-->

Kronik Toggle

Jawablah Buku Kliping dengan Kliping

JAKARTA — Keringat merembes deras di jidat Haris Rusli Moti, 35 tahun. Semangkuk soto lamongan baru saja pindah ke perut bekas Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik ini. Warung soto di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, ini memang langganan Haris. ”Sotonya enak,” kata direktur perusahaan manajemen intelijen ini.

Mengelap keringat dengan tisu, Haris bicara tentang Gurita Cikeas, ”buku” George Junus Aditjondro yang kontroversial itu. Kumpulan artikel yang lebih tepat disebut kliping media massa itu diluncurkan di Graha Permata Pancoran Blok A-1, Rabu tiga pekan lalu. Di situ, sebuah rumah toko berlantai tiga berdiri. Lantai dua dan tiga adalah tempat Haris berkantor. Lantai dasar dijadikan restoran yang ia beri nama Doekoen Coffee. Di tempat ini Haris biasa menjamu tamu dan kolega.

Lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada ini senang buku itu mendapat tanggapan Istana. Haris Rusli Moti memegang peran penting dalam penerbitan buku itu. Sempat hilang dari pasaran, kabarnya saat ini beredar lima versi bajakan.

Dua pekan sebelum buku itu terbit, Haris menjalin kontak dengan George. Ketika itu Haris di Jakarta dan George di Yogyakarta. Hubungan telepon di antara keduanya untuk mengingatkan kembali perbincangan mereka di Doekoen Coffee pada masa kampanye pemilihan presiden Juni 2009. Dalam pertemuan itu George menyatakan sedang mengumpulkan data dan informasi tentang yayasan yang berafiliasi ke Yudhoyono, keluarga, dan tim suksesnya. Haris mendukung. Apalagi George telah menulis buku tentang korupsi tiga presiden sebelumnya: Soeharto, B.J. Habibie, dan Megawati. Haris mengatakan kini saatnya membongkar korupsi presiden yang sedang berkuasa. ”Semangatnya sama dengan lagu Peterpan, Buka Topengmu,” kata Haris.

Momentum perhatian orang pada skandal bailout Bank Century mereka manfaatkan. Haris bersama tim Doekoen Coffee memasok data Bank Century. Haris adalah pengurus Departemen Pemuda Partai Amanat Nasional pada kepemimpinan Soetrisno Bachir. Untuk menggarap skandal Bank Century, ia menggunakan bendera Petisi 28. Ini adalah kelompok peniup trompet skandal Bank Century yang aktif menggalang demonstrasi menentang Yudhoyono.

Sesuai dengan namanya, Petisi 28 terdiri atas 28 orang aktivis lembaga swadaya masyarakat dan akademisi. Selain Haris yang menjadi koordinator, ada pengamat politik Universitas Indonesia, Boni Hargens; Masinton Pasaribu dari Relawan Perjuangan untuk Demokrasi; Danang Widoyoko; Deni Daruri; dan Adhie Massardi.

Kamis dua pekan lalu, mereka mendeklarasikan Maklumat Pemuda, yang akan berdemonstrasi besar-besaran pada 28 Januari ini—memprotes Yudhoyono pada hari ke-100 pemerintahannya. Dalam deklarasi ini hadir bekas Kepala Staf Angkatan Darat Tyasno Sudarto, yang dengan gagah mengepalkan tangan meninju langit. ”Sistem dan pemimpin Indonesia sudah rusak. Kalau mau diperbaiki, ganti rezimnya,” kata Tyasno.

Sumber di kalangan aktivis Jakarta mengatakan George memang sedang menyusun buku tentang yayasan yang punya persinggungan dengan Yudhoyono. Tapi George tak punya uang untuk menerbitkannya. Haris bersama kelompoknya memberikan fulus.

George belakangan dikabarkan juga sedang sepi proyek. ”Dia butuh uang,” kata kawan dekatnya. Soal ini, George tak mau banyak bicara. Ia kini menyepi di Kaliurang, Yogyakarta, dan ogah diganggu juru tinta. ”Saya sedang menyelesaikan pekerjaan yang tertunda gara-gara banyak menanggapi Gurita Cikeas,” katanya.

Haris membantah telah menggelontorkan duit untuk Gurita Cikeas. Inisiatif menulis buku itu, kata dia, datang dari George. Data tentang Bank Century berasal dari Haris dan tim di Doekoen Coffee. ”Tapi, selain Bank Century, semua bahan adalah hasil riset dan kajian Pak George sendiri.”

Julius Felicianus, Direktur Galangpress, penerbit Gurita Cikeas, juga menyangkal disebut menerbitkan buku untuk menghantam Presiden. ”Swear, saya tahu betul George. Dia kawan lama saya,” kata Julius. Galangpress juga tak menginduk pada partai mana pun. Apalagi, kata Julius, Galang dan George juga terikat kesepakatan hukum: isi buku itu tidak boleh fitnah, menjelek-jelekkan orang lain, atau mengandung upaya menggulingkan Yudhoyono. Menurut Julius, buku itu terbit lewat diskusi panjang dirinya dan George tiga bulan lalu. George sudah punya data primer. Data sekunder mereka ambil dari media massa.

George, kata Julius, butuh waktu dua minggu untuk menulis dengan melibatkan dua orang dari Galangpress. Untuk itu, George mendapat honor berdasarkan royalti. Tapi, ”Saat ini belum kami hitung,” kata Julius lagi.

Penuh sensasi, Gurita kini punya lawan: Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Revisi Buku, ditulis Setiyardi. Isinya juga sama tak meyakinkan. Lebih mirip resensi dalam kertas 32 halaman, ”buku” itu membantah George secara harfiah.

Menurut ”penulisnya”, buku tandingan Guritas Cikeas ini terbit semata-mata karena alasan bisnis. Mengaku bergulat di bisnis penerbitan, Setiyardi ingin menangkap peluang bisnis dari heboh buku George. Ia mencetak 10 ribu buku dan kini sedang mencetak 7.000 lagi. ”Laris, banyak yang pesan,” katanya.

Hanya alasan bisnis? Tidak juga. Soalnya, sepekan sebelum Hanya Fitnah & Cari Sensasi diluncurkan, staf khusus presiden bidang otonomi daerah dan penanggulangan bencana alam, Andi Arief, diketahui mengirimkan bantahan Gurita Cikeas kepada sejumlah orang. Dikemas dalam tiga file Power Point, isinya tak jauh beda dengan Hanya Fitnah.

Setidaknya tiga sumber Tempo di kalangan Istana memastikan buku itu memang lahir dari ”kajian” tim Andi Arief—bekas aktivis Partai Rakyat Demokratik yang belakang merapat ke kubu Yudhoyono. Setiyardi dan Andi adalah teman lama ketika sekolah di Lampung dan Yogyakarta. Setiyardi membenarkan kedekatannya dengan Andi. ”Dia memang teman saya,” katanya.

Andi Arif membantah keterlibatannya dalam proses pembuatan buku Setiyardi. ”Dia memang kawan saya, tapi sama sekali saya tak terlibat,” katanya kepada wartawan Tempo Yuliawati, Sabtu pekan lalu. Dia juga membantah adanya tim yang mengkaji buku George. ”Kalau saya membuat buku,” katanya, ”hasilnya akan lebih baik daripada karya Setiyardi.”

Sumber: TEMPO Edisi No 3848/18-24 Januari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan