-->

Tokoh Toggle

Bagus Susilowanto:Kios Koran Kejujuran

bagus SusilowontoSetahun Terakhir Pelanggan Selalu Bayar

Ajakan berbuat jujur bisa datang dari penjual koran. Seorang pengecer di Sidoarjo membuka kios koran kejujuran yang diberi nama Ayo Jujur. Meski mirip kantin kejujuran, dia menyatakan tidak terinspirasi warung yang dipopulerkan KPK itu.

AHMAD ZARKASI

LARANGAN tegas, jangan berbuat zalim, tertulis di selembar kertas ukuran folio di papan tempel kios Ayo Jujur. Kios koran dan majalah di jalan masuk Perumahan Sidokare Indah, Sidoarjo.

Tak berbeda dari kios umumnya, Ayo Jujur juga memajang dagangan. Berderet koran harian, mingguan, tabloid, dan majalah dijepit di papan sepanjang dua meter yang menempel di tembok.

Sebagian stok ditaruh di rak kecil di bawah deretan pajangan koran. Sebuah kotak dari gabus diletakkan di sebelah kiri papan, tepat di bawah tempelan kertas folio. Ada tulisan ”Tempat bayar koran dan tabloid” di kotak tersebut.

Memang tidak ada yang menjaga kios itu. Pembeli bisa langsung mengambil koran atau majalah setelah melihat daftar harga yang tertempel di papan.

Bisa jadi, kios milik Bagus Susilowanto tersebut merupakan satu-satunya kios kejujuran di luar lembaga pendidikan dan kejaksaan. Sebagaimana sering diberitakan, kantin kejujuran yang dipopulerkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) banyak bermunculan di sekolah-sekolah dan kantor kejaksaan.

Kios itu merupakan salah satu sandaran Bagus dan keluarganya. ”Hari ini, uang di kotak pas dengan koran yang laku,” katanya setelah menghitung uang ribuan di kotak dan koran di kiosnya, Rabu (20/1).

Selain kios kejujuran, bapak tiga anak itu menjadi agen iklan beberapa koran. Istrinya, Puput Ernawati, berjualan bakso plus koran di rumahnya, Jalan Magersari. ”Tapi, (kios) yang di rumah dijaga,” kata Bagus.

Meski begitu, Puput kadang meninggalkan rumah tanpa menutup kiosnya. Misalnya, jika mengantar-jemput anak ketiganya, Bilqis Aprilia, yang masih kelas 3 SD. Sebab, tiap hari Puput harus mengantar-jemput anaknya ke sekolah. Pembeli koran tetap bisa mengambil koran, meski Puput keluar. Konsepnya hampir sama dengan di kios Ayo Jujur. ”Cuma untuk koran, sedangkan baksonya ya harus tunggu saya,” tegas perempuan 41 tahun itu.

Pernah, suatu hari koran Jawa Pos dari agen tiba di rumahnya ketika dirinya hendak mengantar anaknya ke sekolah. Segebok koran yang diterima belum sempat dimasukkan ke rumah dan dihitung. ”Tapi, saya tetap tahu jumlahnya, kan ada di catatannya,” ujarnya.

Meski sedikit cemas, Puput tetap mengantar anaknya. Ketika kembali ke rumah, dia kaget. Gebokan koran itu raib. Dia sempat lesu karena kepikiran harus mengganti setoran 60 eksemplar Jawa Pos.

Tak berapa lama, secara tak sengaja dia menemukan setumpuk uang dalam amplop cokelat di bawah tumpukan koran lawas yang tidak laku. ”Jumlahnya klop dengan Jawa Pos yang diambil pembeli itu,” paparnya. Perempuan asal Nganjuk tersebut tak mengerti untuk apa orang itu memborong Jawa Pos.

Lebih dari dua tahun Bagus menjual koran di kios kejujurannya. Selama itu hampir tak ada kerugian berarti. Suatu hari jumlah uangnya kurang, tapi pada hari yang lain ada yang memberi lebih. ”Setahun terakhir ini, pelanggan saya lebih banyak yang jujur,” ungkapnya. Rata-rata pendapatannya Rp 100 ribu pada hari-hari biasa. Pada Sabtu-Minggu biasanya sampai Rp 250 ribu.

Bagus membuka kios kejujuran itu semata-mata karena kalkulasi matematis. ”Jadi, bukan karena meniru kantin kejujuran KPK,” katanya lantas tertawa.

Alumnus Filsafat UGM 1994 tersebut bercerita, kios itu sebelumnya dijaga. Pada 2007, dia mengupah dua pekerja yang dibagi dalam dua sif. Masing-masing kebagian tugas lima jam menjaga kios dengan upah Rp 300 ribu per bulan. ”Tapi, saya tetap harus melakukan pekerjaan administratif. Urusan bon, nota, dan rekap biaya retur saya lakukan sendiri,” keluhnya.

Menurut penilaiannya, punya pekerja dan tidak seperti tidak ada bedanya. Karena itu, dia pun berspekulasi membuka kios kejujuran. Perhitungannya, jika dia mengupah dua pekerja, sebulan keluar ongkos Rp 600 ribu. Sementara itu, pada setahun awal Ayo Jujur, kehilangannya tak sampai Rp 300 ribu. ”Ruginya, kadang cuma ulah beberapa orang yang mengambil uang di kotak,” ujar pria kelahiran 3 Juni 1965 tersebut.

Kini, dia hafal jam-jam ramai pembeli di kiosnya. Dengan demikian, Bagus punya jadwal rutin mengunjungi Ayo Jujur. ”Rame-rame-nya sekitar pukul 09.00. Selepas itu fluktuatif, kadang rame, kadang sepi,” katanya. Di luar itu, waktunya digunakan untuk kerja lain. Misalnya, mempromosikan kiosnya melalui brosur dan pamflet. ”Kadang juga nagih biaya iklan yang sudah dipasang,” jelasnya.

Dia merasa enjoy membuka kios kejujuran. Apalagi, dia lebih suka bekerja tanpa terikat waktu. ”Kadang, bekerja itu dipengaruhi mood. Bila tak sesuai mood, saya kurangi ritme kerja,” ungkap pria berbobot sekitar 80 kg itu.

Sebelum kerja mandiri, pria yang juga lulusan diploma IKIP Jogja 1992 itu sempat menjadi ”kutu loncat”. Bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Sempat menjadi makelar mobil, marketing salah satu radio swasta di Surabaya, dan marketing perusahaan percetakan. Pada 2005, dia mengawali karir sebagai agen iklan dan pengecer koran.

Semula, dia punya beberapa pengasong dan loper. Setiap pagi dia membagi koran kepada beberapa loper. Pelanggannya, antara lain, warga di Perumahan Sidokare Indah, Pondok Jati, bahkan Puri Indah. Bagus bagaikan bos kecil. Tapi, posisi itu membuat dirinya merasa tak leluasa bergerak.

Dia membuka kios, tanpa pengasong, tanpa loper, dan kini malah tanpa penjaga. Tampaknya, cara itu cocok bagi Bagus. Buktinya, dia berencana membuka cabang Ayo Jujur di beberapa tempat. Namun, rencana itu bakal diwujudkan setelah menyurvei karakter warga di tempat tersebut. (*/cfu)

*) Dikronik dari Jawa Pos, 22 januari 2010

2 Comments

Bung Eko - 04. Feb, 2010 -

Keren. Bagus sekali idenya.
Mungkin ada kios koran di Jogja yang mau mengambil langkah serupa?

Isak H. - 14. Feb, 2011 -

Bagus,perlu dicontoh untuk para penjual yang lainnya. Mohon Redaksi bisa mengirimkan ke email saya alamat email atau nomor telpon Bp Bagus Susilowanto. Terimakasih.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan