-->

Lainnya Toggle

POD: Semua Berhak Menjadi Penulis

Setiap warga kini berhak menjadi penulis dan menerbitkan bukunya sendiri. Sesuka-sukanya. Beberapa langkah lagi ke depan kita sudah tak mendengar lagi keluhan banyak orang bagaimana sulitnya membawa buku ke penerbit dan menunggu sekian lama untuk bisa melihat sosok “anak ruhani” itu. Teknologi percetakan telah membuka gerbang perayaan itu.

Teknik cetak “Print On Demand” (POD)—sebuah inovasi teknologi cetak digital (digital printing)—menenggang kita dari kutukan bahwa mencetak buku itu sulit. Disebut on demand karena hanya mencetak sesuai jumlah yang diminta. Mau cetak 100 eksemplar? Bisa. Cetak 50? Oke. Cetak 10? Tak masalah. Cetak sebiji? Siapa takut. Berapa pun jumlah cetakannya akan dilayani.

“Print On Demand” ini pertama kali didemonstrasikan perusahaan ingram/lighting print inc. pada pameran buku di Amerika sekira Juni 1998. Ingram menginduki anak perusahaan yang salah satunya adalah ingram book group yang ada di La Vergne, Tennessee. Anak perusahaan ini kemudian menjadi distributor terbesar untuk printer dan buku-buku on demand di Amerika. Mereka telah melayani lima ribu penerbit yang tersebar di seluruh dunia dan sudah mencetak lebih dari 41 ribu buku. (Widjanarko, 2001)

POD muncul awalnya hanya digunakan untuk mencetak poster dalam format besar dan jumlah sedikit. Ini tak bisa dilakukan dengan menggunakan mesin printer biasa yang lebar kertasnya terbatas. Namun lama-kelamaan beberapa perpustakaan universitas di Amerika mulai menggunakan POD untuk memperbarui beberapa koleksi buku tua yang mulai uzur. Buku-buku itu difoto kemudian dicetak. Sebelumnya, mereka sangat kesulitan untuk meregenerasi koleksi-koleksi itu. Keberadaan POD sangat membantu karena memungkinkan untuk mencetak dalam jumlah kecil sesuai kebutuhan.

Dengan sistem POD ini, proses cetak menjadi lebih mudah dan praktis. Jika dengan sistem cetak konvensional ada serangkaian ritual yang mesti dilalui naskah sebelum dicetak, dengan POD semua itu tak diperlukan lagi.

Tak usah memotret naskah halaman demi halaman, mengeplatnya pada baja/besi, lalu mencetaknya lembar demi lembar. Jalur rumit itu terpangkas habis dengan POD. Cukup siapkan saja naskah yang sudah tertata halaman dan ukuran kertasnya. Kemudian simpan dalam format PDF. Lalu cetak dengan bantuan komputer dan printer kualitas tinggi. Beri sampul, jilid, jadi. Sangat praktis dan efisien. Hemat biaya produksi dan hemat waktu pengerjaan.

Keuntungan lain dari POD adalah jika ada kesalahan yang baru diketahui di detik-detik terakhir, tak perlu risau, karena masih bisa diperbaiki tanpa biaya apa pun. Hal seperti ini jika dilakukan pada sistem cetak konvensional akan cukup menyulitkan. Karena sedikit saja perubahan berarti harus melakukan foto ulang dan membuat plat cetak baru. Itu berarti mengulur waktu dan menambah biaya produksi.

Dengan POD, biaya produksi bisa ditekan semurah mungkin. Di Percetakan Kanisius Jogja, misalnya, harga yang ditawarkan 20 ribu untuk 200 halaman. Angka ini terhitung murah untuk produksi dalam jumlah tiras kecil. Coba bandingkan dengan ketika Anda harus membayar sekira 20 juta untuk buku 200-an halaman di percetakan konvensional karena memakai kelipatan 1000 eksemplar. Gawatnya, semua biaya itu belum tentu balik modal karena buku terkena kutukan pasar: tak laku.

Menurut saya, inovasi POD sangat menguntungkan penerbit. Bayangkan saja, buku yang belum diketahui potensi pasarnya dapat dicetak dengan jumlah terbatas dulu. Jika pasar menerima dan buku itu laris, maka penerbit bisa mencetak dalam jumlah besar. Sedangkan buku-buku yang sudah dilempar ke pasaran dan mengalami cetak ulang, juga bisa dicetak sesuai permintaan pasar saja, tak perlu berlebih.

Jadi, penerbit tak perlu risau dengan kelebihan stok buku retur dari toko. Hal ini tak bisa dilakukan dengan sistem konvensional ketika buku dicetak dan dilempar ke pasaran secara gambling. Akibatnya, penerbit sering repot menambah gudang karena buku-buku yang tak terjual menggunung.

Keuntungan lain, penerbit bisa mencetak lebih banyak judul buku sehingga produksinya lebih variatif. Tak perlu khawatir buku akan menumpuk di gudang. Tinggal cetak saja dalam jumlah terbatas, sesuai permintaan. Kabar yang tentu menggembirakan bagi penerbit. Pun demikian bagi para pecinta buku, kutu buku. Semakin banyak buku diproduksi artinya semakin banyak ragam bacaan tersedia.

Keuntungan lain tentu saja kepada warga yang ingin menikmati rasanya memiliki buku yang ditulis sendiri. Sistem cetak POD memungkinkan naskah apa pun sekarang bisa diterbitkan menjadi buku. Misal, catatan harian yang remeh dan getir, atau kumpulan coretan puisi sentimentil, cerita guyonan, catatan reuni, kenangan pesta pernikahan, bahkan resep masakan keluarga. Apa saja, jika mau, bisa kok diterbitkan. Ketik saja dengan rapi, beri ilustrasi sampul, simpan dalam format PDF, bawa ke penyedia jasa POD, dan jadilah buku.

Artinya, sistem POD membuka pintu lebar-lebar bagi penulis untuk menentukan sendiri nasib tulisannya. Naskah yang sudah berkali-kali ditolak, yang membuat sakit hati dan “kesumat”, cetak saja sendiri. Lalu pasarkan sendiri juga dengan cara indie/mandiri. Titipkan ke bebebrapa pedagang atau toko buku. Kalau mau sedikit kreatif, bisa titipkan di tempat-tempat yang tak lazim, seperti café, taxi, warnet, dan lain-lain. Atau pasarkan saja secara on line.

Tak perlu lagi bergantung pada penerbit yang sudah mapan. Penulis menjadi pemegang kendali utuh atas naskahnya. Mau diapakan dan dibagaimanakan, semua terserah si empunya buku. Penulis pun dapat mengontrol arus penjualan. Jadi tak perlu cemas dengan kebiasaan penerbit yang kerap tak jujur soal oplah buku terjual.

Demikian sederhana, mudah, dan murah. Inovasi teknik cetak yang membawa revolusi besar bagi dunia buku. Terutama sekali menjadi jalan baru bagi penulis dan penerbitan. (Diana AV Sasa)

10 Comments

Amie Primarni - 30. Nov, 2009 -

Mbak saya tertarik untuk menerbitkan buku sendiri, tetapi masalahnya saya merasa butuh editor dan koreksi paling tidak gak salah-salah amat. Apakah komunitas indonesiabuku bisa membantu untuk menjadi mentor ?.

Diana AV - 01. Des, 2009 -

Salam mbak Amie,
Indonesiabuku memiliki beberapa editor freelance yang bekerja profesional.
Bila berminat bisa langsung menghubungi melalui email redaksi.
Bila hanya proofreader, redaksi bersedia membantu.
Semoga bukunya segera terbit.

Bambang Trim - 07. Des, 2009 -

Salam,

Saya mendapat link ini dari seorang teman di FB yang menyoal POD. POD kali pertama saya kenal pada 1997-an, lalu dimulai perburuan saya membuktikan POD versi Indonesia. Alhasil, saya tahu salah satu mesin populer yang digunakan adalah HP Indigo yang sekarang harganya berkisar Rp3,5 M. Saya kemudian tidak terlalu bergembira dengan harga cetak yang ditawarkan. POD versi Indonesia berbeda dengan yang terjadi sebagai ‘revolusi’ di Amerika dan Eropa. POD alih-alih sebagai solusi cetak manasuka yang murah, malah digunakan untuk membuat dummy bagi kepentingan buku-buku proyek pemerintah. Dosen-dosen pun sulit menggunakan POD untuk mencetak modul karena lebih murah menggunakan jasa percetakan kecil pinggiran.

Ya, saya coba mengikuti asumsi ini terus. Kanisius memberi angka 20.000 untuk buku setebal 200 hlm. Saya berasumsi ukuran standar A5 yang dalam cetak konvensional hitam putih berharga Rp40/hlm. Artinya, cetak konvensional skala massal 3.000 eks adalah seharga Rp8.000/eks. Buku tersebut bisa dilepas dengan harga Rp40.000 ke end user, tapi dengan POD saya harus melepas Rp100.000 setelah mempertimbangkan diskon distributor (hingga 50-55%), biaya cetak, dan biaya editorial. Meskipun kelebihannya kita bisa cetak cuma 10 eks.

Alhasil, POD versi Indonesia hanya pas buat koleksi, jualan terbatas pada captive market dan harus jual langsung (direct selling) tanpa melewati distributor. Sebagai bisnis (self-publishing) ini tidak menarik, tetapi sebagai aktualisasi mungkin bisa.

Sekadar berbagi Mbak Diana, mungkin ada info yang saya belum tahu.

Diana AV - 07. Des, 2009 -

Salam Mas Bambang Trim,
Anda betul. Jika untuk mass market, memang POD tidak tepat. Karena harganya lebih mahal. Dari referensi yang saya baca, POD di luar negeri memang digunakan terbatas. Contohnya untuk memperbarui teks-teks atau manuskrip lawas yang kertasnya sudah usang di perpustakaan universitas. Dan tentu saja, perpustakaan tak membutuhkan cetak dalam jumlah besar. POD lebih hemat untuk cetak terbatas.

Anda juga benar, POD lebih tepat untuk buku-buku koleksi (seperti buku Indonesiabuku) atau aktualisasi personal jika ngebet pengen bikin buku tapi tak juga ada penerbit besar yang mau. Jika ingin mengedarkannya ke pasar luas sebenernya tak sesederhana yang saya tulis. Ada beberapa hal yang mesti disiapkan. Saya hanya mengambil bagian ‘motivasi’ nya saja agara mereka yang ditolak penerbit tak putus asa. Maka terimakasih sekali tulisan Anda di note FB akan kami naikkan untuk melengkapi.

Salam

bambang haryanto - 14. Des, 2009 -

Tulisan yang mencerahkan. Saya ada pengalaman kecil : karena merasa ga bisa mendesain buku, saya coba-2 tanya ke pencetak POD. Petugasnya bilang, ditarik bayaran 1.5-2 ribu per halaman.

Pikir saya,mahal banget.
Padahal mau cetak bukunya sekitar 25-an ribu. Jadi solusi saya saat ini : mencoba belajar untuk mendesain buku. Cobaan yang berat.

Pustakawan - 16. Des, 2009 -

Pengalaman berharga tuh Pak Beha, kalo sudah lewat pengalaman mendesain buku itu, kawan-kawannya pasti kan menyusul.

catur - 04. Apr, 2011 -

Sepakat Mb Diana.
Dan menurut sy, POD memang kurang tepat bila disamakan dg cetak offset. POD punya sisi tersendiri terutama digunakan sebagai jalan keluar bagi para penulis yang tidak bisa menerbitkan bukunya mll penerbit konvensional. Sedangkn penulis menginginkan sekali karyanya utk terbit selayak buku pada umumnya. Selain itu, banyak penulis atau yang baru menulis terkendala dengan biaya, maka POD sesuai kemampuan bisa menjadi pilihan.

Sekarang mulai banyak penyedia layanan POD, ini bukti bahwa ini memang banyak dibutuhkan oleh para penulis.

Dan apabila ingin bisnis kecil dengan bukunya, POD juga masih bisa mendatangkan untung. Cara pemasarannya tentu tidak melalui distributor, nanti harganya tidak akan sesuai. Caranya adalah pasarkan sendiri. Jika buku setebal 200 hal ongkos produksinya 20.000, maka penulis bisa menjualnya seharga 35.000. (Bukan dikalikan 5 seperti pada produksi buku dgn cetak offset).

Jadi, bagi para penulis atau teman2 yg baru menulis, POD bisa menjadi jalan Anda untuk tetap bisa menghasilkan buku tanpa mengandalkan penerbit konvensional.

Sebenarnya banyak sekali sisi lain dari keunggulan POD, seperti juga dunia penulisan dan penerbitan yang selalu berkembang, yang tentunya menuntut kita utk selalu terpaku pada penerbit konvensional sebagai tolok ukurnya 🙂

catur - 04. Apr, 2011 -

Koreksi: Sebenarnya banyak sekali sisi lain dari keunggulan POD, seperti juga dunia penulisan dan penerbitan yang selalu berkembang, yang tentunya menuntut kita utk tidak selalu terpaku pada penerbit konvensional sebagai tolok ukurnya

Toko Buku Kabare Buku - 26. Jul, 2012 -

Bener.
Begitu juga dalam pen-distrubusi-an buku.

Serujuk BSE, misalnya, jika pihak orang tua ingin memanjakan perbandingan versi dan rujukan buku-buku pegangan untuk anak-anak tercintanya, POD menjadi salah satu solusinya.

Cara ini bisa membantu orang tua untuk menghindari keterkungkungan wawasan anak-anaknya dari satu dua BSE di taraf yang sama.

Orang Tua tidak harus menantikan BSE versi cetak yang umumnya hadir atas kerjasama pihak sekolah dengan pihak ketiga. Lain itu juga memberikan kesempatan yang fleksibel bagi anak-anak sekolah dengan memilih belajar: melalui versi buku cetak atau digital.

BSE Digital mudah didapat, BSE Cetak murah didapat.

Pertanyaanya : adakah POD di sekitar Anda?

Janji mudah dan murahnya jasa POD masih beriring situasi dan kondisi. Terlebih jika nantinya sudah ada dan banyak penawaran jasa/layanan POD. Mungkin bisa lebih murah lagi dibanding tarif rata-rata saat ini.

Amin saja bagi yang minat murahnya. Bagaimana dengan penjaja jasa? 🙂

S. ICHSAN PRAMBUDI - 07. Mei, 2013 -

Bos, tolong kabarkan bagaimana cara memesannya dan kontak personnya. tks

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan