-->

Tokoh Toggle

Listiyono Santoso:Buku Bisa Merubah Dunia

Buku merupakan pijar peradaban umat manusia. Berbagai perubahan sosial besar di dunia ini banyak bermula dari hadirnya sebuah buku. Dalam setiap buku seringkali terdapat sejumlah pikiran cerdas yang kemudian bisa mempengaruhi cara berpikir dalam masyarakat tertentu.

”Coba lihat, bagaimana pikiran cerdas Sokrates, yang diteruskan oleh Plato dan Aristoteles yang mampu mengubah tatanan masyarakat di Yunani Kuno dari pandangan awal yang mistis menuju ke logis,” papar Listiyono.

Bahkan peradaban modern pun berubah oleh prinsip-prinsip berpikir yang pernah digulirkan oleh tulisan para filsuf. Sebut saja Descartes dengan prinsip Cogito Ergo Sume (aku berpikir maka aku ada). Sebuah prinsip sederhana tapi cukup luar biasa mengubah peradaban saat itu menjadi lebih rasional dan berani bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Belum lagi buku-buku yang dikarang oleh pemikir-pemikir besar di dunia ini sepertu David Hume dengan empirisismenya, Husserl dengan fenomenologinya, eksistensialisme ala Sartre, bahkan yang paling fenomenal Karl Marx dengan materialisme historisnya.

Magnis Suseno pernah menyebut bahwa Das Capital Karl Marx adalah sebuah buku yang mengubah dunia. Hampir dua pertiga masyarakat dunia membaca buku ini dan buku ini juga menginspirasi berbagai perubahan tatanan sosial di beberapa negara. Permisalan lain datang dari sebuah buku berjudul Uncle Tom’s Cabin yang ditulis Harrier B Stowe. Buku ini mampu menginspirasi warga Amerika Serikat menjadi lebih sadar terhadap perbedaan, terutama pandangan mereka terhadap orang-orang Negro, yang selama berabad-abad lamanya hanya menjadi warga kelas ketiga atau menjadi budak yang selalu dihinakan.

”Uncle Tom’s Cabin dianggap sebagai buku yang mengubah Amerika Serikat untuk menghargai perbedaan ras secara lebih manusiawi,” katanya

Dalam banyak hal, dosen lulusan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) itu sepakat dengan Jalaludin Rahmat. Jalaludin dalam sebuah bukunya pernah menyatakan bahwa perubahan sosial seringkali disebabkan oleh empat hal, yakni ide besar, tokoh besar, gerakan sosial dan revolusi. Dua penyebab pertama mencerminkan kekuatan ide dan ketokohan dalam melemparkan sebuah wacana dalam masyarakat.

Selain itu ada tengara di negara-negara Muslim, kehadiran buku tahafut al falasifah-nya Al Ghazali ditengarai sebagai pemutusan mata rantai intelektualitas di kalangan muslim, karena buku itu mencerca dan menghujat kerja filsafat rasional sebagai sia-sia dan berbahaya bagi keyakinan agama. Entah benar atau tidak tengara ini (masih butuh penelitian sejarah lebih mendalam), tetapi yang tetap diyakini adalah bagaimana kekuatan pikiran dalam buku sangat ’berpengaruh’ secara massif dalam masyarakat pembaca. Oleh karenanya wajar jika Napoleon Bonarparte begitu ketakutan dengan kekuatan tulisan ketimbang sejumlah tentara di medan laga.

”Dalam tradisi Islam secara eksplisit disebutkan bahwa tinta para ulama lebih berharga dari darah para syuhada,” simpulnya.(b2)

*) Dikronik dari Surabaya Post, 3 Januari 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan