LASMI: TANGGAPAN DEWAN PEMBACA

“Sebuah fragmen dalam sejarah Indonesia yang ditulis dengan sangat intens, deskriptif, dan tidak memihak,” tulis Noorca M. Sardi di sampul depan novel Lasmi.

Rama Prabu dari tanah Parahyangan sontak menghentak dan berseru: “Komentar itu hanya penghias sampul. Lipstick saja. Kontras sekali dengan isi dan kesimpulan yang ditulis di sampul belakang. Jelas sekali sinopsis itu tidak berimbang dan memihak.”

Prabu mengurai, “Pengakuan penyesalan Lasmi karena beliau menjadi aktivis (ketua Gerwani desa) menjadi sebuah kontradiksi dengan sifat Lasmi di awal cerita. Lihat kesaksiannya ‘…aku tak pernah menyangka sama sekali bahwa menjadi bagian dari Gerwani kemudian bisa dikategorikan sebagai dosa sosial. Andaikan aku tahu Sut, tentu aku tak ingin terlibat. Andaikan aku bisa meramalkannya Sut, aku tak ingin mengambil risiko sebesar itu. Sungguh, engkau pun tahu, aku menyukai kegiatan yang menyangkut masyarakat jadi lebih pintar dan mandiri, namun aku bukan orang yang berani mempertaruhkan nyawa anak kita…’”

“Alasan meninggalnya Gong inilah yang menjadikan Lasmi terpuruk secara ideologis. Tapi penerbit telah salah menginterpretasikan keterpurukan idiologis dan psikologis Lasmi dengan mengatakan bahwa dia terjerumus semangat zaman, menjadi tokoh organisasi perempuan Gerwani dan mengatakan bahwa Gerwani, organisasi kaum perempuan yang ikut terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Sejauh manakah kayakinan itu?”

Keresahan Prabu mengenai latar sejarah ini diamini Diana Sasa, yang sedari awal mengawal jalannya sidang. Kata penulis dari Surabaya ini: “Setahu saya, aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris di sepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah saya dengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan.”

Untuk menguatkan pendapat itu Sasa coba menyurungkan data dari tiga orang periset Gerwani. Saskia E Wieringa (Penghancuran Gerakan Perempuan dan Kuntilanak Wangi), Fransisca Ria Susanti (Kembang-kembang Genjer), dan Hikmah Diniah (Gerwani Bukan PKI). Dari ketiganya tak ada kesimpulan bahwa gelombang besar aktivis utama Gerwani menyesal telah bergabung.

Menurut jawara blog resensi, Nur Mursidi, dalam novel ini, sejarah peristiwa tragis 1965 memang hanya dijadikan tempelan, sehingga nyaris tak memberikan aroma baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik-pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Padahal, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan oleh pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban.

“Saya menyayangkan keputusan penulis membawa isu sentral rekonsiliasi nasional ke ranah fiksi dengan proporsi lebih banyak unsur sejarah dan idealogis dibanding unsur cerita. Lasmi menjadi seperti ‘kue lemper’ yang enak dengan kesederhanaannya, namun didandani plot historis, kultural yang penuh dan kurang pengendapan. Saya merasa membaca protes sosial di masa kini, diteriakkan perempuan aktivis masa kini dibanding novel tentang aktivis Jawa, dari sudut pandang suaminya. Singkatnya, saya kebingungan apakah membaca esei dengan potongan data mentah, atau novel tapi minim konflik manusia di masa itu? Coba simak dialog hal. 72, kata ‘…Oke ya, Pak?’ saat menjadi pembicara masyarakat tani masa itu, saya rasa sungguh janggal,” urai si pemilik suara merdu, Nisa Diani.

“Riset adalah kelemahan mendasar dari novel ini. Sangat lemah sekali. Bertaburnya kata ‘konon’ dan ‘kabarnya’ menjadikan novel ini semacam novel sejarah konon. Katanya dan katanya. Misal, ia tak dapat menjelaskan mengapa orang Jawa tak mengenal nama belakang atau nama keluarga. Juga alasan apa orang Jawa meletakkan bendera putih di tonggak atap rumah ketika mendirikan rumah. Di sini, ia bersembunyi di balik kata entah, konon, kabarnya, mungkin, yang menurut saya membuatnya kerdil,” tandas Sasa.

“Kekuatan sebuah novel memang terletak pada kekuatan narasi,” lanjut Mursidi. “Tapi dalam kepenulisan novel, dikenal sebuah penulisan dengan cara menggambarkan, bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh ‘aku’) untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun ‘tidak mendedahkan teknik baru’. Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin, dan njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur.”

Segendang dengan Mursidi, Rama Prabu mencatat bahwa memang selain novel ini sangat minim dialog, penokohan Sutikno (Tikno) dan Lasmi pada beberapa dialog di awal bab tidak konsisten dalam menggunakan istilah dan kelugasan penggunaan bahasa. Penempatan istilah panggilan untuk istri, ibu mertua dan bapak mertua masih disamakan dengan sebutan yang sama seperti pada orang lain. Padahal dihayati atau tidak, aku di sini telah menjadi bagian yang satu dalam ikatan keluarga sebagai tokoh yang bercerita. Beberapa istilah bahasa daerah (Jawa) banyak yang tanpa catatan kaki yang bisa dipastikan akan menyulitkan pembaca di luar kultur dan penguasaan bahasa Jawa.

Hernadi Tanzil, resensor dari sebuah pabrik kertas di Bandung, juga menyayangkan kurang tereksplorasinya karakter Lasmi sebagai tokoh sentral. Karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis pembaca tak banyak mengetahui bagaimana konflik batin yang dirasakan Lasmi selama masa-masa perburuan terhadap dirinya.  Hal ini hanya terungkap melalui surat panjang Lasmi untuk suaminya. Walau telah tewakili oleh surat tersebut tentunya akan lebih menarik jika di sekujur novelnya ini pembaca akan disuguhkan konflik batin yang dialami Lasmi terutama saat masa-masa perburuan terhadap dirinya.

“Saya juga merasakan kesan bahwa penulis kurang sabar dalam mengembangkan kisah Lasmi ini. Ada beberapa hal yang sebetulnya bisa dikembangkan, misalnya kisah pelariannya yang nampak kurang tereksplorasi dengan baik. Semua terjadi selewat-selewat saja padahal jika hal ini dikembangkan pasti akan lebih menarik lagi,” lanjut Tanzil.

Soal alur pelarian ini, Rama Prabu sependapat dengan Tanzil. “Pembaca tidak dibawa merasakan adegan pada kondisi tahun 1965. Penulis mungkin lupa bahwa masih banyak yang dapat dikembangkan dari tulisan ini sehingga pembaca benar-benar merasakan pelarian, perburuan Lasmi dan Tikno sang suami yang akhirnya gila itu menjadi lebih mencekam. Bisa saja suatu ketika Lasmi harus melakukan pelarian yang tak bisa terbayangkan oleh pembaca. Perhatikan saja hampir tak ada adegan kerjar-kejaran dan sembunyi yang mengendap senyap di semua jalur perburuan pelarian Lasmi, yang ada hanya pindah-pindah ‘ngungsi’ dari satu tempat kerabat ke kerabat lainnya.”

Dan di tengah novel, semua anggota Dewan Pembaca dibuat terkejut dengan munculnya transkrip pidato Bung Karno. Transkrip itu menghabiskan berlembar-lembar halaman dalam novel ini. Menurut  Tanzil, “Hal ini bisa jadi bumerang, di satu pihak mungkin ada orang yang suka, namun di lain pihak bagian ini bisa jadi membosankan karena seolah terlepas dari alur kisah yang sedang dibangun.”

Dengan manis, Nisa mencoba memberi permakluman, “Tampaknya latar belakang penulis mempengaruhi cara berceritanya. Latar belakang penulis yg aktivis, jurnalis mungkin terlanjur terbiasa menulis dengan struktur dan gaya non fiksi yang rigid. Penulis sepertinya gamang ketika memasuki dunia fiksi sekaligus membahasakan data non fiksi (sejarah) dalam tataran kehidupan sehari-hari di masa itu.”

“Meski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil,”  tutur Mursidi. “Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara masif –menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini.  Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk anti-kekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi terhadap wanita –persamaan derajat.”

Rama Prabu setuju novel fiksi historis ini selayaknya dapat dijadikan bahan pengingat bahwa pasca tragedi 30 September itu banyak nyawa yang hilang dalam pembantaian masal, ada banyak keluarga yang tercerai-berai, ada banyak silsilah yang tercerabut dari jalur kemanusiaan. Kini, kita hanya bisa mewartakan bahwa hal demikian bisa saja terjadi disaat ini dan masa depan ketika kita tak bisa mengharga nilai perbedaan dan kemanusiaan! Jalur keadaban manusia hanya ada di tangan manusia, dan kita adalah manusianya!

Demikian pula Tanzil, ia setuju bahwa dalam novel ini penulis berhasil menguggah kesadaran pembacanya untuk memaknai peristiwa pembantaian di tahun 65 dalam perspektif kemanusiaan.

Andreas, aktivis Paris Van Java yang sedari awal tak banyak bicara akhirnya pun menimpali. Tulisnya: “Novel ini adalah kesaksian semangat zaman tentang retorika penguasa, masa silam, mimpi buruk, perjuangan yang gigih, harapan klise dan pilihan yang penuh penyesalan yang dengan cepat menjerat dan memerangkap kita dengan telak. Kekuatan naratif dalam melodrama novel ini secara perlahan-lahan namun pasti, berhasil menyeret kita pada rahasia hitam sejarah Gerakan Wanita Indonesia yang lama terbungkam. Dengan telak menawarkan sejumput keberpihakan kepada dua pihak yang sedang bertarung demi suatu kemenangan kecil, tapi menghasilkan kekalahan yang sama-sama besar.”

Lasmi, lanjut Andreas, adalah novel realis yang nyaris surealis. Ada kebahagian yang aneh dalam penderitaannya, sekaligus penderitaan yang ganjil bahkan dalam kegembirannya. Kisah yang sangat pedas, mengambang dan gelisah tentang bagaimana menghargai sebuah pilihan. Ada tetirah yang indah sekaligus mimpi buruk dalam perjuangan Lasmi. Ada darah dan airmata yang subtil. (DS)

Gus Muh

Gus Muh

Pencatat dan Pencatut Dunia Koran