bergerak. Rumah pintar lebih mendekati perpustakaan kampung yang dikelola secara kreatif sehingga menjadi tempat belajar masyarakat dari segala lapisan usia.

Program ini ternyata mendapat sambutan luas dari masyarakat. Beberapa perusahaan yang memiliki CSR sevisi dengan Indonesia Pintar menawarkan kerjasama. Dukungan dari luar negeri pun berdatangan. Salah satunya dari Yayasan Sabre Foundation, the International Educaton Foundation (IIEF) Jakarta, serta KBRI Washington DC. Mereka menyerahkan ribuan buku anak-anak berbahasa Inggris. Buku-buku tersebut akan disebarkan ke pelbagai sekolah di Indonesia, terutama yang berada di luar Jawa.

Tahun 2009, pengiriman buku anak-anak akan dilakukan melalui dua kontainer melalui perjalanan kapal laut. Masing-masing kontainer mengangkut sekitar 27.000 buku dan alat peraga pendidikan. Untuk biayanya, Departemen Pendidikan Nasional menanggung biaya pengiriman satu kontainer, sementara pengiriman kontainer lainnya dibiayai Ancora Foundation.

Sementara itu, Yayasan Sabre sendiri telah mengirimkan buku untuk Indonesia pada 2005, 2006, serta 2008 dengan jumlah total 103.283 buku atau senilai Rp 2,9 juta dolar AS. Buku-buku tersebut diangkut dengan delapan kontainer. Menurut yayasan tersebut, rata-rata jumlah pengiriman buku oleh pihaknya ke seluruh dunia setiap tahunnya mencapai 35 kontainer. Namun, pengiriman buku ke Indonesia setiap tahunnya baru mampu dilakukan paling banyak enam kontainer.

Melalui mobil pintar yang diluncurkan pertama kali pada 15 Mei 2005 kini telah berkembang menjadi 50 mobil pintar, 435 motor pintar, 185 rumah pintar, dan 3 kapal pintar.

Mobil pintar juga membawa nama Indonesia harum di Lebanon. Melalui putranya, Agus Harimurti yang ditugaskan di Lebanon sebagai pasukan perdamaian PBB, mobil pintar menyapa anak-anak di Lebanon. Mobil pintar memiliki unsur pendidikan dan kesehatan. Strategi ini dirasa tepat sasaran untuk anak-anak di daerah konflik yang minim pendidikan dan hiburan. Melalui buku-buku yang diusung mobil pintar, anak-anak Lebanon dapat mengobati trauma mereka akan peperangan. Dan buku-buku itu berasal dari sumbangan sesama Muslim yang tinggal di kawasan tenggara: Indonesia. Dan Ani telah menjadi jembatannya.

Ani memang dibesarkan oleh seorang pecinta Buku. Ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo adalah seorang tentara yang menyukai buku. Sarwo Edhie gemar membaca sejak masih remaja. Ia belajar mengenai Jepang dari membaca koran-koran tua. Hingga ketika menjadi tentara pun kebiasaan membaca itu tak bisa ditinggalkannya.

Ketika Ani menikah dengan Susilo Bambang Yudhoyono, ternyata ia menikahi seorang pencinta buku pula. Setelah ayah Ani meninggal, SBY meminta izin pada ibu mertuanya untuk merawat buku-buku peninggalan almarhum. Sarwo Edhie dahulunya ingin memiliki sebuah perpustakaan pribadi yang besar dengan taman yang luas. Keinginan itu diwujudkan Ani dan SBY dengan membangun ruang khusus di rumahnya, kawasan Puri Cikeas, Cibubur, Jawa Barat. Ruang ini berfungsi sebagai ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadi dengan 13 ribu koleksi.

Menurut Ani, buku adalah salah satu pintu gerbang kemajuan peradaban suatu bangsa. Sebuah bangsa, tidak akan unggul dan tidak memiliki daya saing tanpa gairah membaca buku. Ada keterpaduan ilmu dan agama yang akan membimbing manusia ke dunia akhirat.

Karena itu, Ani pun menyeru, mengajak masyarakat untuk menyumbangan sebagian buku yang mereka miliki kepada masyarakat yang tidak mampu. Menurut Ani, beramal melalui buku nilainya sama dengan beramal dengan bentuk amal lain, seperti memberikan sumbangan uang atau dana. Apabila kita mengamalkan buku, maka amal kita akan terus berada selama buku itu dibaca.

Ani sebagai ibu negara telah menunjukkan bahwa ia pula seorang ibu buku. Ani  memberikan sarana untuk membagi pengetahuan rakyat dengan cara mendirikan perpustakaan keliling di seluruh Indonesia. Dengan buku pula, ia bawa Indonesia ke panggung dunia. (Diana AV Sasa)

1 Comment

hepy yudo hartoto - 11. Sep, 2010 -

asalamualaikum…ibu ani yg sy hormati,,saya sangat mendukung dan merasa bangga punya ibu negara sprti ibuk.tapi walaupun sudah bagus,saya ingin program ini bs menyentuh sampai tingkat desa saya.saya tinggal di batang di daerah alas roban.saya sudah merintis perpustakaan gratis untuk desa saya,referensi buku saya cari dr teman2,kantor2,dan orang yg mau menyumbangkan buku,tp saya kira utk meningkatkan minat baca semua kalangan dr anak2 sampai usia sepuh saya ingin menambah koleksi buku dr berbagai bidang[pertanian,perikanan,agribisnis].dll,apakah ibuk ANI bisa bantu saya…bagaimana caranya..??matur sembah nuwun ibuk…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan