-->

Lainnya Toggle

Katrin Bandel: “Saya Menuduh Dwi Susanto Ceroboh”

WEB-Mariah-depanBerikut saya akan memberikan beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa Dwi Susanto sering menggunakan referensi dengan cara yang tidak semestinya. Agar lebih jelas tepatnya penyalahgunaan semacam apa yang dilakukan Dwi Susanto, saya terpaksa membahas keempat kasus yang ingin saya jadikan contoh di bawah dengan cukup mendetail. Hal yang memperumit persoalan adalah bahwa dalam semua kasus itu, Dwi Susanto bukan hanya menggunakan hasil penelitian orang lain tanpa menandakannya sesuai dengan kelaziman di dunia akademis, tapi dia juga menyalin atau meniru tulisan tersebut dengan ceroboh sehingga penuh dengan kekeliruan.

KASUS 1:

Sebagai semacam pengantar umum mengenai Hikayat Siti Mariah Dwi Susanto menjelaskan di bab 1:

“Meskipun menggunakan judul hikayat, cerita ini dapat digolongkan ke dalam genre sastra modern karena ditulis atas nama dan dengan tanggung jawab pribadi, bukan atas tanggung jawab kebersamaan tradisional. Cerita ini juga terbebas dari bentuk pengucapan tradisional atau tidak lagi ‘memamah biak’ dan di bawah bayang-bayang Mahabharata, Ramayana, hikayat berbingkai Panji, hikayat berangkai Sayidina Ali. (Toer, 2003: 25-26).” (hlm. 8-9)

Karena tidak ada bagian dari kalimat Dwi Susanto yang ditandai sebagai kutipan langsung, timbul kesan bahwa rujukan pada tulisan Pramoedya (yaitu pengantar Hikayat Siti Mariah terbitan Lentera Dipantara) dimaksudkan sekadar sebagai sumber informasi. Namun kalau kita memeriksa tulisan Pramoedya yang dirujuk tersebut, akan kelihatan bahwa kedua kalimat tersebut hampir sepenuhnya (kata per kata) diambil dari tulisan Pramoedya, terutama mulai dari “atas nama dan dengan tanggung jawab pribadi”. Yang berubah hanya tanda baca dan beberapa hal kecil lainnya, kemungkinan besar disebabkan kecerobohan dalam menyalin, misalnya “hikayat berangkai Panji” menjadi “hikayat berbingkai Panji” dan “bentuk dan pengucapan tradisional” menjadi “bentuk pengucapan tradisional”. Di samping itu, Pramoedya mengatakan bahwa Hikayat Siti Mariah “masuk dalam kategori modern” (Hikayat Siti Mariah, hlm. 25), sedangkan Dwi Susanto mengubah kalimat itu menjadi pernyataan bahwa Hikayat Siti Mariah “dapat digolongkan ke dalam genre sastra modern” – sejak kapan “sastra modern” merupakan sebuah genre?

KASUS 2:

Di bagian lain di bab 1 terdapat pembahasan singkat mengenai sebuah teks Melayu Lingua Franca yang lain, yaitu “Kota Medan Penoe Dengen Impian”. Di situ Dwi Susanto mengatakan:

“Pembaca pun akan dikagetkan dengan deskripsi yang diletakkan dalam penjelasan untuk satu kejadian tertentu. Sebagai contoh gambaran cerita Kota Medan Penoe Dengen Impian akan ditemukan perkataan berikut, “Sesoedanja oetjapken itoe perkatahan, itu tandil jang sedeng birahi laloe redjeng pada Ros Mina [boeat dilontop toeroeknja saman] (Sesudah mengucapkan kata-kata itu, itu mandor yang sedang amat bernafsu (birahi) pada Mina [Ia menunjukkan kontolnya (penis) untuk dimasukkan ke dalam vaginanya (Ros Mina)].” (hlm. 6-7)

Cerita tersebut sudah diterbitkan ulang sebagai bagian dari seri Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (dimuat di jilid 7, 2003). Apabila kita membaca cerita tersebut di sana, kita tidak akan menemukan kata “boeat dilontop toeroeknja saman” yang disebut di atas (lihat Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia jilid 7, hlm. 377). Hal itu sama sekali tidak mengherankan, sebab kata tersebut memang bukan bagian dari cerita itu. Kata “boeat dilontop toeroeknja saman” adalah coretan seorang pembaca yang ditemukan Brenda Fane pada salah satu ekemplar teks tersebut, seperti yang dilaporkannya dalam sebuah artikel berjudul “Transgressing The Boundaries of Bangsa: An Examination of Soesa In Malay Language Njai Stories” (Rima 31/2, 1997). Meskipun dalam alinea berikut Dwi Susanto menyebut tulisan Fane tersebut, dia tidak mengindikasikan sama sekali bahwa informasi mengenai komentar jorok “dilontop toeroeknja saman” itu didapatkannya dari tulisan tersebut. Dan seperti dalam kasus pengambilan kalimat Pramoedya di atas, bukan hanya referensi tidak disebutnya, penyalinan alias plagiat tersebut pun dilakukan dengan ceroboh. Coretan pembaca dianggapnya sebagai bagian dari teks. Dan terjemahan Fane terhadap coretan itu pun disalahpahaminya. Terjemahan Fane adalah “he shoved his cock into her vagina” – kata “shove” tidak sama dengan “show”, mengapa diterjemahkan menjadi “menunjukkan”?

KASUS 3:

Di alinea berikut barulah Dwi Susanto merujuk pada tulisan Fane, yaitu untuk “mengoreksi” tulisan tersebut. Fane “mengatakan kalau [sic!] cerita ini belum diketahui identitas penulisnya” (hlm. 7). Namun Dwi Susanto rupanya lebih tahu: “sebenarnya cerita ini ditulis oleh Juvenile Kuo atau Kwee Seng Tjoan atau Neptuhus” (hlm. 7). Dari mana dia mendapatkan informasi yang “sebenarnya” tersebut, tidak diterangkannya. Menurut dugaan saya, kemungkinan besar dia mendapat informasi itu dari antologi Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia, sebab di situ ketiga nama pengarang itu memang disebut. Namun sekali lagi Dwi Susanto salah menyalin: Nama yang ketiga bukan Neptuhus, tapi Neptunus!

KASUS 4:

Berkaitan dengan identitas Haji Mukti, Dwi Susanto menyebut “penyelidikan yang dilakukan oleh seorang profesor di Leiden yang menyelidiki arsip-arsip tentang Sondari dan kontrolir Kedu Elout van Hogerveldt” (hlm. 11), tanpa memberikan referensi apa pun. Sudah jelas informasi tersebut diambilnya dari pengantar Hikayat Siti Mariah yang ditulis oleh Pramoedya. Di situ Pramoedya mengatakan: “Seorang mahaguru Belanda dengan nama internasional, pernah minta pada salah seorang mahasiswanya untuk melacak Haji Mukti alias Sondari di Arsif Leiden. Jangankan tentang dia, tentang Kontrolir Kedu Elout van Hogenveldt pun tiada terdapat dalam salah selembar dokumen di situ.” (Hikayat Siti Mariah, 2003, hlm. 20).

Salam,

Katrin

1 Comment

IBOEKOE - 14. Mar, 2010 -

Nisa Elvadiani: huakakakakak aq baca uraiannya tante katrin sambil ngakak guling2 :p

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan