-->

Lainnya Toggle

HIKAYAT SITI MARIAH (DS): KOMENTAR DEWAN

“Susanto, Dwi. 2006. ‘Hikayat Siti Mariah: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer’. Tesis S-2 Program Studi Sastra UGM. Yogyakarta: tidak (layak) dipublikasikan.”

— AHMAD “Galih” SUBHAN

“Berharap banyak bisa menerima limpahan pengetahuan dari DS, terutama tentang pendekatan sastra marxis yang ditulis dengan penuh kutip sana-kutip sini oleh Dwi Susanto di bagian pengantar. Tapi, harapan saya itu pudar ketika tahu bahwa buku ini kurang nyaman untuk dibaca. Naskah ‘akademik’ ini kelewat wagu, terutama di bab pertama dan kedua.”

—  ERI IRAWAN

“Saya heran bagaimana Dwi Susanto bisa lulus dengan tesis seburuk itu, dan mengapa penerbit InsistPress bersedia menerbitkannya.”

— KATRIN BANDEL

“Dwi ini kayak orang nggak ada kerjaan. Ups… tapi ini tesis akademik UGM. Lha dia membandingkan editan Pram tahun 1962 sama editan tahun 80-an dan 2000-an sekian. Padahal tiga-tiganya itu editan Pram. Yang asyik kan membandingkan kualitas editan Tirto (1910) dan editan Pram (1962). Itu baru sip sebagai akademisi sastra yang tangguh lan tekun. Tapi apa sanggup menggeledah kembali Medan Prijaji yang sudah tercerai-berai dan sebagian sudah punah itu.”

— MUHIDIN M DAHLAN

“Para promotor UGM kok memberi restu pada Dwi Susanto untuk menulis tesis tentang HSM padahal ia sendiri tak bisa menemukan HSM yang ‘asli’ yang tayang di Medan Prijaji. Kalau saya promotornya, saya pasti akan mendegradasi proposal penelitiannya sejak awal…. kecuali kalau dosennya sudah mulai geblek.”

— ZEN RS

3 Comments

elfira - 20. Mar, 2010 -

Saya jadi curiga pada para dewan semua. apakah para dewan ini sudah membaca nasakh HSM BT. Begitu juga Muhaidin M Dahlan. Anda itu sudah keliru, tapi berani komentar… yang mengedit HSM BT itu bukan Pramoedya Ananta Toer. menurut redaksi BT, yang mengedit itu Piet Santoso Istanto. Anda begitu aneh…

denijusmani - 25. Mar, 2010 -

“Para promotor UGM kok memberi restu pada Dwi Susanto untuk menulis tesis tentang HSM padahal ia sendiri tak bisa menemukan HSM yang ‘asli’ yang tayang di Medan Prijaji. Kalau saya promotornya, saya pasti akan mendegradasi proposal penelitiannya sejak awal…. kecuali kalau dosennya sudah mulai geblek.”
– ZEN RS

[sekedar meralat,, kalo untuk tesis belum bisa disebut sebagai promotor, tetapi masih disebut sebagai pembimbing. promotor diperuntukkan untuk disertasi. jadi, kalau mengomentari sebaiknya juga melihat ketepatan penggunaan kalimat]

wahyu ginting - 28. Mar, 2010 -

[sekedar meralat,, kalo untuk tesis belum bisa disebut sebagai promotor, tetapi masih disebut sebagai pembimbing. promotor diperuntukkan untuk disertasi. jadi, kalau mengomentari sebaiknya juga melihat ketepatan penggunaan kalimat] — denijusmani

Lalu, apa pengaruh Zen RS yang salah sebut (‘promotor’, alih-alih ‘pembimbing’) dengan makna keseluruhan isi komentarnya — bahwa “proposal penelitiannya (DS)” harusnya di”degradasi sejak awal” karena DS “tak bisa menemukan HSM yang ‘asli’ yang tayang di Medan Prijaji”?

Dan, denijusmani, ‘promotor’ atau ‘pembimbing’ itu BUKAN KALIMAT! Itu adalah kata-benda. Makanya, Anda pun harusnya “kalau mengomentari sebaiknya juga melihat ketepatan penggunaan” ISTILAH. Begitu.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan