-->

Kronik Toggle

Kisah Sastra Reboan di Wapres Bulungan

JAKARTA — Suatu ketika Gus Dus pernah berkata “Bukan Persatuan yang kita cari tetapi Kesatuan”. Itu salah satu ucapan Kyai besar yang dikenal punya kepedulian besar terhadap budaya dan bergaung kembali di Sastra Reboan ke 22, kemarin malam  (27/01). Dramawan ternama, Putu Wijaya mengemukakan hal itu dalam orasinya tentang Gus Dur.

“Berteater, kata Gus dur, bukanlah untuk berbohong tapi melakoni suatu pembelajaran yang sungguh-sungguh tentang karakter orang lain, mengenal orang lain. Kita harus memandang sesuatu dari sisi yang lain”, kata Putu Wijaya yang di awal penampilannya berbicara tentang rencana penerbitan “100 Puisi 100 Hari Gus Dur” oleh Pena Kencana.

“Saya berharap dalam menulis puisi, cerpen atau novel hendaknya kita tidak hanya melihat dengan kacamata yang seragam tapi dengan cara dan pandangan yang berbeda”, ujar Putu Wijaya yang juga dikenal sebagai cerpenis, penulis skenario dan memimpin Teater Mandiri sejak 1971.

Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah “Bila Malam Bertambah Malam”, “Telegram”, “Pabrik”, “Keok”, “Tiba-Tiba Malam”, “Sobat”, “Nyali”.

Tentang Sastra Reboan, Putu yang baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di Wapres, Bulungan, merasa betah. “Reboan ini bagus dan bisa jadi tempat pertemuan sastrawan dan masyarakat. Bila ini berjalan terus dengan baik bisa menjadi situs sastra di Indonesia. Disini tempatnya enak dan informal, sementara di tempat lain suasananya serius.”

Sastra Reboan yang kemarin dipandu oleh duo MC, Setyo Bardono dan Nurul Wardah dibuka dengan penampilan band Margoze, yang terdiri dari anak-anak muda dari Depok. Pengunjung mulai berdatangan. Tampak beberapa penulis yang sudah dikenal seperti Slamet Widodo, Fanny Jonathan Poyk, Nugroho Suksmanto serta para cerpenis Kurniawan Junaedi, Erin, Tina K, Nita Tjindarbumi, Bamby dan Kurnia Effendi yang datang di tengah acara.

Para penulis puisi yang karya-karyanya bertaburan di facebook dan telah dibukukan dalam antologi puisi “Merah Yang Meremah” segera melangkahkan kakinya ke panggung. Helga Worotitjan, Shinta Miranda, Pratiwi Setyaningrum, Susy Ayu, Wenny Suryandari,Nona Mochtar dan Magi Luna bergantian membawakan karya masing-masing dari buku yang baru diterbitkan itu. Penampilan apik mereka ini mendapat sambutan hangat.

Selanjutnya pembahasan novel “Dan Segalanya Menghilang” kaya Dedy Tri Ryadi, penyair yang sehari-hari bekerja di sebuah agency. Sebuah novel tentang percintaan penderita traumatik KDRT dengan wartawan yang mengalami psikosomatis diramu dalam pengusutan kasus pembunuhan penyanyi yang baru naik daun oleh pelaku penyimpangan seksual. Novel dikupas oleh Roro Shin, yang juga novelis dan dipandu oleh Setyo Bardono. Usai kupasan novel ini, Deasy Nathalia Elang menyanyikan puisinya berjudul “Tiada” dan “Masih Ingatkah Suara Saya”.

Usai penampilan Putu Wijaya, salah satu pendiri Pena Kencana, Nugroho Suksmanto didampingi Eka Kurniawan menjelaskan tentang rencana penerbitan antologi puisi “100 Puisi 100 Hari Gus Dur”. “Pena Kencana ingin mengumpulkan para sastrawan untuk melihat sesuatu yang hilang dalam kehidupa”, ujar. Nugroho Susmanto yang juga membacakan puisinya  untuk Gus Dur berjudul “Raja dan Bintang Kejora”.

Usai membaca puisi, Nugroho yang pengusaha real estate tampak berbincang dengan yang Ketua Pasar Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam) sebagai  penyelenggara Sastra Reboan, Johannes Sugianto. “Pena Kencana akan bekerjasama dengan Pasar Malam dalam penyelenggaraan  penerbitan antologi puisi “100 Puisi 100 Hari Gus Dur’, ujar keduanya.

Di panggung, grup Hardolino dengan vokalisnya, Dana tampil membawakan 2 lagu dengan lirik kritik sosial. Permainan apik dengan vokal yang menawan membuat pengunjung berteriak untuk menambah satu lagu lagi, yang dipenuhi oleh grup ini.

Cerpenis muda, Wa Ode Wulan Ratna tampil berikutnya membawa cerpennya ”Cari Aku di Canti” dari buku kumpulan cerpennya yang berjudul sama. Wulan pernah menjuarai berbagai sayembara penulisan cerpen. Diantaranya sayembara Creative Writing Institute (CWI) 2005, sayembara cerpen tema Melayu Dewan Kesenian Riau (DKR) 2005, sayembara cerpen Krakatau Award Dewan Kesenian Lampung (DKL) 2005.

Menjelang akhir acara, penyair muda Pirngadi Abdi membawakan karyanya “Sebuah Orkestra yang Kumainkan Sejak Kau tak Ada” dan  puisi karya rekannya berjudul “Mimpi Kamar Mandi”.

Sastra Reboan ditutup oleh The Kost Band dengan lagu-lagu pop alternatif mereka. Saat ini band yang dibentuk oleh anak-anak kos ini sedang mempersiapkan album perdana mereka.

Band yang sedang merilis album perdana merkea ini merupakan band yang dibentuk oleh anak-anak kos. Sampai bertemu di Sastra Reboan di akhir Februari mendatang.

Sumber: Portal Online KOMPAS.COM, 29 Januari 2010

4 Comments

Putri Sarinande - 01. Feb, 2010 -

Mbak, ini aku simpan web kolaborasi dan teman (tentang resensian2 gitu, niatnya malah pingin jadi Portal Informasi)
nah, maka dari itu tadi saya pinjam artikel ini untuk ditambahi komentar provokatif hehehe :
“jadilah Kaya Raya Harta agar dapat membayar idealisme alias dikenal dengan nama lain ♥ MIMPI ♥ Anda… (dan mungkin membayari mimpi oranglain???)”

Diana AV - 02. Feb, 2010 -

silahkan Putri Cantik…

the khost - 10. Mar, 2010 -

mampirlah di blog kita siapa tahu ada ketertarikan buat mengundang kita…

Margoze - 10. Mar, 2010 -

terima kasih buat beritanya, walaupun sedikit…amat berarti untuk Margoze
terima kasih juga untuk Wapres Bulungan & sastra reboan atas kesempatan bisa perform…makasih

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan