-->

Kronik Toggle

Ekspresi Kejujuran Sam Abede Pareno

SURABAYA- Ekspresi kejujuran sekaligus romantisme Sam Abede Pareno (62) sebagai anak manusia amat terasa mengental dalam novelnya berjudul Satu Pria Tiga Wanita. Melalui sentuhan karya sastranya, kakek enam cucu itu mengungkapkan sebagian kisah kehidupannya dalam balutan fakta dan fiksi, tatkala bersinggungan dan bersentuhan dengan perempuan-perempuan yang sempat berlabuh di dalam hatinya.

“Tidak ada kesan sensasional dalam judul novel Satu Pria Tiga Wanita, terkecuali pesan ‘mari kita pelihara rasa cinta’,” kata Sam Abede Pareno dalam peluncuran novelnya berjudul Satu Pria Tiga Wanita, Kamis (28/1) di Universitas Dr Soetomo, Surabaya.

Sam Abede Pareno, yang dikenal di kalangan wartawan dan seniman, merasa perlu jujur dalam usianya yang menapak senja kepada dirinya dan keluarganya. Alasannya dalam mengarungi kehidupan, termasuk di dalamnya adalah kehadiran perempuan, khususnya sang ibu yang nilai ketulusan dan keluhuran cintanya kepada sang anak, sulit tergantikan oleh siapa pun dengan apa pun.

“Istri saya yang sekarang memang belum membaca novel ini. Kalaupun dalam novel ini saya tidak menyebut namanya, bukan berarti saya tidak punya kenangan dan menghargainya sebagai wanita dan istri,” katanya menjawab pertanyaan salah seorang undangan, Ny Wiwik yang hadir dalam peluncuran novel Satu Pria Tiga Wanita.

Kawin bukan nikah

Sam Abede Pareno, guru besar Universitas Dr Soetomo mengatakan, suatu saat nanti dalam perjalanan penulisan kreatif sastra (novel), dirinya akan melahirkan karya yang sama yang nantinya akan menguak kisah kehidupan bersama istrinya tersebut. “Suatu saat nanti, saya akan menuliskannya,” begitu katanya.

Abuya Gus Luthfi Muhammad, pengasuh Ma’hadul ‘Ibadah al-Islami, Tambak Bening, Surabaya, yang secara khusus dihadirkan oleh Sam Abede Pareno untuk membedah karyanya mengatakan, selintas karya sastra “novel” Sam Abede Pareno terkesan poligami, namun dalam substansinya menyiratkan tiga sosok perempuan citraan Indonesia.

“Walaupun ada yang perlu disempurnakan, misalnya, sebutan wanita yang berkonotatif negatif dalam pandangan kaum perempuan. Begitu pula dengan penggunaan kata kawin yang berkonotasi untuk binatang, alangkah indahnya kalau diganti dengan nikah yang lebih tepat,” ucapnya.

Dia mengatakan, dalam novel karya Sam Abede Pareno ini pula terbesit nilai-nilai spritualitas, selain pola pikir keindonesiaan tanah Maluku dan sosok tiga perempuan Indonesia oleh penulisnya dalam novel Satu Pria Tiga Wanita. (TIF)

*) Dikronik dari Kompas, 29 Januari 2010

1 Comment

dewi yanti - 02. Nov, 2010 -

aku suka dengan karya-karyanya salah satunya asmara berselimut kabut………sensasional….. menjadi inspirasi besar saya dalam menjalani hub saat ini yang memang berbeda keyakinan

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan