Rama Prabu- Kaoem Dewantara Institute, Bandung

“Bagi saya buku ini terlampau datar dengan konflik dan setting yang seharusnya membawa saya ketakutan dan merasa ikut dalam suasana mencekam tapi menjadi cair begitu saja tanpa gejolak kehanyutan perasaan.”

Andreas Katarsis-Aktivis, Bandung

“Seharusnya novel bisa memberikan orgasme pembaca, bukan disuguhi tumpukan diskursus sejarah. Secara fragmen-naratif, novel ini ada kemiripan plot cerita sejenis dengan novel Tapol karya Ngarto Februana: kisah aktivis Gerwani yang mati mengenaskan.”

Hernadi Tanzil, Resensor, Bandung

“Sayang keterangan mengenai penyerahan diri Lasmi untuk dieksekusi mati ini sudah muncul di bagian sinopsis yang tertera di cover belakang novel ini. Padahal jika tidak dimunculkan di cover belakangnya pembaca pasti tak akan menyangka kalau endingnya adalah penyerahan diri Lasmi. Jadi saya menggugat penerbit karena ceroboh menyajikan ending dari kisahnya.”

Nur Mursidi, Resensor, Jakarta

“Tidak sedikit pengarang di negeri ini yang menggarap novel dengan sandaran setting peristiwa tragis 1965 dalam sebuah novel, termasuk Lasmi ini. Tetapi sayang, dalam novel ini nyaris tak ada terobosan baru yang didengungkan pengarang.”

Nisa Diani, Pemusik dan Pegiat Sastra Komunitas ESOK, Surabaya

“Saya kebingungan apakah membaca esei dengan potongan data mentah, atau novel tapi minim konflik manusia di masa itu?”

Diana Sasa, Penulis, Surabaya

“Bertaburnya kata ‘konon’ dan ‘kabarnya’ menjadikan novel ini semacam novel sejarah konon. Katanya-katanya. Di sini, ia bersembunyi dibalik kata entah, konon, kabarnya, mungkin, dsb, yang menurut saya membuatnya menjadi kerdil.”

Gus Muh

Gus Muh

Pencatat dan Pencatut Dunia Koran