-->

Lainnya Toggle

Dwi Susanto: "Contoh materi teks yang dihilangkan Pram"

REDAKSI: Pleidoi Dwi Susanto, penulis buku Hikayat Siti Mariah: “Estetika Perselingkuhan” Pramoedya Ananta Toer, ini berjumlah 14 halaman atau 5.134 character ms word. Redaksi menurunkannya dalam dua artikel. Pleidoi utama Dwi  Susanto ada di sini. Salam

Daftar Singkatan:

HSM BT-Hikayat Siti Mariah (versi Bintang Timur)

HSM PAT-Hikayat Siti Mariah (versi Pramoedya Ananta Toer)

HSM MP-Hikayat Siti Mariah (versi Medan Prijaji)

PAT-Pramoedya Ananta Toer

Contoh Materi Teks HSM BT yang telah Dihilangkan Pramoedya Ananta Toer

WEB-Mariah-depanBerikut ini saya lampirkan beberapa contoh saja materi teks HSM BT yang telah dihilangkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam HSM PAT yang tetap memakai nama Hadji Moekti. Menurut keterangan dalam buku Pramoedya Ananta Toer, sekitar 25 persen tubuh terbitan kedua terpaksa ditanggalkan karena hanya merupakan ulangan, walaupun mungkin diperlukan dalam tahun belasan, tetapi akan merupakan beban untuk masa kini (Toer, 2003:9). Penanggalan tersebut setelah saya cek bukanlah satu ulangan, tetapi menjadi bagian yang utuh dalam satu sistem karya. Dalam “Sekedar Penjelasan” tersebut juga dikatakan bahwa “…diharapkan terbitan ketiga ini tetap tidak menyimpang dari yang hendak dinyatakan oleh pengarangnya”. Saya tetap berpegang pada asumsi bahwa HSM adalah bagian dari proses waktu dan materi teks HSM merupakan satu sistem kesastraan. Perubahan pada dirinya tentu saja akan menyebabkan bergesernya sistem itu dan berubah maknanya. Hal ini tentu saja menimbulkan dampak pada perubahan niatan pengarang dan juga makna dari teks itu bahkan juga hasil dari sang penafsir. Saya juga tidak melampirkan contoh perubahan dalam HSM PAT karena saya kira dapat Anda lihat dari buku saya. Masih banyak bagian-bagian teks yang dihilangkan oleh HSM PAT yang tidak saya lampirkan. Silahkan Anda semua nilai sendiri, apakah penghilangan itu karena satu pengulangan yang tidak akan menyebabkan makna teks, niatan pengarang, dan hasil interpretasi penafsir berubah. Ataukah, perubahan HSM BT menjadi HSM PAT yang masih memakai nama Hadji Moekti itu tidak mengubah sistem kesastraannya. Saya serahkah pada Anda untuk menilainya.

Contoh beberapa penghilangan:

Tuhan Allah tahu benar betapa luka hati saja ketika itu, betapa sedih saja, tapi seputjuk rambut pun saja tak berniat untuk bunuh diri, melanggar aturan agama, yakni menjabut nyawa sendiri, jang berada di bawah kekuasaan Tuhan!.

Tak mungkin saudara Mariah berani melanggar larangan jang telah diberikan oleh Nabi-nja. Mustahil Mariah gelap pikiran dan ketjil hatinja, kemudian berlaku kilap. Neen, Henri bukanlah begitu tabiat Mariah! Saja jakin betul! Bukan begitu tentu! (HSM BT, 03/05/1964).

O, Gusti Allah! Mariah, Mariah!

Ari, Ari! O, Allah, ampun Sondari!

Mariah masih hidup? Mana Mariah……Mariah! Kasihan Mariah.

Ari, Ari! Kasihan Ari…….mati! O, Gusti Allah, ampun, ampun! (HSM BT, 24/05/1964).

Mustika lantas bermimpi aneh sekali. Dalam mimpinja dunia sepertinja kiamat, hudjan lebat dan taufan mengamuk kilat dan guntur menjambar, langit seperti terbakar dan terbelah dua. Api berkobar2 sebesar gunung dan kluar (keluar) dari langit.

Api jang menjala2 ditimpa kilat, terbelah dua, lantas keluar setan hitam, pendek bengkok berambut merah, keriting seperti serabut kelapa, bersajap pendek hitam hangus. Seluruh tubuhnja berbulu seperti ulat bulu. Dia terbang menurun, menghampiri Mustika, dengan suara berat, kasar dan keras bagai guruh ia berkata: Hi—hau! Hi—Hau! Mustikaningrat. Aku Gusti Njai Lara Kidul, Putri Acherat. Aku datang ada perlu denganmu.

Hi-hau! Hi-Hau! Kau orang jang kurang adjar lagi totol, tak tahu diri. Hi-hau! Tanggal 16 Juni 1849 pagi2 sekali kau kabur, meninggalkan rumahmu, lalu masuk ke perangkapnja Tuan Kontolir Elout, aku tak peduli. Aku akan menyalahkan kau. Suka sama suka. Hi-Hiu!

Hi hau Hi-hau. Tapi dalam kau kabur, kau bawa satu keris bernama kjai Plered jang berasal dari muridku, Sultan Tegalwangi di Mataram, pada tahun 1676. Hi hau! Hi-Hau!. (HSM BT, 15/05/1965)

Dengan sendirinja Mariah bersama keluarganja, begitu pula Sarinem dalam berkabung, mendoakan keselamatan tuan Dam. Sinjo Ari sebentar2 menangis menanjakan mana papanja: Siti Mariah kurang makan, kurang tidur, selalu mengutjurkan airmata, teringat suaminja, djantung hatinja.(HSM BT, 19/05/1963)

Malam harinja Djojopranoto laki-isti kerumah tuan dokter, hari ulang tahun njonja, ada pesta. Mariah diadjak turut, dibudjuk, tetap menolak, tinggal tiduran sadja, katanja tak enak badan. Sesudah ibu-bapanja berangkat, Mariah keluar duduk dibangku pendopo belakang. Dengan memandang bulan bundar, bintang bertebaran disana-sini, Mariah merenungi kekasihnja udjang kasep Henri Van Dam, sembari asjik berpantun:

Sukardjo desa Randubukit

Njeberang Siraju dengan rakit

Ibu-bapa djanganlah bangkit

Saja ditanja mengaku sakit

Merasa sakit memang badan hamba

Tjinta mengembang takkan musna

Hati satu trima satu djadi dua

Hati dua terbelit satu sampai tua

Badan bimbang rebah dirandjang

Tidur tidak, pikiran makin pandjang

Djantung hatiku sudah lama tiada ngadjang

Apa malu lihat saja mandi telandjang

Toko bagus disebut toko Akuan

Kelapa gojang namanja kelapa puan

Kendati banjak jang suruhan

Sampai mati djodoh saja tjuma tuan!

Pantun ini Mariahlah jang mengarang

Tak disuruh, tidak dilarang

Saja pandang tjinta, tak mengharap barang

Hidup manis, meski rumah segede sarang

Kota Atjeh ialah Kotaradja

Gula tebu termasuk dalam badja

Jang kutjinta seorang sadja

Henri Dam, opsiner pabrik Sukaradja

Isti prijaji biasa dipanggil den aju

Peti biasa dibuat dari kaju

Nona Lusi merampas djodoh, saja tak paju

Tentu saja menghanjut dikali seraju

Bapa dan ibu daharan siap rapi

Buat bibi Sarinem  djuga sudah dibagi

Daag, tuan Henri! Harap ketemu lagi!

Selamat djantung hati, sampai besok pagi!

Edas! Edas! Edas! Sampai besok pagi, ketemu lagi! Baru melihat dari djauh sadjah sudah melarikan diri. Dasar Siti Mariah masih: Galak si nong nong! Ha! Ha! Aha! Betul memang Mariah djuga sama2 zeer verliefd, sama2 tandingnja. Setali tiga uang!(HSM BT, 10/03/1963)

Ja njonja radjaku! Hantjur hati hamba jang malang ini. Njonja merasa perlu berangkat ke Surabaja bersama tuan. Djangan khawatir njonja! Anton ditinggal sendiri tak usah berselisih hati. Hamba mohon pada Gusti Allah semoga njonja dikarunia keselamatan.

Walau bagaimana djuga, tak hendak hamba sampai hati meninggalkan njo Anton begitu sadja, djantung hati hamba, seandainja  kandjeng tuan tidak menjuruh hamba pergi!

O, njonja Selamat djalan, tak perlu bersedih hati, hamba selalu berdoa, mudah2-an segera baik dan lekas kembali. Njonja Esobier lalu memeluk dan mentjuim Dalimah, kemudian ganti memeluk dan mentjium njo Anton sepuas2nja, sambil mengutjurkan airmata. Njo Anton lalu diserahkan pada Dalimah. (HSM BT, 13/10/1963)

Njonja Esobier meninggal dunia pada tgl. 21 Maret 1875. Dibulan Djuli berikutnja tak diadakan pesta giling pada pabrik2 Sentan, Bran, dan Din.

Baru pada tahun 1876, Djuli, diadakan pesta giling setjara bsar2-an dipabrik Sentan dan dipimpin sendiri oleh Dalimah, jg pada waktu mulai disebut ndoro mas adjeng!

Hm. hm, pastilah ada sebabnja! Ada asap ada api, bukan? Pesta giling semakin dimerakan untuk sinjo Anton, jang sudah hampir delapan tahun usianya dan harus segera dikirim sekolah ke Surabaja.

Ndoro mas adjeng sewaktu pesta giling, wahai, tiada kepalang tanggung. Ia berhias intan-berlian, bekak peninggalan njonja marhum, berkain batik gaja Jogja, berkabaja sutera putih. Tubuh ramping, leutik dan manis, tanjik. Tiada mengerahkan kalau disebut bintang Modjokerto. Banjak sekali jang gandrung2 padanja. Tapi mereka tak tahu darimana asalnja, jang terang bukan orang Surabaja. Ada jang menduga ia keturunan Bupati Djawa-Tengah, ada jang menduga seorang njonja Belanda jang masuk Islam. Mereka hanja bisa menduga, lebih dari itu tidak! Dan rahasia Dalimah tetap tersimpan, tidak terbongkar. tak sorang pun jang tahu, walau sahabat2nja terdekat sedikit pun. Dalimah tinggal Dalimah, djuga kendati sebetulnja  … bukan nama Dalimah!

Bukan Dalimah? Siapa dan? Siapa ndoro mas adjeng pabrik Sentan? Ha, ha!

………………………………………………………………………

Dengan bawa tas besar tuan Esobier mengadjak Dalimah masuk kamar. Kemudian duduk bersama dan saling memeluk-tjium melepas rindunja.

………………………………………………………………………

Tuan Esobier jang dengan sungguh2 mentjiantai Dalimah, selalu ingin tahu rahasia apa gerangan jang selalu dikandung rapat2 dalam hati kekasihnja. Ia merasa gelisah, djika belum mendapat keterangan tentang rahasia jang sedang dipertahankan oleh Dalimah.

Dalimah siang-malam tak putus2 memikirkan bagaiamana tjaranja akan membuka rahasianja jang sudah sedemikian terpendam bagai duru dalam daging. Sering kali apabila duduk2 bersama tuannja, ingin sekali bitjara dan membuka rahasianja, tapi sia2 belaka. (HSM BT, 21/110/1963)

Tak perlu kita bitjarakan lagi betapa sedih hati tuan Dam, Mariah dan lainnja. Sudah tentulah tuan2 pembatja dapat melukiskannja sendiri, dapat merasakan dalam hati. Dapat merasakan betapa hati Mariah terluka ditimpa sedjata derita terasa perih, ditambah lagi ketimpa sendjata jang mendjedihkan sekali, serasa remuk redam hati seorang istri. Jang tanpa dosa ditjeraikan, dipisahkan dari suaminja jang tertinjta. Ditambah lagi anaknja ditjuri, kemudian mati. Kasihan, kasihan Tuhan Allah jang Kuasa! (HSM BT, 07/07/1963)

Begitulah rahasai Dalimah telah terbuka Siti Mariah masih hidup. Selamat! Babu Dalimah adalah Mariah, Mariah adalah babu Dalimah sendiri.

Sura, sura! Huse!

Siti Mariah si djantunghati

Halus manis, bagai melati.

Dalimah sungguh Mariah sedjati

Jang kita sangka sudahlah mati.

Sjukur Siti Mariah tersajang

Siang-malam wadjahnja terbajang

Airmata tumpah, hati melajang

Selamat Mariah kita hadjatkan wajang!

Pertjaja pada jang Mahakuasa!

Hendaknja kita tetap merasa

Daripada terlalu berat dirasa

Sampai pada waktunja barulah terasa.

Mariah tak pernah lagi mengharapkan pengalaman2 jang lampau. Dan tak banjak bitjara dengan tuan Esobier. Ia takut kalu diminta pendjelasan lebih djauh lagi. (HSM BT, 03/11/1963)

Walaupun terlepas dimata, kendati tak terpikir, tapi dalam hati punja tjinta tulus bagai tjintanja seorang ibu pada anaknja seperti jang telah kita saksikan terdahulu.Tuhan Allah jang kuasa. (HSM BT, 28/04/1963)

— Siapa sebenarnja jang lonte, Mariah atau Lusi? (HSM BT, 16/08/1964)

Lagi pula ia malu, sekali pergi harus ganti pakaian, jang seharga antara f.500 — f. 600, — jang sekali pakai, tak digunakan lagi. Kendati lemari pakaiannja penuh dengan japon2 jang masih baru dan indah, baru digunakan sekali sadja ia sudah malu untuk memakianja lagi.

Malam djam dua belas mereka kembali dari nonton komedi, masuk kekamar masing2 lalu tidur. Paginja Sondari bagitu keluar kamar, begitu dengar maki-tjaji Lusi kepada suaminja, Henri. (HSM BT, 19/07/1964)

Njonja Lusi susah untuk bisa dirawat didjaga dalam randjang. Selimutnja dibuang2, pakaiannja dirobek2, mengatjau beteriak2, bitjara kotor sekali, mendjambak2 rambut, pajah sekali njonja penjakitnja, begitu parah dan keras. (HSM BT, 23/08/1964)

Sinjo Ari sehari2 bergaul bersama kawan2nja, kalau ditanja sipa nama papa-mamanja djawabnja tjuma paatje atau matje. Dan kalau ditanja darimana asalnja, djawabnja dari Ukaladja dan punja matjang di Aemba.

Itulah susahnja kepala rumah-piatu dalam mentjari keterangan siapa sinjo Ari jang sesungguhnja, jang ditemukan di Pulau Radjang dalam bentenja seorang perampok Karjodrono. Dengan demikian sinjo Ari diangkat anak oleh kelurga Van Aken, supaja punja nama sadja.

Sinjo Ari ada banjak kawan2nja, dia merasa senang sekali. Tapi kalau malam mendatang, pabila kawan2nja sudah tertidur dengan lelapnja, ia hanja duduk termenung diatas kasur-rumput kering. Ia nampak sedih, teringat pada papa dan mamanja, matanja lalu membasah, meneteslah airmatanja.

Sekarang sudah waktunja untuk berpisah. Saja mengutjapkan banjak2 terimakasih! Terimakasih kepada Tuhan Allah, kepada tuan paderi, referend-mere, suster2 dan seluruh kawan2, jang hidup sebagai keluarga jang besar, penuh kasih-sajang.

Dari ketjil sampai sekarang saja berada disini, tahun demi tahun saja makan, minum, pakaian, tempat tidur, semuanja dirawat dengan sangat baik, semuanja sudah tersedia seperit kanak2 jang dirawat oleh orangtuanja. Sekarang kita harus berpisah, saja merasa senang dan bangga akan memasuki dunia untuk mentjari penghidupan sendiri. bagai seekor anak burung jang telah lengkap bersajap dan sudah bisa terbang, tentu sadja, ja, harus terbang sendiri untuk mentjari makannanja. Dan terpisah dari orangtuanja.

Untung atau buntung madju atau mundur, bahagai atau tjelaka, adalah terserah pada takdir, gurat manusia tergantung pada kekuasaan Tuhan. Saja serahkan diri saja dengan penuh kepertjaan. (HSM BT, 10/11/1963)

Refferend mere, suster2, pader2, guru2 dan anak2 semuanja bersalaman. Mereka memeluk dan mentjium sinjo Ari, merka meneteskan airmata karena terharu. Sinjo Ari segera melompat masuk kedalam delman. Barang bawaanja, setelah dibungkus rapi2 lalu ditarik disebelah kakinja. Ia melambai2kan saputangan, airmatanja berlinang. Semua kawan2nja membalas melambaikan saputangan selamat djalan. Selamt tinggal! Selamat djalan! Sampai berdjumpa pula! Aiden! Aiden!

Lumrah, hanja begitulah hartanja orang miskin, keluaran rumahpiatu, turunan pensiunan soldadu jang miskin!

Setiap bulannja digadji f.20 — ? Aduhai, banjak betul. Seumur hidupnja sinjo Ari belum pernah melihat uang sebesar f.20, –. Besar betul hati sinjo Ari, bila merenungi nasibnja, jang setiap bulan digadji f. 20, –. Sudah pasti tiada habis kalau dikumpulkan lama2 tentu bisa kaja. Sebab gadji kan bertambah pangkatnja pun akan naik juga.(HSM BT, 17/11/1963)

1 Comment

yudhi - 19. Mar, 2010 -

wah, banyak juga yang dihilangkan???

kalo buku saya dihilangkan sampai sebegituuuuu banyak, saya pasti ngamuk2!!! hehe…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan