-->

Kronik Toggle

Anak Desa Menulis Diari (tentang) Ibunya

KEDIRIIBOEKOE-Bagaimana jika anak-anak belia diminta menulis keseharian kehidupan ibunya? Disajikan dengan jujur dan polos, kisah itu menjadi lucu dan menarik. Namun, dari kejujuran dan kepolosan itulah, lewat renik kecil catatan harian di kehidupan keluarga ini kita juga bisa melihat bagaimana relasi dan struktur sosial di masyarakat terbentuk, terutama
kaitannya dengan peran ibu dalam keluarga.

Hal itulah yang dilakukan siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Huda di Dusun Jambu, Kecamatan Kayen, Kediri. Sekolah berbasis agama ini terletak sekira 26 km dari pusat kota Kediri atau 7 km ke barat dari kota kecil Pare.

Sebanyak 28 siswa-siswi MTs Miftahul Huda menuliskan kisah hidupnya sehari-hari, terutama dalam relasinya dengan sang ibu. Tulisan remaja belasan tahun itu kemudian dibukukan dengan judul “Aku dan Ibuku: Catatan Bakti Sepekan Anak-anak Jambu Kediri” dan diterbitkan oleh Indonesia Buku, Yogyakarta.

Minggu (28/2/2010), buku itu diluncurkan bersamaan dengan pembukaan Taman Baca Gelaran Buku Jambu yang berlokasi tepat di depan MTs Miftahul Huda. Puluhan murid dan tokoh masyarakat setempat menghadiri acara peluncuran yang dikemas sederhana tersebut. Pada malam harinya, siswa-siswi diajak menonton film “Buddha Collapsed Out of Shame” yang berkisah tentang keinginan kuat seorang bocah untuk bersekolah di belantara Afghanistan yang tengah dirundung perang.

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia MTs Miftahul Huda Jambu Ahmad Ikhwan yang juga editor buku “Aku dan Ibuku: Catatan Bakti Sepekan Anak-anak Jambu Kediri” mengatakan, siswa-siswi diminta untuk menulis catatan harian yang detail dan runtut dari jam ke jam. “Mulai bangun hingga tidur kembali, siswa-siswi diminta untuk menulis semua kegiatannya, terutama kaitannya dengan kehidupan sang ibu. Lucu dan polos, dan sangat menyentuh,” ujar Ikhwan.

Dia mencontohkan, ada siswa yang secara jujur bercerita tentang dirinya yang selalu dimarahi sang ibu saban hari. Karena kenakalan siswa tersebut, tak jarang sang ibu mencubit, menjewer, hingga menyetrapnya di luar rumah.

“Kepolosan ini yang sangat menarik. Dalam konteks tertentu, relasi ibu dan anak yang ditulis di buku ini juga menunjukkan bagaimana posisi sentral ibu dalam perekonomian keluarga, sekaligus menunjukkan masih banyak kaum ibu yang berada dalam struktur relasi yang timpang dengan suaminya,” terang Ikhwan.

Direktur Yayasan Indonesia Buku Muhidin M. Dahlan mengatakan, hasil karya siswa-siswi muda tersebut di luar dugaan. Gaya bercerita anak-anak usia 13-15 tahun itu sudah lancar seperti para penulis profesional.

“Saya sendiri sempat terkejut ketika membaca naskah dari siswa-siswi ini. Gaya berceritanya, pemakaian diksinya cukup bagus. Potensi anak-anak desa ini sangat luar biasa,” ujar Muhidin yang telah menghasilkan puluhan buku laris tersebut.

Muhidin mengatakan, dirinya bersama Yayasan Indonesia Buku kini aktif bergerak masuk ke desa-desa di sejumlah kota di Jawa untuk menggerakkan minat baca dan tulis pemuda-pemuda desa, termasuk di Dusun Jambu. “Dusun Jambu yang secara ekonomi dan politik relatif terpinggirkan ternyata punya potensi luar biasa. Ini patut didukung penuh,” ujarnya.

Ke depan, sambung Muhidin, Taman Baca Gelaran Buku Jambu mendorong membikin riset tentang sejarah Dusun Jambu dari berbagai perspektif, mulai sosial, politik, budaya, hingga ekonomi. “Para pemuda di Dusun Jambu akan mulai mendata semua jenis ternak, tanaman, hingga potensi ekonomi yang ada. Riset ini menjadi program besar kami bahwa sejarah sebuah wilayah semestinya bisa ditulis sendiri oleh penduduk di wilayah agar tidak anonim dalam sejarah besar kawasan Indonesi,” papar Muhidin.

Kepala MTs Miftahul Huda M. Khoiri mengatakan, kegiatan membaca dan menulis ini akan menambah rasa percaya diri para siswa-siswi desa. Selama ini, meski berpotensi besar, mereka terhadang oleh minimnya fasilitas. Hal tersebut kerap menimbulkan rasa minder di kalangan siswa-siswi pelosok desa.

“Kami sendiri dihadapkan pada kondisi keuangan warga yang masih minim. Selain itu, harus bersaing dengan sekolah-sekolah negeri yang secara fasilitas dan SDM lebih unggul. Tapi, kami tak menyerah. Dengan buku dan taman baca ini, kami ingin membuktikan bahwa anak-anak pinggiran desa punya kemauan besar untuk maju,” kata Khoiri.

Pemuka masyarakat Dusun Jambu Solichin berpendapat, buku “Aku dan Ibuku: Catatan Bakti Sepekan Anak-anak Jambu Kediri” adalah pelecut semangat para remaja dan pemuda desa untuk terus berkarya. “Buku adalah jendela dunia. Ke depan kami berharap koleksi buku-buku keilmuan dan pengalaman praktis, terutama tentang pertanian yang menjadi basis desa ini bisa terus ditambah. Selain itu, perlu digelar pelatihan menulis bagi guru-guru SD, MI, maupun MTs,” kata Solichin. (EI)

1 Comment

Farida - 01. Mar, 2010 -

wah, keren. kapan bikin taman baca di lamongan?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan