-->

Kronik Toggle

Buku dalam Codex Code

http://www.krjogja.com/news/detail/23007/Buku.Sebagai.Medium.Seni.Dalam.Codex.Code.html
Buku Sebagai Medium Seni Dalam Codex Code
Sabtu, 06 Maret 2010 10:57:00
Para pengunjung yang sedang melihat hasil karya para peserta pameran Codex Code di KKF. (Foto : Fira Nurfiani)
YOGYA (KRjogja.com) – Sebanyak 20 orang seniman merekrontruksi ulang metode produksi buku dalam wajah seni rupa melalui proyek pameran buku bertajuk ‘Codex Code’ yang digelar di Kedai Kebun Forum (KKF) Yogyakarta, mulai 3 hingga 27 Maret 2010. Pameran ini mengahadirkan 20 karya anak muda kreatif asal Yogyakarta, Jakarta dan Bandung yang berusaha menembus sekat-sekat ekonomi dan strata sosial yang ada dalam pembuatan buku.
Ke 20 seniman ini diantaranya, Aprilia Apsari, Ariela Kristiantina, Bambang Toko Witjaksono, Cahyo Basuki Yopi, Dailywhatnot.com, Dewi Aditia, Farah Wardani, Grace Simboh, Henry Foundation, Ican Harem, Irwan Ahmet, Jim Allen Abel, Malaikat, Muhammad Akbar, Oom Leo, Scandal, Uji Handoko, Wimo Ambala Bayang, Wiyoga Muhardanto dan Wok The Rock.
Penggagas ide pameran buku ini, FX Woto Wibowo mengungkapkan, pameran buku ini berusaha menampilkan buku sebagai medium berkesenian. Hal ini penting bagi semua orang karena orang bisa melihat segala kemungkinan penciptaan seni melalui buku.
“Pameran ini akan menjadi pemicu bagi teman-teman untuk menjadikan buku sebagai medium seni. Siapapun berhak membuat buku dan tidak hanya orang terkenal, orang dan penting saja yang bisa membuat buku,” katanya di KKF, Sabtu (6/3).
Mengenai temanya sendiri, FX Woto Wibowo mengatakan Codex merupakan kata dalam bahasa Latin yang berarti sebuah buku terdiri atas lembaran-lemabaran kertas yang dijilid menjadi satu yang kemunculannya diperkirakan pada abad ke I. Kemudian oleh sang inisiator FX Woto Wibowo, digelarlah sebuah pameran yang berjudul Codex Code dengan mengundang beberapa perupa, desainer, penulis, peneliti, kurator hingga bloger untuk membuat sebuah buku.
Pameran buku ini menampilkan sejumlah buku yang hanya diproduksi satu atau banyak. Buku-buku yang ditampilkan mulai dari diary, komik, hingga semacam penelitian pun ditampilkan dalam pameran ini. “Bagi seorang individu, membuat sebuah buku dipahami secara umum sebagai kerja produksi yang istimewa. Namun di sini, buku dipahami sebagai media ekspresi seni seperti halnya video, puisi maupun lukisan,” jelasnya. (Fir)

YOGYAKARTA–Sebanyak 20 orang seniman merekrontruksi ulang metode produksi buku dalam wajah seni rupa melalui proyek pameran buku bertajuk ‘Codex Code’ yang digelar di Kedai Kebun Forum (KKF) Yogyakarta, mulai 3 hingga 27 Maret 2010. Pameran ini mengahadirkan 20 karya anak muda kreatif asal Yogyakarta, Jakarta dan Bandung yang berusaha menembus sekat-sekat ekonomi dan strata sosial yang ada dalam pembuatan buku.

Ke 20 seniman ini diantaranya, Aprilia Apsari, Ariela Kristiantina, Bambang Toko Witjaksono, Cahyo Basuki Yopi, Dailywhatnot.com, Dewi Aditia, Farah Wardani, Grace Simboh, Henry Foundation, Ican Harem, Irwan Ahmet, Jim Allen Abel, Malaikat, Muhammad Akbar, Oom Leo, Scandal, Uji Handoko, Wimo Ambala Bayang, Wiyoga Muhardanto dan Wok The Rock.

Penggagas ide pameran buku ini, FX Woto Wibowo mengungkapkan, pameran buku ini berusaha menampilkan buku sebagai medium berkesenian. Hal ini penting bagi semua orang karena orang bisa melihat segala kemungkinan penciptaan seni melalui buku.

“Pameran ini akan menjadi pemicu bagi teman-teman untuk menjadikan buku sebagai medium seni. Siapapun berhak membuat buku dan tidak hanya orang terkenal, orang dan penting saja yang bisa membuat buku,” katanya di KKF, Sabtu (6/3).

Mengenai temanya sendiri, FX Woto Wibowo mengatakan Codex merupakan kata dalam bahasa Latin yang berarti sebuah buku terdiri atas lembaran-lemabaran kertas yang dijilid menjadi satu yang kemunculannya diperkirakan pada abad ke I. Kemudian oleh sang inisiator FX Woto Wibowo, digelarlah sebuah pameran yang berjudul Codex Code dengan mengundang beberapa perupa, desainer, penulis, peneliti, kurator hingga bloger untuk membuat sebuah buku.

Pameran buku ini menampilkan sejumlah buku yang hanya diproduksi satu atau banyak. Buku-buku yang ditampilkan mulai dari diary, komik, hingga semacam penelitian pun ditampilkan dalam pameran ini. “Bagi seorang individu, membuat sebuah buku dipahami secara umum sebagai kerja produksi yang istimewa. Namun di sini, buku dipahami sebagai media ekspresi seni seperti halnya video, puisi maupun lukisan,” jelasnya.

Sumber: KRJOGJA.COM, 6 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan