-->

Kronik Toggle

Sisa-Sisa Perjuangan Pasar Buku Kwitang

JAKARTA — Seorang lelaki tua memanggil-manggil setiap pejalan kaki yang lewat di Jalan Kramat Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (10/1/2009). “Buku mbak, mau cari buku apa mbak? Di sini ada,” ujar lelaki itu sedikit memaksa ketika Kompas.com melintas.

Lelaki tua itu adalah salah seorang dari empat penjaja buku yang menggelar dangannya di trotoar sebelah kanan jalan Kramat Kwitang. Sepi sekali penjual buku di sana saat ini. Padahal dua tahun yang lalu, pasar buku Kwitang terkenal dengan koleksi buku-bukunya yang lengkap dengan harga miring.

“Dulu dari Kwitang Raya sampai depan Gunung Agung Pusat situ, jualan buku semua. Hampir separuh jalanan buku semua,” ujar Dori salah seorang pemilik toko buku di Kwitang Raya yang masih bertahan.

Hal senada juga dikatakan seorang pembeli. “Kalau mau cari buku murah, langka, ya di Kwitang, lengkap dulu sih,” ujar Sari, mahasiswa yang berkunjung ke toko buku milik Dori.

Menurut cerita Dori, penjualannya menurun drastis setelah Pemerintah merelokasi pasar Kwitang dua tahun yang lalu. Meskipun demikian, Dori masih bersyukur karena usahanya di sebuah bangunan ruko tak kena relokasi. “Jauh mbak, sekarang sepi banget. Karena konsumennya sudah nggak ada. Pembeli banyak mikir kalau mau ke sini. Mereka (pembeli) kan tahunya sudah digusur,” ujar Dori.

Dori juga menceritakan nasip teman-temannya yang masih nekat berjualan buku liar di jalan Kwitang pasca relokasi. Seringkali penjual buku di liar trotoar itu, kucing-kucingan dengan Satpol PP. “Kalau ketahuan, bukunya diangkut sama petugas. Mereka sudah nggak berani lagi, yang ada sekarang kan yang jual buku iketan. Kalau ada petugas, mereka ngumpet di toko ini,” tutur Dori.

Seringkali kepentingan penguasa tak sejalan dengan harapan masyarakat. Seperti halnya relokasi pasar Kwitang yang menurut pemerintah dilakukan demi ketertiban umum namun menuai protes secara tidak langsung dari kalangan pedagang.

Saat hendak meninggalkan toko buku milik Dori, terlihat beberapa buah buku Gurita Cikeas palsu berjejer di rak toko. Sebuah buku yang sempat dilarang pemerintah sehingga mengundang protes dari kalangan penerbit yang diwakili Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Seperti diberitakan, IKAPI menolak pelarangan sejumlah buku yang dinilai subjektif dan dapat merugikan penerbit secara ekonomi. IKAPI juga menilai, pelarangan buku justru menyuburkan praktik pembajakan terhadap buku yang dilarang.

Itulah salah satu bentuk kebijakan pemerintah yang belum dapat menyenangkan semua pihak. Bentuk lainnya?

Sumber: Harian Kompas, 10 Januari 2010

1 Comment

wahid - 12. Jan, 2010 -

kwitang. waktu belum pindah ke sulawesi, nyaris setiap bulan saya nongkrong di sekitaran jalan itu buat nyari2 buku murmer…. sayang sudah direlokasi di brotherland n blok m ya.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan