-->

Kronik Toggle

Surabaya Membedah 5 Buku Puisi Afrizal Malna

SURABAYA,I:BOEKOE-Hari ini(23/1) delapan jam hujan mengguyur kota Surabaya sedari siang hingga malam. Gedung Galeri Surabaya di komplek Balai Pemuda itu juga bocor atapnya dan mengalirkan air hujan ke lantai galeri. Tapi itu tak menyurutkan semangat 100-an pecinta sastra untuk mengikuti diskusi 5 buku puisi Afrizal Malna:Abad yang Berlari, Pidato-pidato dari Bantal Berasap, Arsitektur Hujan, Yang Berdiam dalam Mikrofon, dan Kalung dari Teman.

Diskusi di tengah hujan itu dipandu oleh Fauzi Manan dan didampingi dua orang pembahas dari dua generasi berbeda,Kharis L. Junandaru, pegiat sastra dari Teater Gapus Universitas Airlangga dan sastrawan senior Akhudiat.

Sebelum diskusi, peserta diskusi disuguhi sajian video art karya Afrizal Manan yang satir. Video dengan judul Keracunan Maknanan misalnya, memadukan suara Afrizal yang berat dengan potongan-potongan ulat belatung dan toilet kotor yang ditata sedemikian rupa sehingga nampak kacau namun memiliki estetika.

Video-video itu mengantarkan peserta pada diskusi yang kemudian banyak membaca pilihan bahasa dan latar belakang puisi Afrizal. Kharis dalam pembahasannya berpendapat bahwa penerbitan ulang antologi puisi Afrizal adalah bentuk penyesuaian sebuah pembacaan ulang dimensi waktu pembuatan puisi dan penerbitan antologi. Beberapa puisi Afrizal mengalami revisi bukan saja pada judul namun juga sebagian isinya.

Afrizal sendiri mengakui bahwa puisi memang tak hidup dalam dirinya sendiri, puisi hidup dalam diri pembaca yang terbuka terhadap ingatan atau berbagai pengalaman pribadi dan sosial.

Acara yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jatim dan Dewan Kesenian Surabaya itu diakhiri dengan pembacaan puisi oleh Afrizal. (DS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan