-->

Kronik Toggle

Krakatau Award Kembali Digelar

LAMPUNG-Dewan Kesenian Lampung (DKL) kembali menggelar Krakatau Award 2010. Untuk tahun ini, penghargaan diberikan kepada empat penulis cerita pendek (cerpen) terbaik, serta enam nomine karya cerpen.

Koordinator Krakatau Award 2010 Isbedy Stiawan ZS didampingi sekretaris Arman AZ, di Jakarta, Minggu (7/3), mengatakan, lomba Krakatau Award 2010 ini bertema ”Lampung: Lokal-Global”, di mana cerpen harus bersandar pada nilai-nilai adat, seni budaya, atau dunia wisata yang ada di Lampung. Bagaimana peran lokalitas dalam berhadapan dengan globalisasi yang tak bisa dihindari.

Menurut Isbedy, panjang cerpen maksimal 10 halaman kuarto, 1 spasi, jenis huruf Times New Roman 12, usia peserta minimal 17 tahun, dan bisa mengirim 3 cerpen. Setiap karya disertai kartu identitas juga biodata atau keterangan lain tentang penulis pada lembar terpisah. Ketua Umum DKL Syafariah Widianti mengatakan, DKL konsisten menghargai karya seni. antara lain, melalui lomba penulisan puisi dan cerpen. Menurut dia, tak tertutup kemungkinan di masa mendatang DKL akan memberi penghargaan atas karya novel, serta esai sastra-budaya. (NAL)

Pertanian Besar Berpotensi Cemari Lingkungan

Rencana Pemerintah Indonesia membangun food estate berupa tanaman kelapa sawit, kedelai, tebu, dan padi seluas 1,6 juta hektar di Kabupaten Merauke, Papua, berpotensi mencemari lingkungan savana itu dengan herbisida. Manajer Kampanye Air dan Pangan Walhi M Islah dalam siaran persnya mencontohkan pertanian kedelai berskala besar di Brasil yang mencemari lingkungan secara signifikan.

”Pada Maret 2006, ribuan anggota masyarakat di Negara Bagian Mato Grosso, Brasil, jatuh sakit karena pesawat bermesin tunggal menyemprotkan herbisida di atas hamparan tanaman kedelai. Angin menyebarkan herbisida ke seluruh kota, menghancurkan kebun, pohon buah, tanaman hias, tanaman obat, dan tanaman petani kecil. Masyarakat mengalami diare, muntah, dan ruam kulit,” katanya.

Islah menegaskan, seharusnya pemerintah lebih memerhatikan pertanian berbasis rumah tangga yang ramah lingkungan. ”Redistribusi lahan harus dilakukan. Petani di Brasil, misalnya, rata-rata memiliki 5 hektar lahan,” katanya. (ROW)

*) Dikronik dari koran Kompas, 8 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan