-->

Lainnya Toggle

Mengejar Gengsi di Klab Buku

Meski gengsi itu tasasa1k enak dimakan, sering dalam hidup ini kita mati-matian memburunya. Memburu gengsi untuk sebuah pengakuan. Pengakuan diburu demi sebuah eksistensi. Eksistensi menjadi penting karena akan menentukan pada kelas lapis sosial mana seseorang berada.

Lain orang lain pula simbol yang dipandang bergengsi. Ada banyak cara ditempuh untuk mengejar gengsi itu. Salah satunya dengan menjadi anggota klab atau perkumpulan. Seperti klab buku berikut ini. Klab ini adalah kelompok sosial yang dipandang sangat bergengsi di Universitas Yale, Amerika Serikat.

Elizabethan Club, begitu nama perkumpulan ini. Bernaung di bawah bayang-bayang kebesaran Ratu Elizabeth I. Inisiatornya Alexander Smith Cochran, jutawan pewaris pabrik karpet Yonkers, New York pada 1911. Cochran begitu kagum pada drama-drama maman Elizabeth I yang dipelajarinya di kelas Profesor William Lyon Phelps dalam sebuah kursus kilat di Yale. Ia memiliki impian kecil di antara gelimang hartanya, membangun sebuah perpustakan kecil. Meski kecil tapi koleksinya mesti dramatis dan terkenal hingga membuat orang terkagum.

Maka Cochran pun merogoh kantong untuk membeli sebuah rumah mungil di jalan kampus seharga $75 ribu, dan $100 ribu lagi untuk dana pembangunan. Pondasi dasar gengsi mungil itupun berdiri megah di jalanan kampus Yale dengan arsitektur mirip satu bagian dari Gedung Putih.

Bangunan bergengsi itu diperuntukkan buat dua hal. Yang satu digunakan untuk perpustakaan dan yang lain dijadikan rumah klab (club house). Rumah klab itu akan menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan mempelajari karya-karya sastra masa Elizabeth I.

Perpustakaan Elizabeth pun mulai dipenuhi buku-buku berkelas tinggi. Koleksinya sungguh luar biasa. Profesor Phelps sampai terjatuh dari kursi ketika melihatnya. Karya-karya langka dari kuarto dan folio Shakespeare, kopi ke empat dari Hamlet, salinan edisi pertama Sonnets, Essayes Bacon, surat keprihatinan dari Ratu Elizabeth pada kawan perempuannya (Lady Southwell) tertanggal 15 oktober 1598, dan lain-lain. Sebagian besar adalah edisi pertama dari karya-karya yang sangat klasik. Berasal dari kolektor kenamaan. Siapa pun yang memilikinya, membacanya, akan tersihir oleh perasaan kagum dan bangga. Apalagi, nilai koleksi 300 volume itu mencapai $20 juta lebih. Sungguh prestisius.

Dengan perpustakaan bergengsi seperti itu, jelas sudah dikelas mana Elizabethan Club berada. Dalam konstruksi kelas sosial yang tinggi, siapa saja yang mendapat undangan untuk menjadi anggota klab berarti telah memenuhi “seleksi” awal dan layak menjadi bagian dari kelas masyarakat tersebut.

Lizzie, sebutan bagi anggota Elizabethan Club, biasanya dipilih dari para mahasiswa semester akhir, alumni kampus Yale, dosen-dosen, staf fakultas, serta beberapa kalangan istimewa di luar Yale. Umumnya alasan mereka terpilih adalah karena di samping tergolong cerdik pandai tapi juga kaya-raya. Tak sembarang orang bisa menjadi anggota. Mahasiswa baru tak diizinkan bergabung. Sehingga klab ini pun menjadi sangat eksklusif. Tentu pemilihan orang-orang itu melalui seleksi profil yang seksama dan harus memenuhi satu syarat wajib: cinta pada kisah-kisah drama Elizabeth.

Perburuan gengsi itu kian lengkap dengan beberapa aktivitas dan perilaku anggota yang terkesan memasang garis dengan orang di luar klab. Untuk menandai perbedaan secara fisik, mereka menggunakan dasi dengan motif burung Phoenix, yang identik dengan Ratu Elizabeth I. Tanggal kelahiran sang pendiri, Cochran, 28 Februari, diperingati dengan sebuah makan malam mewah.

Sesekali, para Lizzie mengadakan Klab Malam dengan diskusi yang menghadirkan beberapa pembicara kenamaan. Hal yang tak bisa diperoleh mahasiswa kebanyakan.

Eksklusivitas yang dipagari dinding-dinding api sedemikian-demikian itu mengundang sorotan miring. Sempat diisukan klab ini terkait dengan Secret Society di Yale. Semacam sekte tersembunyi yang banyak bertumbuhan di pelbagai belahan dunia. Tuduhan lain, mereka terlibat konspirasi dengan kelompok-kelompok seperti Illuminati, Order of The Skull and Bones, The Bilderbergers, dan New Word Order. Salah satu buktinya, saban Senin malam, di lantai dua markas mereka, para Lizzie mendirikan upacara pengorbanan untuk Dewa Phoenix yang dipercaya berbicara melalui Elizabeth I. Beberapa anggota mengatakan bahwa upacara persembahan itu begitu mencekam. Rumor ini berkembang di kalangan mahasiswa Yale.

Lebih ekstrem lagi, ada rumor yang mengatakan bahwa anggota klab kerap memberi sesaji seorang bayi pada upacara persembahan untuk Dewa Teh. Mereka memang penikmat teh sejati. Dalam kalender upacara mereka, ada yang disebut “waktu teh” (tea time). Biasanya antara pukul 4-6 sore. Semua tamu yang berkunjung ke perpustakaan akan disuguhi teh.

Terlepas dari kebenaran rumor tentang upacara-upacara itu, Elizabethan Club telah menjadi sebuah kelompok diskusi buku yang cukup prestisius di Amerika. Tentu saja menjadi kebanggaan sekaligus gengsi tersendiri bagi Universitas Yale. Tak banyak universitas yang memiliki perpustakaan sekaligus klab buku yang membahas hal spesifik tentang seni dan sastra pada masa Elizabeth I. Yale menjadi liyan dan barangkali satu-satunya. (Diana AV Sasa)

2 Comments

Putri Sarinande - 01. Feb, 2010 -

koreksi tulisan Mbak Sa :
“… di kelas mana Elizabethan Club berada …”
yah, untuk eksistensinya sih menarik. tapi gengsi, nyaris mirip Katak Dalam Tempurung. sud saya bagikan artikelmu ini di plurk dan twit aku Mbak’e…

Diana AV - 02. Feb, 2010 -

Ya Bu Guru……..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan