-->

Resensi Toggle

Catcher In The Rye

salinger
Penulis: J.D. Salinger
Penerjemah: Gita Widya Laksmini
Penerbit: Banana Publisher
Tahun: 2005 – cetakan I
Tebal: 300 hal
Oleh: Endah Sulwesi

Novel ini diterbitkan pertama kali pada 1951 di Amerika Serikat, tempat kelahiran penulisnya, Jerome David Salinger. Pria kelahiran 1919 ini berayahkan Yahudi dan ibu berdarah Skotlandia. Dari ibunya yang berprofesi sebagai aktris inilah ia mewarisi darah seni dan menuntunnya menekuni bidang penulisan. The Catcher In The Rye adalah karya yang mengangkat nama dan reputasinya sebagai penulis.

Alkisah, adalah seorang remaja pria berusia enambelas tahun yang baru saja dikeluarkan dari sekolahnya karena tidak lulus ujian. Dari lima mata pelajaran yang diujikan, hanya satu saja yang lulus : Bahasa Inggris.

Holden Caulfield, anak yang tidak lulus itu, sebenarnya cukup cerdas. Terbukti ia diterima di Pencey Prep, sekolah paling favorit di Agerstown, Pensylvania.  Pencey adalah sekolah entah ke berapa yang disinggahi Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang nyaris sama.
Peristiwa itu terjadi pada bulan Desember menjelang hari Natal. Sebenarnya, Holden masih punya waktu tiga hari lagi sebelum benar-benar harus hengkang dari Pencey. Namun, pertengkaran dengan teman sekamarnya, memaksa ia harus meninggalkan sekolahnya itu lebih cepat.

Dalam kebingungannya tak tahu harus ke mana – ia tak berani pulang ke rumah – Holden lantas terdampar dari satu penginapan ke penginapan lainnya, menghabiskan sisa uang sakunya di bar dan klub-klub malam dengan menenggak minuman keras serta ‘main perempuan’. Tingkahnya yang sok dewasa itu sering  menimbulkan kelucuan atau malah keharuan. Ia membenci hampir semua orang dan segala hal dalam hidupnya, kecuali kedua orang adiknya :  Phoebe dan Allie. Phoebe pulalah yang kemudian membuat Holden membatalkan niatnya untuk kabur dari rumah selamanya.

Kisah ini hampir seluruhnya disampaikan dalam bentuk monolog Holden yang dipenuhi umpatan dan caci-maki kepada semua orang dan segala hal : teman sekamarnya, kakaknya, kepala sekolahnya, film-film Hollywood, sekolahnya, pemain piano di bar, pemilik klub, dan apa sajalah. Dituturkan dalam bahasa percakapan sehari-hari yang ringan, akrab, dan gaul, sehingga kita seperti sedang mendengarkan curhat seorang sahabat yang berlagak tak pedulian, sok berani, namun jujur setengah mati.

Sesungguhnyalah, Holden tidak benar-benar seorang pemarah. Ia hanya berani mengumpat dan mengomel dalam hati. Terbungkus oleh sifat-sifat pemberangnya, sejatinya ia adalah sosok pribadi lembut yang rapuh serta gampang terharu oleh hal-hal kecil.

Konon, masa remaja adalah masa paling sulit dalam hidup seseorang. Masa-masa labil saat seseorang mencoba menemukan identitas dan jati diri. The Catcher In The Rye dengan sangat menawan memaparkan gejolak jiwa, emosi, mimpi-mimpi, serta soal betapa repotnya menjadi seorang remaja (Amerika) berusia enambelas tahun. J.D. Salinger berhasil menghidupkan karakter utama berikut peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Dan ia mengakhiri novel psikologi ini dengan sangat menyentuh, menerbitkan rasa haru.

Sungguh mengagumkan, buku yang ditulis lebih dari limapuluh tahun lalu, masih tetap menarik dibaca hari ini.

Sayangnya, dalam edisi bahasa Indonesia ini, ada terjemahan yang terasa kurang tepat, yaitu untuk kata “we” yang seharusnya diterjemahkan sebagai “kami”, sering diterjemahkan menjadi “kita”.

Sumber: Blog Buku Endah Sulwesi.

3 Comments

rio - 03. Sep, 2010 -

sbelum ngbunuh john lennon,,mark david chapman baca buku ini loh..
buku yg jahat!!
hehehe..

ariezal - 22. Sep, 2010 -

kayanya bukunya lumayan keren,, ada dijual ga versi indo dan englishnya??

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan