-->

Lainnya Toggle

HIKAYAT SITI MARIAH (DS): TANGGAPAN DEWAN

Anggota Dewan: Katrin Bandel | Zen RS | Eri Irawan | Ahmad Subhan | Muhidin M Dahlan (moderator)

WEB-Mariah-depanPramoedya Ananta Toer (PAT), salah seorang tokoh terdepan dalam sejarah sastra Indonesia, dihajar habis-habisan dalam buku besutan Dwi Susanto (DS) ini. Dengan gahar DS menuduh Pram sebagai ”pemerkosa-penyelingkuh” terkait pengeditan yang dilakukannya atas Hikayat Siti Mariah (HSM) karya Hadji Mukti.

Di buku itu, tuduh DS, PAT melakukan penyuntingan, penambahan, pengurangan, perubahan diksi-diksi dan mengganti jenis ejaan yang menyebabkan HSM mengalami perubahan gaya, suasana, nuansa, dan lain-lain.

Dan tanpa ragu DS menilai bahwa PAT sudah salah langkah, anarkis, dan tercela. Sekilas DS tampak sangar, tapi sayang buku ini kelewat nafsu tanpa punya daya yang cukup untuk menjelaskan argumentasinya kemudian.

Kelemahan dan lemahnya argumentasi yang dipapar DS ini disetujui seluruh semua anggota Dewan Sidang. Lihatlah, seru Katrin Bandel, DS dalam bukunya melakukan klaim yang sangat provokatif, yaitu bahwa PAT “memperkosa” teks HSM yang dieditnya, dalam arti mengubah teks tersebut sehingga sesuai dengan ideologi marxis.

Namun tidak satu pun dari contoh perubahan teks yang dibahas DS itu untuk “membuktikan” klaim tersebut. Menurut penilaian Katrin, PAT sekadar melakukan apa yang dijanjikannya dalam pengantar HSM, yaitu menyesuaikan bahasanya dengan bahasa Indonesia masa kini dan menghilangkan pengulangan.

Namun pembaca yang belum pernah membaca HSM secara langsung mungkin saja akan tertipu oleh argumentasi DS. Penulis ini menunjukkan bahwa adegan, kalimat, dan kata tertentu dihapus oleh PAT. Dengan demikian, menurut argumentasi DS, hilang pula pesan dan nuansa tertentu dari teks itu secara keseluruhan. Tapi pada kenyataannya pesan dan nuansa tersebut sudah hadir di bagian-bagian teks yang lain; apa yang dihapus PAT hanyalah pengulangannya!

“Itu bukan satu-satunya penipuan yang dilakukan Dwi Susanto. Terutama di bab 1 Dwi sering menggunakan tulisan orang lain tanpa menandakannya dengan jelas, termasuk tulisan Pramoedya. Dengan demikian, hasil riset dan pembahasan orang lain ditampilkannya seakan-akan merupakan hasil penelitiannya sendiri,” kata Katrin (lihat 4 bukti kecerobohan DS).

Ada kesan, kata Zen RS, DS “terborgol” oleh semangatnya sendiri untuk membuktikan “estetika perselingkuhan” (istilah apa sih itu?) yang dilakuan PAT. Karena “terborgol” oleh semangatnya itulah, DS –di beberapa bagian—tampak memaksakan diri untuk berargumen.

Zen lalu membedah halaman-halaman yang “memborgol” DS itu. Di halaman 145 DS menyidik “ulah” PAT yang menghilangkan kutipan ketiga yang ada di hal. 143 dan lantas DS menyebut ulah itu sebagai upaya menghadirkan “oposisi di antara kedua golongan” yang mana hal itu akan mendukung “kerangka besar lainnya, yaitu realisme sosialis” (paragraf 3 dan 4 hal. 145).

Dan, kesimpulannya (seperti terbaca di hal. 148), “dengan menciptakan kelas sosial tertentu, narasi teks diarahkan pada paham pertentangan kelas… (dan) dijadikan alat untuk mengungkapkan dan menciptakan hubungan kelas-kelas sosial yang dimaksudkan oleh Marx.”

“Terus terang saja, cara DS membongkar dan menggeledah teks HSM versi PAT itu membikin saya ingat pada bagaimana Orde Baru –dengan mekso lan wagu—menderu-derukan klaim bahwa karya PAT itu mengajarkan teori pertentangan kelas, marxisme dan leninisme. Bedanya, Orde Baru menggunakan klaim itu untuk kemudian melarang karya-karya PAT, DS menyusun itu untuk membikin kesimpulan ‘PAT sebagai pemerkosa’ dan pelaku ‘estetika perselingkuhan’,” ujar Zen.

Yang agak menggelikan juga adalah ketika DS (antara halaman 189 sampai 192) mencoba mengaitkan pola plot HSM versi PAT dengan plot dari Cerita Panji. Masih agak bisa diterima saat DS lantas berargumen bahwa plot ala Cerita Panji itu digunakan PAT agar pembaca yang “terdidik dalam plot dalam folklore” mudah memahami HSM. Dan anehnya,  pola itu akan mengarahkan pembaca pada konsep “realisme sosialis”.

Lompatan-lompatan argumen itu yang menurut Zen dipaksakan. Zen jadi ragu apakah DS membaca karya-karya PAT lain, sebutlah itu Tetralogi Buru atau Gadis Pantai atau Arus Balik atau apa sajalah. Jika sudah membaca karya-karya PAT yang lain, DS mestinya tidak kaget dan tidak gumun dengan jalinan plot yang sederhana, linier, tidak membolak-balikkan sekuen dan fragmen, dalam karya-karya PAT.

Menilik hal-hal di atas tak mengherankan kemudian jika DS doyan menggunakan frase-frase bombastis macam “estetika perselingkuhan” atau “Pram sebagai pemerkosa”. Keasyikan mengumbar tuduhan, DS pun tergelincir saat  ia menulis: “Polarisasi berkesenian yang dilakukan PAT tersebut mengakibatkan nada ‘kebencian’ kepada Cina.”

Zen jadi ragu apakah DS sungguh-sungguh pernah mendengar buku Hoakiau yang ditulis PAT; sebuah pembelaan penuh resiko dari PAT kepada etnik Tionghoa yang membuatnya dipenjara rezim Orde Lama. Tapi menilik bagaimana DS menulis kalimat di atas itu tanpa rujukan dari teks lain, artinya itu adalah tesis yang dibikinnya sendiri, padahal tak ada argumen sama sekali dari DS untuk menjelaskannya. Jadinya DS seperti “kerasukan” untuk menghadirkan belang-belang PAT.

Bukti royalnya DS menuding juga ditemukan Eri Irawan. Dalam pengeditan soal kata-kata yang ada hubungannya dengan Tuhan/agama, kata Eri, ringan saja DS mengatakan itu semua sebagai upaya PAT sebagai seorang Marxis untuk menjauhkan agama dari manusia.

“Kenapa DS tak menggeledah dengan serius soal kontradiksi ekonomi kalau memang mencari seberapa derajat kemarxisan Pram,” tukas Eri.

Anti Marxis

Lantaran itu, jelaslah, sebagaimana disimpulkan Katrin Bandel dan Eri Irawan, penguasaan DS atas teori marxis, teori pascakolonial, naratologi, dan lain-lain, sangat tidak memuaskan sehingga argumentasinya sering tidak masuk akal atau bahkan konyol.

Di awal DS sudah mengaok-ngaok akan memakai pendekatan kritik sastra marxis, namun dia kemudian hanya menjelaskan secara sekilas apa pandangan Marx tentang sastra, tanpa menyebut satu pun nama kritikus sastra marxis. Dan dalam bab-bab selanjutnya semakin jelas bahwa bukan kritik sastra marxis yang ingin digunakannya sebagai pendekatan.

“DS justru anti-marxis (seandainya dia marxis, mana mungkin dia mempertahankan istilah Orde Baru “G30S/PKI”?!), dan pengetahuan marxisme hanya diperlukannya sebagai bagian dari argumentasinya betapa PAT konon memasukkan ideologi maxis ke dalam Hikayat Siti Mariah!” ujar Katrin.

Seperti kata Ahmad Subhan, pembaca bisa bayangkan sendiri untuk mengukuhkan “teori marxis”-nya DS hanya mengampuh judul buku Frans Magniz dan Faruk sebagai landasan berpikir. “Waktu saya cari buku-buku referensi kritik sastra marxis, saya menemukan dua nama yang menurut saya wajib dirujuk DS, yakni Raymond Williams dan Terry Eagleton. Saya heran, berani sekali DS mengaku pakai kritik sastra marxis hanya dengan merujuk Frans Magniz dan Faruk.”

Fungsi Editor

Menurut Katrin, apa yang dilakukan PAT soal pengeditan kata dapat dibandingkan dengan penerjemahan karya Eropa lama ke dalam bahasa masa kini agar mudah dipahami pembaca, seperti yang misalnya dilakukan dengan karya Shakespeare. Bahasa Inggris kuno yang sulit dipahami, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang lebih baru, agar pembaca umum tetap dapat menikmati karya itu.

“Membaca contoh-contoh editing bahasa yang dilakukan oleh Pram dalam buku Dwi Susanto,” kata Katrin, “saya malah menjadi semakin kagum pada Pram. Betapa cermat dan hati-hati cara kerja Pram dalam penyesuaian bahasa tersebut.”

Misalnya salah satu penyuntingan yang dikeluhkan DS adalah bahwa Pram mengubah “bangsa Pribumi” menjadi “pribumi” (hlm. 100-103). Menurut Katrin, suntingan Pram justru sangat tepat. Kata “bangsa” pada masa kita memiliki makna yang sama sekali berbeda daripada yang di zaman kolonial ketika karya itu ditulis. Dalam teks-teks Melayu Lingua Franca yang dimaksudkan dengan kata “bangsa” kira-kira sama dengan apa yang kini kita sebut “ras”. Pembaca masa kini yang tidak mengetahui hal itu tentu akan mudah bingung atau salah paham, sehingga sudah tepat kalau kata “bangsa” itu dihilangkan.

Khususnya mengenai argumen DS bahwa bahasa sebuah teks lama tidak seharusnya diubah, perlu dipertimbangkan bahwa versi asli HAM yang terbit di koran Medan Prijaji (1910-12) sudah hilang dan tidak dapat diakses lagi. Versi yang digunakan DS sebagai pembanding adalah versi yang diterbitkan di “Lentera”/Bintang Timur (1962-65), yaitu versi yang sudah mengalami pengeditan bahasa.

Soal penggantian kata itu juga yang membikin DS menuduh PAT telah memaksakan ideologinya ke teks HSM. Eri mencontohkan ketika DS membandingkan antara kata ”tak dapat menguasai” dan ”tidak tahu (hlm 100-102). Kata ”tak menguasai” dimaknai DS sebagai bentuk ketidakmampuan seseorang setelah melakukan serangkaian usaha untuk mempelajarinya. Dalam konteks itu, seseorang sudah belajar bahasa Belanda, namun dia tak dapat menguasai bahasa itu. Sedangkan kata ”tidak tahu” diartikan ketidakmampuan seseorang dalam suatu bidang karena memang ”tidak ada usaha untuk mempelajari”. Betapa dipaksakan, bukan?

Membandingkan naskah HSM versi “Lentera”/Bintang Timur dan HSM versi Hasta Mitra dan Lentera Dipantara sudah menunjukkan DS salah menempatkan posisi bandingan. Sebab ketiga naskah itu semuanya diedit oleh PAT. Anih binti ajeb bukan? Beda misalnya jika DS membandingkan pergeseran editan Tirto Adhi Soerjo di Medan Prijaji di mana naskah ini pertama kali dimuat dengan bagaimana hasil naskah “Lentera”/Bintang Timur yang diedit PAT.

Apalagi DS ini berkali-kali bicara soal lenyapnya “nilai kesejarahan” teks asli HSM gara-gara penyuntingan PAT sementara ia sendiri tidak pernah membaca HSM versi Medan Prijaji. Menurut Zen RS, dalam studi historiografi, yang meniscayakan pentingnya sumber primer (dan yang primer dari HSM adalah yang tayang di Medan Prijaji), kasus macam ini tidak akan muncul, kecuali dosen DS memang geblek.

Jika itu terjadi (membaca naskah asli HSM versi Medan Prijaji), buku DS ini bisa memberi sedikit harapan. Paling tidak kita kemudian tahu pola dan tugas seorang editor antar masa paruh awal abad 20 dengan paruh tengah. Namun soal bagaimana sejatinya tugas editor juga lalai diberi tempat DS di buku ini. Lalu berharap di sebelah mananya? (GM/Iboekoe)

CATATAN: Awalnya Saut Situmorang menjadi salah satu anggota Dewan Sidang untuk edisi ini. Lantaran sudah “mual” membaca lima halaman pertamanya, akhirnya dioper kepada Katrin Bandel. Dikutipkan: “Wah ini buku sampah! Baru baca 5 halaman udah mual awak dgn bahasa dan klaim-klaim asersif yg dibuat penulisnya tanpa pembuktian referensial apapun! Buat apa sampah UGM ginian dibicarakan?! Penulisnya harus belajar dulu bagaimana menulis Kalimat Akademis yg baik dan benar sebelum belajar Teori Intertekstualitas! Dwi Susanto, Dwi Susanto… KEMBALIKAN GELAR S-2-MU ITU, SEGERA! DAN PERGI MINTA MAAF KEPADA PAK PRAM KE KARET!!!  … Karena mual dengan isi dan cara penulisannya, maka tempatku digantikan oleh Katrin Bandel yang memang jauh lebih sabar menghadapi obskuritas. Selamat berdiskusi!”

20 Comments

IBOEKOE - 14. Mar, 2010 -

Yusuf Risanto: saya telah membaca HSM terbitan HM, di kata pengantar PAT telah menguraikan beberapa hal terkait dgn editan yg telah PAT lakukan beserta argumen2 yg saya pikir sangat rasional..jangan2 DS tidak (malas?) membaca kata pengantar ini sehingga dengan sangat ceroboh menuduh PAT sbg “pemerkosa”

IBOEKOE - 14. Mar, 2010 -

Nazir Slm: saya agak kaget juga ketika dia dg entengnya menyebut param anti cina. buta sekali dia, mungkin dia belum pernah lihat buku pram -apalagi baca- hoakiao di indonesia. pembelaan terhadap etnis tionghoa di indonesia yang paling asasi dari seorang indonesia bernama pram.

IBOEKOE - 14. Mar, 2010 -

Filep Mambor: sadis benar tuduhan anti China kepada PAT, seorang yang dipenjarakan lantaran buku Hoakiau di Indonesia. (sambil geleng-geleng kepala keheranan)

IBOEKOE - 14. Mar, 2010 -

Zen Rs: Soal lain-lain itu –walaupun geblek– masih bisa dimaafkan. Tapi tuduhan PAT mengobarkan kebencian pada etnis Cina yang sangat teramat geblek. Bodoh betul. Minus bacaan. Kata kawanku, anak UNS juga, dia mungkin satu-satunya dosen sastra di UNS yg ga pernah baca Sitor Situmorang. Wakakakakaka….

halim hd. - 14. Mar, 2010 -

mungkin yang juga perlu dipertanyakan adalah pembimbingnya. kenapa pembimbingnya tidak melakukan re-chek atas data-data sejarah yang ada, dan terhadap apa yang ditulis oleh pram. tapi, dan ini mungkin spekulatif: jika anda atau siapa saja ingin jadi bahan gunjingan dan kontroversial, “lawanlah” orang-orang besar!

IBOEKOE - 15. Mar, 2010 -

Sutan Sinaro: Ini media perbukuan yang terbagus di indonesia bagiku. Kerja dari Taufik Rahzen, Galam Zulkifli, Dipo Andy Muttaqien, Eddy Susanto, dan Muhidin M Dahlan yang patut diberi penghormatan.

pabrik_tabik.

IBOEKOE - 15. Mar, 2010 -

Katrin Bandel: Menurut dugaan Pram (lihat pengantar HSM), naskah asli pasti ditulis tangan, sebab mesin tik belum banyak digunakan pada masa itu. HSM kemudian dimuat di koran Medan Prijaji. Naskah asli itu tidak ada lagi, begitu juga edisi-edisi Medan Prijaji yang memuat teks itu. Versi yang dimuat di Bintang Timur pun tidak 100 % lengkap, ada … See … Lihat Selengkapnyamorebeberapa edisi yang tidak berhasil dilacak. Dan pelacakan itu sudah dilakukan Pram dengan semaksimal mungkin, termasuk lewat pertolongan ahli sastra Indonesia di luar negeri.

Kecuali kalau di luar dugaan versi awal HSM akan ditemukan suatu hari, yang kita miliki hanyalah versi yang dihimpun dan diedit Pram.

IBOEKOE - 15. Mar, 2010 -

Tia Strawbery: waduh, om ompu kok bawa bawa ugm segala ya, awak dan dwicipta jadi kebawa bawa juga nih, hehehe…btw, estetika perselingkuhan?? istilah ilmiah dari siapa ini?? setahuku ga ada dalam kritik marxis egleton, william atau suseno sekalipun…sebaiknya tak usah mencari cari istilah yang sensasional untuk karya ilmiah yang bermartabat dan … Lihat Selengkapnyabertanggungjawab….
untuk isinya saya ga berani komen, soalnya belum baca. tapi saya tunggu saudara ds untuk memakai hak jawab dan pembelaan atas karyanya, atau kalau tuduhan dari para jaksa benar adanya, ia mesti mengakuinya. saya kira itu etika intelektual yg sehat dan bermartabat.

IBOEKOE - 15. Mar, 2010 -

Halim HaDe: mungkin istilah itu untuk jualan. penerbitnya gak pede, ngkali kalau gak sensasional.

IBOEKOE - 15. Mar, 2010 -

Ompu Datu Rasta Sipelebegu: Tia,

bukankah UGM harus MALU memberikan gelar Master kepada muridnya yang gak mutu begini! sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang top markotof di Indonesia, UGM punya Tanggung-jawab Sosial kepada Masyarakat, bukan! Tanggung-jawab Sosialnya itu harus ditunjukkan UGM dengan meneliti-ulang Mutu studi-studi yang ditawarkannya dengan harga … Lihat Selengkapnyamahal kepada Masyarakat dengan adanya kasus kayak Skandal Dwi Susanto ini! kita bicara soal Pendidikan Tinggi tingkat Master ini, masak begini buruk mutunya tapi mereka luluskan!!!

IBOEKOE - 15. Mar, 2010 -

Ompu Datu Rasta Sipelebegu: YANG ADA ITU ADALAH POLITIK PERSELINGKUHAN INTERNAL UGM UNTUK MELULUSKAN MURIDNYA INI DAN MEMBERIKANNYA GELAR AKADEMIS “MASTER”, HAHAHA…

IBOEKOE - 15. Mar, 2010 -

Halim HaDe: mungkin yang nuduh PAT nggak pernah baca buku-buku PAT, makanya gak tahu sikap dan komitmen PAT terhadap berbagai bangsa.

ilenk rembulan - 15. Mar, 2010 -

wah, parah nian pengujinya kalau sampe karya begini lolos…duh!..abis itu dibaca orang banyak..jd dah aliran sesat baru dunk…weleh wleleh…

elfira - 20. Mar, 2010 -

Saya heran, apa anda sudah membaca buku itu dan juga naskah HSM BT?.

saut situmorang - 23. Mar, 2010 -

elfira,

cobak baca isi tanggapan para anggota Dewan, apa mereka memang belum baca sampah Dwi Susanto itu? saya heran apa anda memang udah membaca tanggapan para anggota Dewan!!!

dewi putri - 29. Mar, 2010 -

saya sungguh-sungguh ingin tahu alasan insist press menerbitkan buku yang kata seluruh anggota dewan ‘nggak mutu’ itu? bisakah sidang dewan menghadirkan pembelaan Insist press? kecuali jika, insist press memang telah terdegradasi menjadi ‘penerbit kacangan’ yang kayaknya memang telah menjamur di seantero negeri ini.

che - 22. Apr, 2010 -

(mungkin pesan ini nampaknya tidak penting)
tapi,
saya kasihan liat dosen saya dibabat. . .

joni - 28. Apr, 2010 -

@che: ternyata dwi susanto juga tidak bisa ngajari mahasiswanya untuk menulis secara baik to: sudah mungkin nampaknya pula —> (mungkin pesan ini nampaknya tidak penting)… gimana tuh? ya, kalau tidak penting ya tidak usah posting komen to mas… mas!

IBOEKOE - 28. Apr, 2010 -

@Dewi Putri dan lain2: setelah panitera sidang menyambangi Insist di ujung kaki gunung merapi untuk mencari lagi buku Pak Moel Guru Nggambar, didapatkan informasi, bahwa istilah “Estetika Perselingkuhan” itu memang ciptaan Penerbit Insist. Tentang penjelasan kenapa dan apa maksud “Estetika Perselingkuhan”, selain faktor “ekonomi” buku, silakan ditanya lagi kepada penerbit. (Panitera Sidang)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan