-->

Tokoh Toggle

Henri Nurcahyo, Sepuluh Lembar untuk Sahabat Pena

Sumber: Jawa Pos

Sumber: Jawa Pos

Jalan panjang aktivitas tulis-menulis Henri Nurcahyo dimulai sejak kuliah. ”Sebenarnya, sejak SMP dan SMA sudah menulis, tapi tidak seintens waktu kuliah,” katanya. Saat kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Henri terkena ”penyakit” khas mahasiswa Jogjakarta, menulis dan menjadi aktivis hingga lupa kuliah.

”Akibatnya, saya drop out setelah empat tahun kuliah,” katanya. Henri mengatakan tak pernah menyesali keputusan tersebut. Sebab, dia merasa berada pada dunia yang sesuai dengan jiwanya. ”Saat berkuliah di FKH, waktu rasanya habis terus. Pagi kuliah, siang praktikum, dan sore kadang ada tambahan kuliah,” tambahnya.

Sibuknya kuliah tak membuat keinginan menulisnya padam. Untuk itu, dia berlatih menulis dengan menjalin banyak sahabat pena. Saking banyaknya, dalam sehari, rata-rata dia menerima 15 surat per hari. Dia pun langsung membalasnya.

Saat menulis surat kepada sahabat penanya, Henri rata-rata menghabiskan 10 lembar kertas folio bolak-balik. Sepuluh lembar untuk satu orang saja. Bila dirata-rata, Henri menulis 150 lembar kertas folio tiap hari. ”Selama sebulan saja, rasanya sudah jago menulis,” ucapnya, kemudian tertawa.

Melihat kegilaan Henri dalam menulis, teman-temannya kemudian mengarahkannya untuk lebih produktif. ”Konco-konco ngreceki, kenopo gak nulis nang majalah ae (teman-teman manas-manasin kenapa tidak menulis di majalah remaja, Red),” katanya. Henri menuruti saran tersebut, kemudian mengirimkan karya ke sejumlah majalah remaja saat itu. Artikel yang dikirimnya adalah artikel ringan. Misalnya, kenapa orang kok tidak boleh menggunakan tangan kiri.

Kali pertama dimuat, Henri girang bukan main. ”Pada 1980, saya mendapat honor pertama sebesar Rp 2 ribu. Cukup lumayan untuk ukuran mahasiswa saat itu,” tambahnya. Selain honor yang lumayan, yang paling penting dari dimuatnya tulisan itu adalah motivasi Henri yang semakin berlipat untuk menulis.

Selain itu, untuk memperluas wawasan, Henri terlibat dalam kegiatan sejumlah LSM. Tidurnya pun lebih sering di Gelanggang Mahasiswa UGM ketimbang di kos-kosan. Konsekuensinya, kuliahnya keteteran. Ketika itu, ada wartawan Memorandum yang menawarinya untuk menulis opini tetap. Selama beberapa bulan, dia rajin menyuplai tulisan untuk Memorandum.

Pada 1981, dia ditawari untuk menjadi redaktur opini di Memorandum Surabaya. ”Saya menerima tawaran itu dan sekaligus memutuskan keluar dari kuliah,” katanya. Kuliah di kedokteran hewan sudah tak begitu lagi menarik hatinya. Dia kemudian berganti-ganti media sebelum akhirnya memutuskan menjadi penulis.

Selama berkiprah di dunia jurnalistik, Henri kemudian lebih intens bersentuhan dengan seni, terutama seni rupa. Sebenarnya, bakat seni muncul sejak kuliah. Di UGM, Henri pernah ikut bermain sebagai figuran di sejumlah film. Di antaranya, Kugapai Cintamu yang dibintangi Wiem Umboh dan Yenny Rachman serta Balada Gadis Desa.

Kini, Henri full mendapatkan penghasilan dari menulis. Sejauh ini, Henri bukan kategori penulis yang berkecukupan. Menurut Henri, karir di dunia menulis itu gampang-gampang susah. Salah melangkah bisa masuk ke jalan yang penuh dengan sulur berduri.

”Sejauh ini, menulis di Indonesia belum bisa menjadi profesi yang bisa diandalkan untuk menjadi kaya,” katanya. Untuk itulah, kadang seorang penulis perlu mempunyai dua proyek. Pertama, proyek idealis, saat si penulis menulis untuk sesuatu yang menjadi impiannya. Lainnya adalah proyek komersial. ”Apa pun disabet, termasuk menjadi ghostwriter,” tuturnya.

Sumber: Jawa Pos, 1 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan