-->

Kronik Toggle

Rekomendasikan Pelarangan Buku, Menkumham Dianggap Tak Paham Kewenangannya

Jakarta – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar dinilai tidak memahami posisinya karena telah mengeluarkan kebijakan pengkajian terhadap 20 buku yang dikategorikan provokatif, mendorong aksi separatisme, bom bunuh diri dan kekerasan dalam rumah tangga. “Dia terlihat seolah-olah tidak punya orientasi akan wewenang dan jabatannya, tak punya visi dan pandangan kedepan tentang posisinya,” kata Al Araf, Deputi Direktur Imparsial kepada Tempo, Senin (04/01).

Sebab, lanjut Al Araf, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia tidak punya hak untuk mengkaji apalagi melarang terbitnya sebuah buku. “Menteri yang mengurusi penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia kok malah mau membunuh demokrasi, melarang hak berekpresi. Sikap dan kebijakan dia jelas keliru,” ujarnya.

Pelarangan terhadap sebuah karya atau pemikiran, lanjut dia menunjukan bahwa demokrasi di negeri ini sedang mundur. Menurutnya tidak ada buku yang mengancam negara, sebab dalam demokrasi mengkritik itu hal yang biasa. Lagipula, lanjutnya masyarakat sudah cukup cerdas, bisa memilah mana yang pantas dan baik untuk dibaca mana yang tidak. “Justru yang harus disadari itu bahwa kebebasan berekpresi itu dilindungi undang-undang,” katanya.

Mengenai rencana depkumhan untuk merekomendasikan pelarang buku itu pada kejaksaan, Al Araf mengaku semakin heran. “Memangnya depkumham dan kejaksaan tidak ada pekerjaan lain,” ujarnya. Jika ide awal depkumham mengkaji buku saja sudah salah wewenang, kata Al Araf maka ide merekomendasikan pelaranganpun pastilah salah. “Presiden benar-benar salah memilih orang untuk melanjutkan reformasi hokum dan HAM dengan sungguh-sungguh”.

Seperti diberitakan sebelumnya, Depkumham telah melakukan kajian terhadap 200 buku. Dari pengkajian itu ditemukan sekitar 20 buku yang dianggap provokatif. Ke-20 buku tersebut akan direkomendasikan untuk dilarang edar.

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 4 Januari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan