-->

Tokoh Toggle

Andrei Aksana:Dua Sisi Kehidupan

Andre Aksana_image.tempointeraktif.comJakarta – Fenomena dalam masyarakat urban, yang selalu bergerak, menarik disimak. Penulis Andrei Aksana tidak menyia-nyiakan pengamatannya di lingkungan kaum urban dengan segala pernik cerita. “Saya terinspirasi membuat novel bergenre pop potret kehidupan masa kini berjudul Janda-Janda Kosmopolitan,” ujarnya tenang, setenang ekspresinya, menjelaskan novel yang diluncurkan kemarin malam di Soho Music café, Senayan City, Jakarta. Dia menjelaskan, kehidupan sekitar temannya, antara lain, wanita-wanita muda, sukses, cantik, punya segala hal, menikah, lalu bercerai.

“Saya menyajikan kehidupan para janda dalam sisi berbeda. Bukan sisi negatif. Justru kisah ini ingin memuliakan wanita,” tutur Andrei. Malam itu peluncuran novel pria berpenampilan modis ini dihadiri teman-temanya, yang mayoritas selebritas, seperti Feby Febiola, Anjasmara, Yuni Shara, dan Bella Shapira.
Saat temui Senin pagi lalu yang dingin di kantornya yang nyaman di kawasan Bintaro Sektor 7, Tangerang, Andrei yakin, dalam kehidupan, selalu ada dua sisi. Seperti dalam novelnya, yang memberi inspirasi, kaum Hawa sebaiknya tetap memiliki daya kendati harus menjanda. Bagi dia, janda adalah status terhormat meskipun, berdasarkan pengamatannya di kehidupan sosial, janda selalu berkonotasi negatif.

Dalam novelnya, Andrei menyajikan dua sisi wanita yang sama-sama janda dari dua kultur. Salah satunya janda kaya, majikan dengan gaya hidup kosmopolitan. Sedangkan satunya lagi janda si pembantu, yang mewakili gaya hidup orang desa. “Tetapi intinya, saya ingin memberi inspirasi dan support bahwa perempuan harus berdaya, apa pun kondisinya,” ucapnya penuh harap.

Dalam kehidupan nyata, ia mengakui punya dua sisi kehidupan, yakni sebagai penulis dan pekerja kantoran. Profesi terakhir dia percayai sebagai sisi yang mampu membuat keseimbangan dan membuat dirinya terus menjaga realitas kehidupan, tidak terbuai oleh imajinasi yang biasa dimiliki para penulis dengan pola hidup ala seniman.

“Mungkin saya tercengang melihat gaya hidup opung dan mama, yang juga penulis, karena totalitasnya pada profesi, mereka jadi berlaku aneh. Saya tidak mau seperti mereka,” ujar Andrei, yang merupakan cucu pujangga Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Dia anak kedua novelis Nina Pane dan Jopie Boediarto.
Kakek buyutnya adalah Sultan Pangurabaan Pane, pendiri surat kabar Surya di Tapanuli, penulis roman Tolbok Haleon, dan pengelola kelompok musik tradisional uning-uningan. Toh, ia bereaksi keras ketika dianggap menulis dengan mengandalkan faktor keturunan dan nama besar keluarga. “Dari awal berkarier sebagai penulis, saya tidak pernah menyertakan nama mereka. Saya muncul dengan sosok Andrei Aksana. Baru belakangan ini banyak penerbit tahu dan menyertakan hal tersebut,” tuturnya serius.

Bagi Andrei, bakat hanya 1 persen. Selebihnya kerja keras dan keringat. Dia menulis sejak kecil. Dia harus kucing-kucingan dengan sang mama, yang melarang Andrei membaca koleksi buku-buku di lemarinya. “Saya tak kehilangan akal, selalu punya cara karena saat terindah dalam hidup, ya, berada di antara tumpukan buku,” kata pria yang mengagumi sastrawan Pablo Neruda dan Ernest Hemingway ini.

Sejak kecil Andrei memang dilarang mamanya membaca dan berkarya sebagai penulis. Semua tulisannya sering dibakar, dirobek, dan dimasukkan ke tong sampah. “Saya tahu mama sayang saya dengan caranya. Dia selalu mengharapkan saya bekarier dan punya kehidupan normal,” ujar Andrei, yang yakin bahwa mamanya khawatir, penulis tidak punya masa depan dan tak punya kehidupan normal.

Dia memulai debutnya pada 1992 dengan meluncurkan novel Mengukir Mimpi Terlalu Pagi. Setelah kemunculan novel perdananya itu, pria lajang ini absen cukup lama karena serius kuliah di Universitas Udayana, hingga lulus sarjana seni desain grafis. Comeback-nya ditandai dengan novel Abadilah Cinta, yang menjadi fenomena sejarah perbukuan di Indonesia. Ini adalah novel pertama di dunia yang memiliki soundtrack dan dicetak ulang dalam waktu lima hari. Dia sendirilah yang menulis dan menyanyikan soundtrack tersebut.
Kesuksesannya disusul novel berikutnya, Cinta Penuh Air Mata, yang mengusung konsep karya multidimensi novel soundtrack klip video. Novel ini berdasarkan kisah nyata yang dituturkan selebritas terkemuka yang belum pernah dipublikasikan di media massa. “Saya punya misi idealis, dan akan melakukannya terhadap buku. Karena membaca memperkaya imajinasi sehingga bisa melahirkan generasi kreatif,” ucapnya.

Kesibukan sebagai general manajer public relations and marketing di perusahaan retail internasional tak membuat Andrei surut berkarya. Justru dia menyerap banyak gejala sosial yang mengilhami karyanya. Bahkan dia memberi angin segar berupa ide dan inspirasi gaya hidup masyarakat urban berupa smart shopper. Bagaimana menjadi penyuka mode tanpa harus menguras kantong.
“Produk yang kami miliki bersaing secara mutu dan harga. Makanya bisa gaya abis tanpa takut kocek menipis,” kata Andrei, yang aktif mengajar menulis bagi beberapa anak tak mampu di berbagai pelosok daerah. “Komitmen perusahaan kami (The Body Shop Indonesia) harus doing something untuk banyak orang. Karena kemampuan saya menulis, ya, saya mengajar mereka,” kata Andrei, yang tak jengah hidup seperti bunglon. Sebagai general manager, ia terbiasa di kehidupan glamor. Tapi dia juga menikmati hidup sebagai penulis dan sukarelawan. “Dengan dua sisi ini, saya memiliki kehidupan indah dan berbagi.” HADRIANI P

Boks
Nama: Andrei Aksana
Tempat tanggal lahir: Jakarta, 19 Januari…………………..
Status: Lajang

Pendidikan:
Sarjana Seni Desain Arsitektur Universitas Udayana, Bali, 2000
Program S-2 di salah satu lembaga pengembangan bisnis dan manajemen, Jakarta, 2005

Karier:
-1992-sekarang, penulis
-2000, Staf Publik Relations & Marketing The Body Shop Indonesia, Bali
-2005-sekarang, General Manager Cooperate Public Relations & Marketing The Body Shop Indonesia

Buku:
-1992-2008, Novel Mengukir Mimpi Terlalu Pagi, Abadilah Cinta, Cinta Penuh Air Mata, Pretty Prita, dan Karena Aku Mencintaimu
-2006, Buku Be A Writer (The Secrets of Best-Seller Novels)
-19 Januari 2009, Novel Janda-janda Kosmopolitan

Penghargaan:
-2008, Sebagai ikon sastra mengkampanyekan karya klasik Habis Gelap Terbitlah Terang, Kumpulan Surat-surat RA Kartini

*) Dikronik dari tempo online 20 Januari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan