-->

Kronik Toggle

Buku Lagu Fiska Peni

Bebas Pilih Lagu

NAMANYA memang Fiska Peni. Namun, grup musik keroncong yang berdiri pada 5 Mei 2001 itu tidak hanya terdiri atas pensiunan pegawai pajak. Di kelompok yang anggotanya terdiri atas 30 orang tersebut, berkumpul berbagai profesi. Di antaranya, pendidik dan jaksa. Ada juga guru besar yang masih aktif hingga ibu rumah tangga. “Kelompok kami ini memang tebuka untuk siapa saja,” ungkap Hudaja, ketua keroncong Fiska Peni.

Keterbukaan itulah yang menjadikan mereka mudah untuk mewujudkan tujuan. Yakni, melestarikan budaya. Semakin banyak orang yang terlibat, semakin banyak pula yang peduli terhadap kelestarian budaya tersebut. Pemikiran itu yang menjadikan para anggota memperbolehkan siapa saja bergabung dengan mereka. “Selain memperluas pelestarian budaya, adanya anggota dari kalangan lain membuat kami mendapatkan banyak informasi,” sambung pria kelahiran Bojonegoro itu.

Sebab, lanjut dia, perbincangan tidak hanya seputar perpajakan. Bila sedang berbicara dengan guru atau anggota dari pendidik, mereka mendapat ilmu tentang pendidikan. Bahkan, ketika bertukar pikiran dengan pensiunan jaksa, mereka paham tentang permasalahan hukum yang sedang in. ”Pokoknya, menyenangkan bisa mengenal banyak orang,” tegasnya.

Hal yang sama diungkapkan Erna Estoeti. “Bisa bernyanyi bersama dengan suami di sini,” ucap istri mantan Kajati Jatim Moch. Adenan Kasian tersebut. Memang, dalam latihan itu, para anggota boleh bernyanyi sesuka hati. Sendirian maupun berduet. Mereka bebas memilih lagu yang disenangi. Baik lagu keroncong dahulu kala, lagu Jawa, maupun lagu pop yang diubah sebagai lagu keroncong. “Tinggal bilang, nanti para pemusik memainkannya. Mereka sudah jago semua,” sambung pria berusia 70 tahun itu. (may/nda)

Ada Buku Khusus Catatan Latihan

SETIAP berlatih, kelompok musik Keroncong Fiska Peni selalu serius. Mereka menyiapkan buku khusus yang berisi nama anggota, judul lagu, dan kunci musiknya.

Salah satu yang tampak asyik adalah Achmad Ruzali. Dengan sepenuh hati, pria 62 tahun itu melantukan Sepasang Mata Bola. Kunci A dia pilih untuk musik yang mengiringinya. “Musik ini membuat hati happy,” ujar pria kelahiran Banjarmasin tersebut.

Mantan kepala Kantor Pelayanan Pajak Semarang Timur itu sering bernyanyi saat latihan. Tidak hanya sekali, tapi lebih dari dua kali. “Kalau menyanyi keroncong, kita harus taat asas. Tidak boleh asal improvisasi,” ujarnya.

Menurut Ruzali, orang yang menyanyi keroncong memiliki kemamapuan yang bagus dalam olah vokal. Menurut dia, seseorang yang hebat dalam musik keroncong pasti bisa menyanyi lagu lainnya.

Sebelum menyanyi, Ruzali mengisi kertas daftar lagu yang akan dinyanyikan lengkap dengan kunci nada pilihan. Hal yang sama dilakukan oleh para anggota lainnya. Tak heran, dalam kertas tersebut ada puluhan nama, lagu, dan kunci nada di samping judul lagu mereka. “Buku ini memudahkan kami saat latihan,” tutur Hudaja, ketua Keroncong Fiska Peni.

Sebab, dengan melihat buku, para penyanyi dan pemain musik tahu lagu apa yang akan dinyanyikan. “Setelah latihan, daftar dalam kertas ini kami salin ke buku. Buku khusus itu untuk inventaris pribadi. Jadi, kalau akan latihan lagi atau pentas, kami tidak kebingungan,” jelasnya. (may/nda)

*) Dikronik dari Jawa Pos, 20 Januari 2010 dengan judul berbeda

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan