-->

Lainnya Toggle

Pembangkangan Mesin Printer

Oleh: Zen RS

Printer ini sudah lama mengabdi kepadaku dengan “sepenuh komponennya”. Ya, “sepenuh komponennya”, karena akan sukar menyebut “sepenuh hatinya”. Siapa yang akan bilang printer punya hati?

Kecuali hari ini, tepatnya siang ini, persis saat deadline betul-betul nyaris mengerkah batang leherku. Tiba-tiba saja, ia tak mau bekerja. Macet. Ngadat. Tak sehelai kertas pun yang keluar dari tubuhnya yang tambun ke samping itu.

Mulanya, beberapa saat usai perintah mencetak aku tekan, akan menguar suara dengung, yang jika itu keluar dari mulut manusia mungkin akan kusebut sengau. Lalu, setelah dengung yang tak panjang itu, akan terngiang suara gesekan-gesekan tipis tapi berirama lebih panjang. Diakhiri dengan suara sedikit teredam, kertas tercetak yang ditunggu-tunggu tak segera keluar, enggan dilumuri tinta yang mungkin beracun itu?

Harus kuakui aku tak banyak mengerti kehidupan benda-benda. Lagipula, sempat tadi kudengar, setelah bunyi dengung yang mirip suara sengau itu, printer itu mengedarkan bebunyian yang tak jelas notasinya: nadanya pendek-pendek, seperti ketukan yang berulang, sebuah perulangan yang mengingatkanku pada bebunyian dari mesin telegraf, mesin tua yang sudah jadi koleksi jawatan purbakala.

Aku curiga ketukan-ketukan itu, yeah, seperti kode-kode yang diterima mesin telegraf, semacam huruf-huruf yang terangkai jadi kata, lalu kalimat, lalu paragraf, lalu cerita, lalu prosa, lalu tanda, lalu makna…

Lalu aku makin tak mau berlalu atau menyimaknya sambil lalu. Lalu, seperti tak seperti yang lalu-lalu, aku mendekatkan telingaku ke printer yang di gigirnya berwarna biru, lalu ada bunyi, lalu ada kata, lalu ada cinta, lalu ada melankolia, lalu ada sebuah serenada, atau aubade, atau apa saja kau ingin dan hendak menyebutnya, tapi jelas sekali nadanya dalam dan muram, seperti malam kelam tanpa batuk kelelawar, tanpa bersin burung hantu:

“Aku tak tahu kenapa kau tak pernah mau bersamaku, kenapa kalian enggan memelukku lama-lama. Aku cuma kenal kalian dan tinta, dan tinta…oh, siap yang mau bercinta dengannya? Tinggallah barang senada atau dua nada, jika mau sepanjang lagu dan waktu. Kau, kalian kertas-kertas yang lapang ini, selalu menawanku, masuk ke pedalamanku, tapi pada saat yang sama kalian langsung berlalu, tak pernah kembali, tak mungkin kembali, lalu aku patah hati, lagi dan lagi…”

Printer itu, cukup jelas, membangkang perintah mencetak kertas. Aku menghela nafas panjang, mataku lurus menatap ke depan, ke arah kaca, yang tepat berada di belakang printer yang tiba-tiba aku merasa iba padanya dan untuk pertama kalinya –saat menatap kaca itu– aku tahu: Mataku bisa bertinta-tinta, persis saat aku sedang berkaca-kaca.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan