-->

Lainnya Toggle

Tuku Buku Kutuk Buku

Oleh Muhidin M Dahlan

“Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling… Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yang melarangnya untuk insyaf dan bertobat.” (Emha Ainun Najib, “Menyorong Rembulan”, 1997)

Hari Rebo 21 Januari 1953, sekuplet berita tentang buku dirilis Java Post di halaman dua. Java Post adalah koran milik The Chung Sen yang terbit mula-mula 1 Juli 1949 di Kembang Djepun 166 Surabaya. Setelah berpindah kepemilikan tahun 1982, koran ini pun bersulih nama menjadi Jawa Pos yang terbit hingga kini.

Sejak awal Java Post ini mengambil posisi sebagai koran umum dan tak menginduk ke partai atau golongan tertentu sebagaimana lazimnya koran pada masa itu. Ia berdiri bebas. Karena itu, hal yang wajar-wajar saja tatkala menurunkan berita pembakaran buku dari Gedung Balai Wartawan Surabaya. Di gedung ini, Sekretaris Umum I Dewan Pimpinan Daerah Pemuda Rakyat Jawa Timur Toha Sadik mengumpulkan wartawan untuk sebuah konferensi pers dan mengumumkan pembalasan atas tindakan-tindakan pemerintah Belanda jelang hari Pemuda 21 Februari 1953.

“Pada hari tsb. akan diadakan pembakaran buku2 jang bersifat kolonial dan tjabul. Atas pertanjaan apakah jang dimaksudkan dengan buku2 jang dimaksudkan adalah buku2 sedjarah Hindia Belanda, buku2 roman dari Bram van Dam dll, pula jang tidak sesuai dalam alam negara merdeka.”

Dan laskar Pemuda Rakyat itu bukan cuma menggertak, namun ucapan-ucapannya dibuktikan dengan tindakan. Sebulan setelah konferensi pers, Java Post edisi 21 Pebruari 1953 menurunkan berita ketegasan sikap di halaman yang sama dengan judul: “Buku2 tjabul dibakar”.

Pada paragraf pertama, harian ini membikin deskripsi jalannya upacara pembakaran itu: “Hari Minggu, sekira pukul 7, bertempat dimuka pendopo kabupaten Surabaja djl. Gentengkali, diadakan pembakaran buku2 tjabul oleh Panitya 21 Pebruari. Pembakaran ini termasuk salah satu atjara dalam perajaan hari 21 Pebruari, jakni hari pemuda pedjoang sedunia melawan pendjadjahan. Setelah pembakaran buku2 itu, diadakan pawai bersepeda dengan membawa obor, jang berdjalan keliling kota.”

Lihatlah, bagaimana para laskar Pemuda Rakyat itu meresepsi pembakaran buku. Mungkin para pencinta buku akan geram. Tapi bagi mereka, membakar buku tak ada bedanya dengan ritus upacara yang penuh hikmat dengan prosedur-prosedur yang rapi dan terbuka. Juga dilakukan dengan heroik dan penuh rasa bangga. Dan itu bukan cuma sekali dua kali.

Puncak upacara pembakaran buku para laskar pemuda itu berlangsung pada  7 Januari 1965; usai Presiden Sukarno berpidato menyerukan agar Indonesia keluar dari keanggotaan PBB pada Rapat Umum Anti Pangkalan Militer Asing di Istora Senayan Jakarta.

Rupanya, seruan Presiden Sukarno untuk keluar dari PBB dan bersiap memundaki konsekuensi-konsekuensi tersulit ditanggapi oleh banyak kalangan dengan pelbagai sikap. Termasuk cara yang diambil laskar-laskar pemuda ini.

Koran Harian Rakjat di halaman muka bagian pojok menabalkan berita kecil ihwal ribuan buku milik perpustakaan USIS (United States Information Service) Jakarta dibakar oleh laskar-laskar ini. Di tengah unggunan api yang melalap buku-buku itu mengalun suara mereka dengan sangat bersemangat: “Awaslah Inggris dan Amerika”. Suara itu disertai sahut-sahutan suara yang riuh: “Hidup Bung Karno!”; “Ganjang Malaysia!”; “Bongkar pangkalan militer asing!”; “Tutup USIS!”

Dua orang perwakilan laskar pemuda itu, A. Qadar dan Dr. Warno, menegaskan bahwa tujuan mereka membakar buku-buku USIS itu sebagai dukungan nyata pemuda terhadap aksi-aksi anti pangkalan militer asing. Mereka berpendapat bahwa mesti ada keberanian yang penuh untuk membangkitkan aksi-aksi massa mengganyang imperialis dan aksi-aksi mengganyang kapitalis birokrat/dinasti ekonomi.

Koran-koran terbelah dua menanggapinya. Harian Suluh Indonesia, Duta Masjarakat, Sinar Harapan, Warta Bhakti, Bintang Timur, Harian Ekonomi Nasional, Warta Berita, dan tentu saja Harian Rakjat memberikan apresiasi positif atas tindakan laskar pemuda itu. Sementara Berita Indonesia dan Merdeka justru menyangkannya.

Sekira 56 tahun 9 bulan setelah Java Post menurunkan kronik berita pembakaran buku, sekelompok laskar pemuda gabungan dari pelbagai elemen masyarakat anti komunis dan kelompok keagamaan mendatangi kantor Jawa Pos di Surabaya [lihat di sini]. Mereka menuntut banyak hal. Selain kontes-kontes cabul-seronok yang kerap diliput Jawa Pos, juga memantikkan bara kepada buku yang mereka kutuk berisi ajaran dan sikap yang nyata-nyata membelokkan sejarah yang “benar”.

Esai saya tak ingin masuk dalam pusaran debat apakah membakar buku itu perbuatan benar atau salah, beradab atau biadab. Sebab saya juga tahu, nyaris di setiap rezim kekuasaan di Indonesia, pembakaran buku menjadi semacam ritus yang hikmat. Ada terlalu banyak dalih yang bisa dideret para pelaku untuk membenarkan upacara obong-obongan itu.

Justru letak keheranan saya adalah bagaimana bisa mereka ini mengutuk sebuah kaum, tapi memakai dengan sepersis-persis cara yang dilakukan oleh kaum yang mereka kutuk itu. Di mulut, mereka terus-menerus menyangkal dan mencaci komunis, tapi kaki dan tangan mereka dengan presisi mempraktikkan dengan girang potongan-potongan frame dari kaum yang mereka kutuk itu.

Mereka mengaku-aku lahir dari masyarakat yang kitab atau bukunya turun di hari ke 17 bulan suci dengan tekstur ajaran dasar yang tegas: “membaca” atau “Iqra”, namun kenapa mereka justru anti terhadap bacaan. Pelbagai-bagai dalih coba dipancang untuk menghilangkan buku dari ruang peng(k)ajian. Dan salah satu cara penghilangan yang paling ekstrim adalah membeli (tuku) lalu mengutuk buku itu dengan bara.

Atau memang, seperti kata Emha Ainun Najib yang terkutip di awal, tindak tuku buku kutuk buku itu sebetulnya manisfestasi tanpa sadar mereka dalam menanam rasa benci kepada para pembuat “dosa besar” dengan cara setan yang terus memalanginya untuk insyaf dan bertobat. Wallahu’alam.

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 13 September 2009

1 Comment

badrud tamam - 13. Sep, 2009 -

oke deh. Mantap
memang terdapat kontradiksi mentalitas aku di benak negeri ini
antara tindakan dan nilai kadang tak selaras

sip

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan