-->

Lainnya Toggle

Sekali Lagi: Gus Dur, Bu Rupiah, dan Buku!

Oleh: Muhidin M. Dahlan

“Kamu boleh belajar seluas-luasnya. Jangan takut-takut. Buku apa saja boleh kamu baca dan kamu pelajari supaya pandangan kamu tidak sempit.” – Kiai Ali Maksum

Gus Dur suka buku, suka bola, itu semua sudah tahu. Gus Dur suka sastra Rusia, filsafat, dan lain-lain hal yang tak diajarkan di pesantren juga sudah tahu. Tapi kapan persisnya ia memamah wacana-wacana “di luar bilik pondok” sebegitu lahapnya, ini yang belum banyak tahu.

Buku Gus Dur: Berbeda Itu Asyik (Kanisius, 2004) yang ditulis Iip D Yahya menampilkan fragmen-fragmen itu dengan sangat baik, sederhana, dan sekaligus menjawab banyak kepenasaran tentang bacaan sastra Rusia Gus Dur.

Alkisah, demikian Iip menulis, ketika masuk kelas I SMEP di Jakarta, Gus Dur dinyatakan tak naik kelas lantaran lebih banyak ke bioskop tinimbang ke sekolah. Ibunya yang khawatir dengan masa depan sekolah anaknya akhirnya banting stir memindahkan Gus Dur ke Krapyak Jogja untuk belajar ngaji ke Kiai Ali Maksum dan sekolah umum di SMEP Gowongan.

Namun Gus Dur tak betah terus-terusan di pondok dengan jadwal yang ketat. Ia pun meminta kepada ibunya bagaimana kalau ia dibolehkan kos di luar pondok.

Gus Dur dipilihkan kos di Kauman. Tepatnya di rumah Haji Djunaid, tokoh Muhammadiyah cum sahabat Kiai Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) semasa perang kemerdekaan.

Di tempat baru ini ia mendapatkan kembali gairah belajar dan hobinya. Terutama sekali buku dan bola.

Disebabkan bahasa Inggris Gus Dur menonjol, guru bahasa Inggrisnya di SMEP Gowongan memberi perhatian khusus. Namanya Bu Rupiah. Ia guru bahasa dan sekaligus anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Dari Bu Rupiah ini, Gus Dur mendapatkan limpahan buku-buku tebal yang umumnya berbahasa asing, baik dari perpustakaan pribadi Bu Rupiah maupun dipinjamkan dari kantor Kedutaan Besar Uni Sovyet.

Sebut saja novel-novel seperti La Porte Etroite karya Andre Gide, From Whom The Bell Voice karya Ernest Hemingway, dan Captain’s Daughter karya I Turganev. Juga karya-karya A.S. Pushkin, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Trotsky, dan Mikhail Solokov.

Dari Bu Rupiah juga Gus Dur berkenalan dengan karya babon Karl Marx Das Capital dan tulisan Lenin Vladimir Iliech Romantisme Revolusioner. Lantaran nama Gus Dur kesohor di seantero sekolahan sebagai pembaca belia yang rakus, gurunya yang lain menyodorkan buku Lenin yang lain yang tebalnya minta ampun itu: What is To Be Done?

Nama Bu Rupiah, aktivis Gerwani ini, mestilah ditempatkan di loker khusus dalam ingatan personal Gus Dur. Lantaran sosok itu Gus Dur bertambah-tambah rakusnya dengan buku. Ia pun dengan mandiri mendatangi pasar loak dan memborong buku-buku “kelas berat”, seperti karangan William Bochner, John Steinbeck, William Foulkner, Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y Gasset, Mao Ze Dong, dan Gramsci.

Tak ketinggalan beberapa jilid karya Will Durant The Story of Civilization dan beberapa buku filsafat Yunani yang mengisahkan pemikiran Socrates, Aristoteles, Plato, dan lain-lain.

Sederet pengalaman membaca buku di bangku SMP itu, tak mengherankan kemudian Gus Dur tak melupakan guru bahasa Inggrisnya itu yang memperkenalkannya sudut dunia berbeda dan terjauh lewat buku-buku.

Dari Bu Rupiah pulalah Gus Dur menemukan praksis dari ucapan Kiai Ali Maksum agar tak diskriminatif dan takut terhadap bacaan. Buku kiri, buku kanan, buku tebal, buku tipis, buku serius, buku kacangan, buku religius, buku sekuler, semua-mua pantas dilahap dan diambil saripatinya. Sebab bagaimana kita mengetahui sebuah ajaran jika takut menelaahnya. Dan bagaimana kita menelaah dan memberikan kritik yang tajam bila membacanya pun takut dan was-was.

Pandangan kosmopolitan yang didapatkan dari keluarga dan selingkungan pesantren di mana ia hidup dan pikiran progresif Bu Rupiah, Gus Dur berani membaca dan menantang apa saja yang ada di hadapannya dengan seenteng-entengnya.

Jangkar dari buku-buku itu kemudian yang membingkai pandangan pluralistik Gus Dur di kemudian hari ketika ia menjadi “orang”.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan