-->

Kronik Toggle

Diluncurkan, Buku Biografi Yo Paramita

JAKARTA – “Tak akan pernah ada yang tahu jawabannya apa, selama mereka yang benar-benar tahu. Perempuan itu sendiri hampir tak pernah angkat suara dan yang mau pun segera dibungkam.” Itulah yang dikatakan John Stuart Mill dalam bukunya yang diterbitkan University of Chicago Press pada 1970, On the Subjection of Women.

Untungnya hal itu tidak berlaku pada Yo Paramita Abdurachman, ­mantan Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) yang menjabat pada 1954-1964. Yo, panggilan akrabnya, dianggap perempuan yang melampaui zamannya. Ia adalah perempuan yang sarat dengan pemikiran yang modern, yang tidak ragu-ragu untuk ­­meng­ungkapkannya pada masyarakat, pada dunia.

Demikian dikatakan wartawan ­senior Aristides Katoppo ketika menjadi moderator dalam diskusi dan pelun­curan buku Yo Paramita Abdurachman, Perempuan Melampaui Zaman, In Search of Living Tradition and Art, di Widya Graha LIPI Jakarta, Senin (1/3). Hadir sebagai pembicara adalah mantan Ketua LIPI Prof Dr Taufik Abdullah dan peneliti LIPI spesialis TNI, Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum.

Buku itu merupakan buku kedua yang diterbitkan oleh LIPI mengenai sosok Yo Paramita Abdurachman. Sebe­lum­nya, pada Maret 2008, LIPI menerbitkan buku Bunga Angin Portugsi di Nusantara. Buku kedua ini merangkum testimoni orang-orang terdekat Yo tentang kepribadiannya dan menampilkan tujuh tulisan karya Yo.

Yo lahir di Bogor pada 29 Februari 1920. Meski tidak memiliki gelar, Yo ­pernah kuliah di berbagai universitas, baik di dalam maupun luar negeri. Jiwa sosialnya sangat tinggi. Dia turut serta dalam pembentukan PMI dan memelopori berdirinya Palang Merah Remaja pada 1950.

Yo bergabung dengan LIPI sejak lembaga itu berdiri pada 1967. Saat itu, Yo seringnya meneliti sejarah, khususnya hubungan Portugal dengan Indonesia. Ia meninggal pada 23 Maret 1988.

Kebebasan Yo dalam berpikir, yang dianggap melampaui zaman, tercermin dari karya-karyanya yang juga ditam­pilkan dalam buku itu. Tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa sebagai perempuan, ia tidak terkekang oleh batas-batas budaya yang kaku, bahkan mampu ­menembus dimensi ruang dan waktu.

“Tujuh tulisan itu berbicara tentang penelitiannya. Bagi saya, Yo adalah ­seorang spesialis yang generalis. Tulisan-tulisan Yo lebih ramping daripada pemikirannya yang begitu luas,” kata Jaleswari.Taufik mengenang Yo sebagai sejarawan yang romantis. Menurutnya, Yo lebih tertarik untuk berkisah tentang pergumulan manusia dengan nasibnya. Selain itu, menurut Taufik, Yo merupakan tokoh feminis jika dilihat dari tindakan-tindakan semasa hidupnya.

“Dengan membaca tulisannya tanpa tahu siapa yang menulis, akan terasa sekali bahwa tulisannya adalah karya perempuan. Ia bisa menguraikan warna dan bentuk dengan kehalusan perasaan tanpa ada percikan kebosanan berkisah dan berberita. Feminisme pada Yo tidak terpantul pada ucapan, tetapi pada perbuatan dan cara wacana yang dipakai,” ujar Taufik.

Dalam kata pengantar buku itu, sejarawan LIPI Asvi Marwan Adam menyebut Yo sebagai duta budaya dan kemanusiaan. Yo menjadi perempuan yang melampaui zaman melalui tulisan-tulisannya, penelitian dan kegiatannya pada seminar internasional, kiprahnya di bidang sosial dan budaya, kepeduliannya pada warisan budaya leluhur, interaksi yang sangat dinamis dengan peneliti asing, serta pengabdiannya yang lama pada organisasi palang merah.

Sumber: Sinar Harapan, 2 Maret 2010 

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan