-->

Kronik Toggle

Dua Pembunuh Wartawan Radar Bali Dituntut Hukuman Mati

DENPASAR – Persidangan kasus pembunuhan Anak Agung (A.A.) Gde Bagus Narendra Prabangsa, wartawan Radar Bali (Jawa Pos Group), pada 11 Februari 2009 mendekati selesai. Itu ditandai dengan pembacaan tuntutan terhadap tiga terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar kemarin (26/1). Dua terdakwa dituntut hukuman mati, sedangkan satu lagi dituntut penjara seumur hidup.

Yang dituntut mati oleh jaksa penuntut umum (JPU) adalah Nyoman Susrama dan I Nyoman Wiradnyana alias Rencana. Sedangkan I Komang Gde ST alias Mangde Cenik dituntut seumur hidup.

Di antara tiga terdakwa yang dituntut kemarin, Susrama dihadirkan kali pertama dalam sidang. JPU beralasan, adik Bupati Bangli Nengah Arnawa itu dituntut hukuman mati karena dinilai secara sah dan meyakinkan ikut melakukan perencanaan dan pembunuhan secara bersama-sama atas Prabangsa sebagaimana diatur dalam pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Mendengar tuntutan tersebut, Susrama yang hadir dengan mengenakan batik hitam tidak bereaksi berlebihan. Setelah sidang, dia bahkan menyalami sejumlah pendukungnya dan menebar senyum. ”Saya serahkan semua kepada Yang di Atas (Tuhan). Saya merasa tidak melakukan seperti yang didakwakan (pembunuhan, Red),” ujarnya kepada wartawan.

Susrama berencana menyampaikan pembelaan pribadi, selain pembelaan dari para pengacara, di hadapan majelis hakim yang dipimpin Djumain Selasa depan (2/2).

Tuntutan dibaca secara bergantian oleh tiga JPU -Lalu Saifudin, Eddy Bujana Yasa, dan Nyoman Sucitrawan. Menurut JPU, terdakwa sempat menggelar pertemuan di rumah di kawasan Banjar Petak, Desa Bebalang, Bangli, 6 Februari 2009. Pertemuan itu dinilai sebagai unsur perencanaan.

Rapat itu diikuti Komang Gde ST dan Rencana. Yang dibicarakan adalah rencana membunuh Prabangsa. Pasalnya, Susrama marah atas pemberitaan soal dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Bangli yang dimuat di Radar Bali.

Selain itu, Susrama dinyatakan melakukan survei lokasi pembuangan mayat pada 8 Februari bersama para terdakwa lain ke Pantai Belatung, Klungkung. Bukti lain yang diajukan JPU adalah keterangan dua saksi, I Nengah Mercadana dan Nyoman Rajin, yang pada 10 Februari diminta Susrama libur dari pekerjaan pembangunan rumah di Banjar Petak, Bebalang.

Pembunuhan dilakukan pada 11 Februari 2009. Itu diawali dengan pengintaian terhadap Prabangsa di Dinas Pendidikan Bangli. Lantas, sorenya, Prabangsa dijemput Komang Gde ST, Komang Wardhana, Sumbawa, dan Nyoman Wiradnyana di Taman Bali, Bangli.

Hari itu Susrama memerintahkan dan mengomando terdakwa lain untuk memukuli Prabangsa. Bahkan, dia ikut memukul dengan balok kayu. Akibatnya, Prabangsa jatuh tersungkur dalam kondisi bersimbah darah.

Atas rangkaian keterlibatan terdakwa itu, JPU menyatakan, dakwaan primer pasal 340 KUHP jo 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama telah terbukti. Jadi, JPU tidak lagi membuktikan dakwaan subsider pasal 338 KUHP jo 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan.

Meski beberapa terdakwa mencabut keterangan dalam BAP (berita acara pemeriksaan), JPU tetap menggunakannya sebagai dasar untuk menyusun tuntutan. JPU beralasan, tidak ada dasar kuat untuk mencabut BAP. Alasan terdakwa yang menyatakan mengalami kekerasan dan tekanan dari penyidik polisi tidak bisa diterima. Sebab, menurut JPU, dari keterangan saksi verbal penyidik kepolisian, tekanan serta kekerasan dalam pemeriksaan tidak pernah terjadi dan tidak bisa dibuktikan.

Menyangkut motif pembunuhan, JPU menyebut mengarah pada pemberitaan soal proyek-proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli sejak awal Desember 2008 yang ditulis Prabangsa. Salah satunya proyek pembangunan TK dan SD Internasional. Susrama menjadi pemimpin proyek.

JPU juga mengurai unsur yang memberatkan terdakwa. Selain perbuatan yang dilakukan sangat keji karena menghilangkan nyawa orang lain, JPU menilai terdakwa berbelit-belit selama persidangan. ”Terdakwa juga tidak menyesali perbuatannya,” kata jaksa Nyoman Sucitrawan dalam persidangan. JPU tidak menemukan unsur meringankan.

Dalam sidang kedua, Nyoman Wiradnyana alias Rencana juga dituntut hukuman mati. Selain ikut dalam perencanaan, pegawai Susrama itu juga memukul kepala Prabangsa dengan balok kayu. ”Terdakwa tidak pernah menyesali perbuatannya,” kata JPU yang terdiri atas jaksa Agung Mega, Rusdu, dan Ida Ayu Sulasmi.

Di ruang sidang terpisah, terdakwa Komang Gde ST alias Mangde Cenik dituntut hukuman seumur hidup. Meski terbukti terlibat dalam pembunuhan berencana yang melanggar pasal 340 KUHP jo 55 ayat 1 ke-1, dia dinyatakan hanya sekali memukul korban di bagian tubuh dan tanpa menggunakan balok kayu. ”Usianya masih muda dan sopan dalam persidangan,” kata JPU IB Argita Chandra di depan majelis hakim yang dipimpin IGN Adhi Wardhana.

Pengacara terdakwa, Sugeng Teguh Santosa, menganggap tuntutan mati itu halusinasi jaksa. ”Soal pertemuan 6 Februari, itu kan tidak pernah terungkap dari keterangan saksi,” ujarnya. (pra/art/jpnn/dwi)

*) Dikronik dari Jawa Pos, edisi 27 Januari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan