-->

Tokoh Toggle

Suparto Brata:Nasib'Tidak Ada Nasi Lain'

Oleh : Risang Anom Pujayanto
Kamar yang kira-kira berukuran 4×7 itu penuh dengan buku. Di sudut kamar, tata letak buku di lemari lebih rapi daripada yang berada di atas meja. Di samping kiri meja, ada komputer yang telah turut andil memproduksi puluhan buku, dari total 137 karyanya yang telah dipublikasi.

Suara televisi terdengar meminta perhatian Suparto Brata. Tapi Begawan Sastra Jawa itu lebih suka membaca dan sekali-kali tampak menulis sebagai bekal ingatan dari bacaan.

Sejak 1951, secara otodidak Suparto Brata mulai menekuni dunia tulis-menulis. Setelah mengendapkan serangkaian bacaan dan pengalaman atas pengamatan realitas selama bertahun-tahun, pada 1958 Suparto Brata telah menyelesaikan tulisan pertamanya. Sebuah novel fiksi.

Novel yang pada ralat terakhir (2009) sudah mencapai 629 halaman ini diberi judul Tidak Ada Nasi Lain. Namun Tidak Ada Nasi Lain ini pernah dimuat menjadi cerita bersambung oleh Kompas dengan judul Sanja Sangu Trebela. Dan, cerita bersambung itu masing-masing memiliki tebal buku 120 halaman.

”Waktu itu khan saya belum bisa mengarang. Itu merupakan karangan saya yang pertama. Teknik mengarang pun masih tahap mencari-cari. Jadi yang saya ceritakan dalam novel, ya keadaan sebenarnya waktu itu. Sejujur-jujurnya,” ungkap pengarang yang dilahirkan di Rumah Sakit Simpang Surabaya (kini Surabaya Plaza) itu. Jadi mungkin karena alasan terlalu vulgar dan jujur menyoroti pemerintahan itulah, Tidak Ada Nasi Lain berkali-kali mentah sesaat akan diterbitkan.

Tahun 1958, zaman dimana belum ada surat kabar. Pria yang akrab dipanggil Parto itu mengetahui, bahwa jika seseorang menulis agar bisa dibaca harus diterbitkan dalam bentuk buku. Pada waktu itu, satu-satunya penerbit yang eksis hanya Penerbit Pembangoenan. Dikatakan redaksi Penerbit Pembangoenan, naskah Tidak Ada Nasi Lain memang layak, hanya saja ending cerita menunjukkan kepesimisan. Dan, sikap pesimis tidak sesuai dengan keadaan negara yang konon pada waktu itu sedang berjuang menjadi negara maju secara mandiri.

Setelah diganti ejaan sesuai EYD, lantas naskah yang sama diajukan ke penerbit Dunia Pustaka Jaya milik Ajib Rosidi tahun 1972. Ketidaksesuaian pandangan politik dalam teks membuat Tidak Ada Nasi Lain kembali ditolak. Alasannya, di dalam novel tersebut ada ungkapan ketidakpuasan tentang ketidakadilan negara. Di jaman yang sudah memasuki era orde baru itu, bagi Ajib Rosidi, ngrusuhi pemimpin bukan merupakan sikap orang yang bermartabat.

Lantas di tahun 1990 baru bisa diterbitkan. Kompas Yogyakarta bersedia memuat cerita secara bersambung. Alasan Kompas menerima karena di dalam teks kental muatan Kristiani. Banyak perubahaan. Tidak Ada Nasi Lain pun semakin panjang dan lebih detail.

”Naskah ini ditulis tahun 1958 dan baru diterbitkan tahun 1990. Jadi menunggu 32 tahun. Sekarang saya mikir akan menerbitkan dalam bentuk buku di tahun 2010,” tegas Parto.

Setelah dimuat bersambung hingga selesai oleh Kompas, atas permintaan penerbit Tiga Serangkai, oleh Parto cerita ini diklip lalu dikirimkan ke Tiga Serangkai Solo pada 2005. Namun sebelum terbit, buku sudah dilarang karena ada perbedaan keagamaan. Tiga Serangkai Solo membidik segmentasi masyarakat muslim, sedangkan apa yang telah dikliping Parto kental aroma Nasrani.

Demikian juga yang terjadi dengan Grasindo Surabaya tahun 2007. Pada waktu itu, Grasindo Surabaya sedang getol membidik cerita anak dalam bahasa Jawa. Oleh karena nasib cerita anak Bahasa Jawa tidak laku, maka Grasindo pusat memutuskan menghentikan cetakan buku kiriman dari Surabaya. Dan, buku Tak Ada Nasi Lain turut menjadi imbas kebijakan pusat.

”Daminya (buku pracetak) sudah dibuat, tinggal saya melihat dan meralat sedikit, tapi tidak jadi,” sesal pria kelahiran Surabaya, 27 Februari 1932 silam itu.

Jadi bagi Parto, penolakan redaksi itu sudah lumrah. Sensor tulisan hingga perbedaan prinsip memang selalu menjadi tawar-menawar yang alot antara pengarang dan penerbit. Akan tetapi, Parto tidak sepakat jika buku yang telah beredar dicekal, dimusnahkan, hingga dibakar seperti yang terjadi dewasa ini.

”Di zaman Orla dan Orba, pencekalan dilakukan sejak awal. Sensor dari penguasa sangat ketat dan kinerjanya tergolong rapi dan tersembunyi. Represi laten. Sehingga redaksinya pasti khawatir dan tidak berani menerbitkan,” jelas Parto.

Cerita tokoh Saptono dalam Tidak Ada Nasi Lain yang merupakan refleksi diri Suparto memang tidak pernah tepat untuk Orla dan Orba. Ceritanya yang tidak sesuai dengan jaman Orla, misalnya, Saptono ditulis sebagai anak yatim piatu yang memutuskan ikut berperang. Dalam perang, Saptono menemukan teman-temannya menjadi pengkhianat bangsa. Seiring dengan berjalannya waktu, saat kemerdekaan telah diraih, ternyata para pengkhianat yang berhasil menduduki kursi DPR. Sementara Saptono tetap hidup sengsara dan nyaris bunuh diri. Setting cerita ini berlangsung pada zaman perang hingga zaman Orla.

Bunuh diri yang identik dengan sikap pesimis dijadikan penguat Penerbit Pembangoenan untuk menolak halus sekaligus menghindari masalah dengan negara. Sebab di tahun 1950, negara memutuskan tidak mau menerima bantuan dari luar. Kala itu, Bung Karno ditawari Amerika proyek merata perbaikan jalan di seluruh daratan Jawa agar transportasi masyarakat bisa menjadi mudah. Dasar penolakan Bung Karno ini dikarenakan Amerika memberi catatan bahwa Indonesia wajib membeli mobil dari Amerika. Keyakinan untuk tetap mandiri ala presiden pertama Indonesia ini membuat keadaan semakin sulit. Beberapa bahan seperti kopi, nasi dan sandangan sulit didapatkan. Tidak Ada Nasi Lain.

Demikian juga di masa orba, Ajib Rosidi mencari jalan pintas menolak naskah karena ungkapan Suparto Brata dalam Tidak Ada Nasi Lain mengkritik ketidakadilan pemerintahan sangat lantang. Terlebih lagi di dalam teks juga disajikan kekejaman para kapitalis yang tega menghukum orang melarat. Tekanan yang begitu besar di kala itu membuat Ajib tidak berani mengambil resiko. Tidak hanya Ajib, beberapa penerbit dan surat kabar lain juga melakukan hal yang sama.

”Kira-kira tahun 1970-1972an, Sinar Harapan pernah terkena masalah. Diberedel. Pada waktu itu ada konferensi pers tentang anggaran negara. Sebelum acara, salah satu wartawan Sinar Harapan pulang, padahal di akhir acara komandan Korem menginstruksikan kepada seluruh wartawan untuk tidak menyiarkan berita itu. Esoknya hanya Sinar harapan yang memuat berita. Dan Sinar Harapan diberedel,” kenang kakek yang juga mantan wartawan majalah Gapura itu.

Jadi di zaman Orba, tidak hanya Ajib Rosidi yang tidak berani. Yang berani berakhir di tahanan seperti Rendra, salah satunya. Dengan perkataan lain, dahulu juga ada pencekalan, tetapi dilakukan dengan cara berbeda. Sebelum muncul sudah dihadang.

Melihat fenomena ini, Parto menangkap adanya peluang untuk menyelesaikan Tak Ada Nasi Lain untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Targetnya tahun 2010. Keseriusan Suparto Brata ini terlihat dari sebalik cover Tak Ada Nasi Lain warna biru. Catatan revisi telah ditandai. Demikian juga dengan judul cover. Ukuran font pada Tidak Ada dihilangkan dan dibuat ukuran yang lebih besar lagi agar terlihat oleh pembaca.

”Tulisan yang memuat kebenaran sejarah harus diperjuangkan,” tutur Parto. Apalagi Tak Ada Nasi Lain ini merupakan tulisannya pertama kali. Di tahun 2010 ini, tata letak buku di kamar 4×7 itu akan bertambah satu koleksi buku lagi. Lemari itu masih setia menanti. (b2)

*) Dikronik dari Surabaya Post Minggu, 3 Januari 2010

**) Foto koleksi pribadi Diana Sasa

1 Comment

tjitraningrum - 17. Apr, 2011 -

Saya angkat topi buat pak Parto, yang tetap semangat dan terus berkarya hingga kini. Tak Ada Nasi Lain, saya baca ketika kanak-kanak. Bukankah itu cerita ttg jeng Peni ? Ttg ndalem di Gajahan? Cerita bagus. Aku ikut senang kalau cerita itu diterbitkan dalam bentuk buku.Agar karya-karya besar tetap hidup di sepanjang jaman.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan