-->

Perpustakaan Toggle

Perpustakaan SDN Kertajaya

Lima Persen Dana Operasional Sekolah untuk Perpustakaan

Lima tahun lalu, SDN Kertajaya menyulap gudang menjadi perpustakaan. Mereka juga punya banyak strategi untuk menumbuhkan minat baca siswa. Kerja keras sekolah itu akhirnya membuahkan penghargaan juara lomba perpustakaan SD negeri se-Surabaya.

Upik Dyah Eka N.

BEBERAPA slogan terpampang jelas di dinding perpustakaan. Salah satunya berbunyi, Tiada hari tanpa membaca. Membaca mengubah duniamu. Tulisan itu tampak mencolok karena berukuran lebih besar daripada slogan lain.

“Sebelumnya, anak-anak di sini memang kurang giat membaca. Makanya, kami terus mengingatkan dengan slogan-slogan itu,” kata Lusiatingsih, pengelola Perpustakaan SDN Kertajaya.

Menumbuhkan minat baca memang bukan hal mudah. Apalagi, siswa SD lebih tertarik bermain daripada pergi ke perpustakaan. Problem itulah yang coba dipecahkan pengelola sekolah.

Mereka merancang formulasi untuk menarik perhatian siswa. Namun, jalan yang ditempuh SDN Kertajaya tidaklah mudah. Sebab, awalnya sekolah itu tidak punya perpustakaan yang representatif. Jangankan koleksi bacaan yang lengkap, gedung saja mereka tidak punya.

Nah, pada 2004, sekolah mulai meng­ge­ber program menumbuhkan minat baca. Mereka mengubah sebuah gudang un­tuk menyimpan barang bekas dan arsip menjadi sebuah ruangan yang cu­kup me­wah, setidaknya untuk sekolah negeri.

Tembok ruangan berukuran 6 x 4 meter dipermak habis. Sebuah AC (air con­ditioner) dipasang untuk membuat siswa nya­man ketika membaca. Sebuah televisi 29 inci ikut menghiasi ruangan. “Kami juga meng­hiasi perpustakaan dengan pernak-pernik lucu,” ujar Lusiatingsih.

Misalnya, memasang poster dan slogan imbauan membaca. Namun, semua fasilitas itu dirasa belum cukup untuk menarik minat siswa ke per­pus­takaan. Sekolah kemudian getol ber­bu­ru buku untuk mengisi rak-rak di ruangan yang sudah ber-AC tersebut. Saking semangatnya, SDN Kertajaya mengalokasikan lima persen anggaran operasional sekolah untuk melengkapi fasilitas perpustakaan.

Hasilnya, kini perpustakaan itu memiliki 1.100 koleksi buku referensi serta 2.000 buku paket dan buku BOS (bantuan operasional sekolah). Per­pus­takaan juga dilengkapi puluhan DVD dan VCD berisi ensiklopedia.

Gedung sudah ready, koleksi juga cukup banyak. Sekolah lantas membuat program penunjang untuk menum­buh­kan minat baca siswa. Caranya, mem­berlakukan jam khusus untuk pergi ke perpustakaan. Aturan itu berlaku wajib bagi seluruh siswa.

“Anak-anak digilir bergantian setiap kelas untuk membaca buku di perpustakaan. Cara ini paling efektif untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada membaca dan perpustakaan,” ucap Lusiatingsih.

Pelayanan serta administrasi juga ikut diperbaiki. Setiap buku wajib memiliki kode buku dan nomor klasifikasi. Buku yang dipinjam dan dikembalikan akan dicatat dalam buku harian. Katalog dan kantong buku harus ada dalam setiap buku.

Administrasi yang cukup baik me­ngan­tarkan perpustakaan itu menjadi juara satu lomba perpustakaan tingkat SD negeri se-Kota Surabaya. Peng­hargaan diberikan pada April 2009. “Penghargaan itu jadi pemicu anak-anak untuk gemar membaca,” ucap lulusan Unair tersebut.

Pengunjung jadi semakin banyak. Dia mengaku, yang berkunjung setiap hari bisa mencapai 500 murid. Meski capai menghadapi tingkah siswanya, ibu dua anak tersebut merasa senang melihat anak didiknya rajin membaca buku. (*/fid)

Dikronik dari Koran Jawa Pos, 10 Januari 2010 dengan judul Asli “Upaya SDN Kertajaya menumbuhkan Minat Baca yang Berbuah Penghargaan”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan