-->

Kronik Toggle

Diburu, Buku Referensi Islam

Coba sebut sejumlah buku berikut ini: Riyadhush Shalihin, Bulughul Maram, Al-Adzkar, Minhajul Abidin, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Arbain Nawawi, Minhajul Qashidin,  Tafsir Ibnu Katsir dan Fathul Bari.

Hingga tahun 90-an, atau bahkan awal 2000-an, buku-buku  turats atau maraji’  — kalangan pesantren menyebutnya dengan istilah “kitab kuning” —  itu nyaris hanya bisa dibaca oleh orang-orang lulusan pesantren maupun alumni Timur Tengah. Yakni, mereka yang menguasai bahasa Arab dengan baik, termasuk membaca huruf Arab “gundul” (tanpa baris).

Namun, kini terjemahan berbagai buku rujukan tersebut bisa dengan mudah kita jumpai. Banyak penerbit yang berlomba-lomba menerjemahkan dan  menerbitkan buku-buku referensi tersebut. Bahkan, ada beberapa judul tertentu yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh beberapa penerbit sekaligus.

Penerbit yang menaruh perhatian besar terhadap buku-buku referensi antara lain Gema Insani, Akbar Media, Mizan, Senayan Publishing, Pustaka Imam Asy-Syafi’I, Darus Sunnah, Sygma Publishing, Al-Mahira, Embun Publishing, Cakrawala Publishing, Pena Pundi Aksara, dan Khatulistiwa Press. Bahkan, ada penerbit seperti Pustaka As-Sunnah yang mengkhususkan diri pada penerbitan buku-buku referensi.

Para penerbit itu tidak hanya menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku referensi karya para ulama salaf (terdahulu), seperti Imam Nawawi, Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Imam Ghazali. Mereka juga menerjemahkan dan menerbitkan karya para ulama dan penulis kontemporer (masa kini).

Sebut saja contoh, Sayyid Quthb, Sayyid Sabiq, Yusuf Qaradhawi, Syaikh Al-Utsaimin, Al-Buthy, dan  Wahbah Zuhaili.  “Walaupun isinya relatif “berat” dan harganya relatif mahal, buku-buku referensi makin dicari orang, seiring dengan kesadaran beragama yang makin tinggi di Indonesia,” ujar Direktur Cakrawala Publishing, Khairuddin.

Ia menambahkan, tantangan para penerbit Islam dalam menerbitkan buku-buku referensi adalah menghasilkan buku-buku rujukan dengan tampilan terbaik. “Penampilannya harus kontemporer atau mewah, baik cover maupun isinya, sebab segmen buku-buku referensi terutama kelas menengah ke atas,” papar Khairuddin.

Di mata Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, Afrizal Sinaro, makin maraknya penerbitan buku-buku referensi di Indonesia menunjukkan bahwa memang ada celah pasar yang masih sangat terbuka untuk menerbitkan buku-buku semacam itu.

“Masyarakat kita,  terutama sekali kalangan intelektual dan para  mahasiswa di perguruan tinggi Islam, sangat membutuhkan buku-buku turats tersebut. Selama ini mereka harus mengambilnya langsung dari sumber aslinya yang berbahasa Arab, yakni terbitan Timur Tengah. Kini mereka bisa dengan mudah mendapatkan buku-buku terjemahannya yang tampil dalam kemasan yang cantik dan isinya pun sangat baik,” ujar Afrizal yang juga direktur utama Penerbit Al-Mawardi Prima.

Direktur Gema Insani, Iwan Setiawan mengatakan, pasar buku-buku referensi tidak akan ada habis-habisnya. “Kebutuhan akan buku-buku referensi akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebab, sekarang ini kegiatan  kajian Islam berkembang pesat di mana-mana. Baik di masjid, pesantren, kampus, perkantoran, perumahan, maupun majelis-majelis taklim,” tutur Iwan.

Menurut dia,  jamaah pengajan atau kajian Islam sangat membutuhkan buku-buku referensi agar pembahasan berbagai isu keislaman dapat lebih kuat dan mendalam.

Direktur Penerbit Akbar Media, Anis Baswedan mengakui, dari segi bisnis, buku referensi memang sulit “meledak” seperti buku-buku lainnya, misalnya buku tuntunan ibadah praktis atau fiksi islami, yang mampu meraih omset ribuan atau puluhan ribu eksemplar hanya dalam hitungan bulan atau kurang dari setahun.

“Namanya juga buku referensi, memang ditujukan sebagai rujukan atau buku pegangan untuk melakukan pengkajian atas suatu masalah,” papar Anis. Ia menambahkan, untuk  menjadikan buku referensi benar-benar best seller memang berat. “Meskipun demikian, celah pasarnya selalu terbuka dan akan makin terbuka di waktu-waktu mendatang. Sebab, kebutuhan terhadap buku-buku referensi makin lama makin tinggi.”

Supervisor Produk Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Rahmat Nurhadi, mengatakan, Pustaka Imam Asy-Syafi’i sejak awal memang fokus pada buku-buku bernuansa referensi, baik karya para ulama terdahulu maupun ulama masa kini. Misalnya, Tafsir Ibnu Katsir, Syarah Riyadhush Shalihin, Ad-Daa’ wad Dawaa’, Ensiklopedi Larangan, Ensiklopedi Adab, dan Kisah Shahih Para Nabi.

Buku terbaru adalah terjemah Fathul Bari yang menurut rencana akan diterbitkan sebanyak 59 jilid. “Secara umum tarikan pasar buku-buku referensi termasuk bagus. Bahkan, kami memperoleh order pesanan dari sejumlah negara, seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam,” papar Rahmat.

Sumber: Republika, 5 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan