Day: January 3, 2010

Gus Dur dan Buku

SAIFUL AMIN GHOFUR-Suatu sore, ketika senja merambah cakrawala di Jalan Matraman Kecil No 8 Jakarta, Nyai Sholehah kelimpungan mencari Abdurrahman ad-Dakhil. Putra sulung yang tempo itu berusia belasan tahun tersebut tak kunjung muncul. Ternyata, tak berapa lama Gus Dur (kecil) itu menyembul. Kepada ibunya, dia berkilah tak ke mana-mana, melainkan sejak semula membaca buku di balik daun pintu.

Selengkapnya >>

Melawan dengan Buku

RISANG ANOM P:Sejak manusia zaman klasik mulai menyadari efisiensi ekspansi peradaban dan menyebarkan aliran kepercayaan, benturan budaya pun mulai terjadi. Implikasinya, peradaban asli mulai disingkirkan. Segala penanda identitas seperti artefak budaya juga dimusnahkan, termasuk catatan-catatannya. Apabila cara ini kurang efektif, sasaran selanjutnya adalah pelaku kebudayaan yang dimusnahkan. Sejarah berkali-kali mencatat penghancuran peradaban dan pembunuhan massal seperti ini.

Selengkapnya >>

Listiyono Santoso:Buku Bisa Merubah Dunia

Buku merupakan pijar peradaban umat manusia. Berbagai perubahan sosial besar di dunia ini banyak bermula dari hadirnya sebuah buku. Dalam setiap buku seringkali terdapat sejumlah pikiran cerdas yang kemudian bisa mempengaruhi cara berpikir dalam masyarakat tertentu.

Selengkapnya >>

Suparto Brata:Nasib'Tidak Ada Nasi Lain'

RISANG ANOM PUJAYANTO:Kamar yang kira-kira berukuran 4×7 itu penuh dengan buku. Di sudut kamar, tata letak buku di lemari lebih rapi daripada yang berada di atas meja. Di samping kiri meja, ada komputer yang telah turut andil memproduksi puluhan buku, dari total 137 karyanya yang telah dipublikasi.

Selengkapnya >>