-->

Kronik Toggle

Diluncurkan 2 Buku Sjahrir

JAKARTA – Penghapusan signifikansi Sjahrir dari buku-buku sejarah membuat bangsa Indonesia kehilangan jalan paradoksnya yang masih aktual di tengah masalah kemanusiaan dan kesejahteraan yang masih membayangi bangsa ini.

Demikian sekelumit pendapat yang berkembang dalam peluncuran buku Mengenang Sjahrir: Seorang Negawaran dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan dan Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan di Hotel Santika, Jakarta, Jumat (5/3) malam.

Dalam sambutan pembukaannya, Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama mengatakan, jejak yang ditinggalkan Sjahrir harus dikembangkan terus. Kaum muda perlu mempelajarinya lebih dalam karena ajaran Sjahrir tentang kemanusiaan, keadilan sosial, dan kesejahteraan rakyat adalah hakikat dari hidup bersama sebagai bangsa.

Hal ini juga disorot oleh wartawan senior Rosihan Anwar yang mengatakan, ada kesengajaan untuk menghapus ketokohan Sjahrir dalam buku-buku pelajaran sejarah pada zaman Orde Baru.

”Indonesia tercecer dan tertinggal dibanding bangsa-bangsa lain karena masyarakat terbelah dua antara sejumlah kecil yang berkuasa dan sejumlah besar yang ditindas,” kata Rosihan.

Dalam orasinya, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, B Herry-Priyono, melihat Sjahrir menghidupi jalan paradoks, sebuah sikap yang kelihatan kontradiktif karena secara logis tidak konsisten.

Paradoks itu tampil dalam berbagai wajah, salah satunya adalah tentang pilihan. Pemikiran Sjahrir bahwa memilih salah satu di antara dua ekstrem adalah tanda ketidakmatangan memiliki relevansi yang kuat pada kekinian bangsa.

Kedua, kata Herry-Priyono, politisi dan pemimpin politik sejati bukan mereka yang sangat bernafsu terhadap kursi dan kekuasaan, tetapi justru mereka yang punya sikap skeptis terhadap kekuasaan dan jabatan.

Sumber: Kompas, 6 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan