-->

Kronik Toggle

Siswa SD Vita Belajar Scrapbook di Arva School of Fashion

SURABAYA Roman muka Chisentia Valerie Phoebe terlihat serius. Dengan pelan dan hati-hati, dia menempel potongan foto bergambar boneka Barbie di atas sebuah kertas jenis paper craft. Tak lama kemudian, gadis cilik berusia 8 tahun itu tersenyum lebar. Hasil karyanya berupa kliping boneka Barbie rampung. Kliping tersebut dihiasi pita dan kertas beraneka warna.

Kemarin (16/1) bersama 10 anak lainnya, siswa kelas 3 SD Vita Klampis Ngasem itu belajar membikin seni kliping bernama scrapbook di Arva School of Fashion Jalan Sambas. Phoebe, panggilan anak tersebut, mengatakan baru mengenal scrapbook. ”Tetapi seru banget, soalnya bisa nempel dan nggunting,” kata Phoebe, lantas tersenyum.

Frances Gunawan, 38, instruktur latihan tersebut, menuturkan, scrapbook merupakan barang baru di Indonesia. Seni tempel gunting tersebut berkembang pesat di Amerika dan Eropa sejak awal 1900-an. Scrapbook juga sudah dikenal di Singapura beberapa tahun belakangan.

Scrapbook, kata Frances, merupakan seni yang sangat unik. Sebab, scrapbook adalah media untuk menyimpan memori. Tema-tema personal, seperti perkawinan, kelahiran anak, bahkan momentum liburan yang berkesan, bisa dikliping dan disimpan sebagai kenangan manis. ”Kliping tersebut bisa dibuka kapan saja. Tidak membosankan. Bentuknya juga cantik,” terangnya.

Frances membawa keahlian membikin sracpbook ke Surabaya setelah berlibur di Vancouver, Kanada, pada 2005. Di sana, perempuan asli Surabaya itu melihat scrapbook yang cantik di beberapa toko. Karena tertarik, dia lantas mempelajari seni pembuatan scrapbook di internet dan buku-buku asing yang tersebar di Indonesia. ”Sekarang banyak yang pesen dari saya,” tuturnya.

Scrapbook, kata Frances, bukan seni tempel biasa. Scrapbook mengenal pengaturan komposisi warna dan seni menempel dengan kreativitas tinggi. Bahan-bahan untuk scrapbook, kata Frances, saat ini banyak dijual terpisah. ”Tetapi, mungkin juga menggunakan bahan-bahan pribadi, seperti daun kering, tanah liat, dan lainnya,” terangnya. (nur/oni)

*) Dikronik dari koran Jawa Pos, 17 Januari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan