-->

Lainnya Toggle

Terima Kasih Buku: Catatan Ketua Aksi Lawan Pembakar Buku

Terima Kasih Buku
Oleh Diana AV Sasa
Jantung saya berdebar. Kami akan memulai aksi melawan pembakaran buku. Tapi hanya ada 3 kepala di taman itu:Saya, Nisa (esok), dan Anas (Unmerbaya). Saya melirik jam di HP, masih 35 menit sebelum pukul 4. Mungkin mereka masih di jalan, bisik batin saya menenangkan.
Kami mulai berbenah menata buku-buku di pelataran taman. Tiba-tiba kami diminta bergeser oleh petugas dinas pertamanan yang mengisi bak air mancur. Selang bocor, hingga airnya muncrat mengenai beberapa buku. Kami menjerit histeris tak rela. Maka kamipun bergeser ke tempat yang lebih aman dari musuh buku:air.
Polisi dan intel menghampiri. Kami bersapa akrab. Sesekali mereka bertanya tentang ini itu. Setelah yakin bahwa aksi ini tak ada kaitannya dengan komunis-komunis-an, mereka lega. Katanya mereka khawatir diserang kelompok FAK. Kami pun bercanda lagi. Berfoto dan sok narsis.
Kemudian beberapa kawan seniman mulai berdatangan. Agus Gembel membawa buku Manuskrip Celestin kesayangannya. Bambang Tri membawa 2 rim pamphlet bersama istrinya. Taufik Monyong menunggang vespa nyentriknya sambil membawa megaphone. Slamet Wahedi, penyair muda itu menyusul dengan seorang kawan. Antok Sirean berlari-lari menghampiri bersama kawan-kawan Gaya Nusantara. Akhol, Diana, dan beberapa kawan LSM ikut bergabung. Luhur Kayungga, Hanif Nasrullah, Toga Situruk dan kawan-kawan seniman ikut pula menambah kerumunan. Kami tak genap 20 nyawa, tapi kami yakin, ada banyak nyawa lain yang semangatnya mendukung kami dari jauh. Mereka tak hadir, namun semangat mereka ada di dada kami.
Maka saya mengangkat megaphone. Membaca basmallah,dan mulai berorasi. “Buku bukanlah semata sekumpulan kertas dan teks. Ia adalah sebuah karya yang dibuat dengan keringat,dengan kerja keras, dengan darah. Maka barangsiapa semena-mena membakarnya,memberangusnya, ia telah melecehkan karya para penulis, merendahkan pekerjaan mulia para pekerja di balik buku. Mereka harus kita LAWAN…!!!”
Kami bergerak mendekati jalan raya. Menenteng poster dan membagikan selebaran. Slamet Wahedi mengambil alih megaphone dan berorasi.”Buku adalah dokumen sejarah yang padanya setiap generasi akan belajar tentang sejarah bangsanya. Biarlah buku lahir dan mencari sendiri pebacanya. Ia adalah anak-anak nurani setiap penulis. Maka jangan sekali-kali merendahkannya. Pembakaran buku adalah tindakan pembodohan…!!”
Sirine berbunyi. Kami menepi. Duduk melingkar mengitari ‘monumen’ buku. Taufik Monyong memimpin upacara buku. Kami memegang buku masing-masing. Taufik Monyong memegang Davinci Code. Agus Gembel memegang Manuskrip Celestin. Nisa memegang Filosofi Kopi. Di tangan saya ada Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur.
Kami memangku buku-buku itu dengan takzim. Menunjukkan bagaimana buku menjadi pemangku ilmu pengetahuan. Bersama-sama, kami membuka halaman 9 (mestinya 7, si Monyong lupa tanggal). Simbol tanggal aksi hari ini. Kami baca keras-keras halaman itu. Suara kami bersautan seperti lebah yang mendengungkan mantra. Saya membaca “… Dan disana tiba-tiba saja kau berkata tentang Tuhan, tubuh, dan tabu! “Aku adalah jalang, aku adalah dina-sudah beragam lelaki yang mencicipi tubuhku… Kau tak lagi percaya dengan ibadah dan iman agama, juga termasuk konsep cinta, nikah, dan lelaki (Ouugghhh…kok pas halaman ini? Kebetulan yang aneh)
Kemudian kami membuka halaman 19 (simbol bulan september-9). Memegang buku tepat di depan dada, simbol buku sebagai dokumen sejarah bagi masa depan. Lalu kami membaca kembali keras-keras. Saya membaca daftar isi,”Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur! Pengakuan ke satu: Tuhan, rengkuh aku dalam hangat cinta-Mu. Pengakuan ke dua:Kupilih jalan dakwah untuk menegakkan hokum-hukum Tuhan di Indonesia. Pengakuan ke tiga: Ketika bibit-bibit kecewa menumbuh” (Aneh sekali bagi saya. Kenapa begitu misteri upacara ini bagi saya pribadi)
Lalu kami beralih ke halaman 29, simbol tahun 2009. Kami angkat buku ke atas kepala dan kami baca keras-keras 5 baris terakhir. Saya membaca “Yang kuteriaki hanya berucap pendek lepas. “Nggak tahu, Pindah kali” Aku dihampiri rasa gelisah…” (teringat perpisahan dengan sahabat Riyas karena pilihan memakai jilbab)
Terakhir, kami sunggi buku diatas kepala sembari mengucap “TERIMAKASIH BUKU” sebanyak 7x. Upacara selesai. Nisa Diani, Agus Gembel, Slamet Wahedi bergantian membacakan puisi dan cerpen. Aksi kami tutup dengan membacakan pernyataan sikap”
PEMBAKARAN BUKU=KEJAHATAN
Wherever books will be burned, men also, in the end, are burned.–Heinrich Heine (1797–1856),
Rabo, (2/9/09) Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos. Mereka terdiri dari Paguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur, Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ‘45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.
Mereka keberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dimuat dalam tulisan bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis Jawa Pos, 9-11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.
Setelah membacakan pernyataan sikap, Akurat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah.
Tindakan pembakaran buku itu adalah tindakan vandalisme tidak beradab yang dilakukan manusia-manusia berpendidikan. Di antara kerumunan massa itu ada Profesor Sejarah, Aminudin Kasdi yang menjadi mediator. Kami sangat kecewa Prof. Aminudin, selaku akademisi, tidak melakukan pencegahan aksi pembakaran buku tersebut. Sungguh teladan yang tak layak dicontohkan seorang begawan sejarah.
Bagi kami, buku adalah penanda jaman. Ia adalah dokumen sejarah. Buku adalah arsip yang padanya kelak generasi mendatang akan belajar tentang sejarah bangsanya. Indonesia sudah mengalami banyak kebutaan akan alur sejarahnya karena ketiadaan arsip yang berimbang. Dan ini tak boleh terjadi lagi di era demokrasi dijunjung tinggi tingi ini.
Bagi seorang penulis, Buku adalah harga diri, maka barangsiapa berani memBAKAR BUKU, ia telah melakukan PELECEHAN HARGA DIRI PENULIS. Apapun isinya, siapapun penulisnya, apapun ideologi penulisnya, ia tentu ditulis dengan darah dan keringat, maka tak ada yang sekali-kali boleh memberangusnya.
Tidak setuju boleh, beda pendapat OK, tapi janganlah buku dibakar-bakar. Itu cermin ketidakberadaban. Lawan buku dengan buku, Tulisan dengan tulisan, bukan API…!!!
Karena itu, kami mengecam keras tindakan Front Anti Komunis yang telah membakar buku. Kami menuntut FAK untuk meminta maaf pada seluruh pecinta buku di Indonesia melalui media massa nasional.
Demikian pernyataan ini kami buat sebagai bentuk pembelaan akan keagungan BUKU.
(Masyarakat Pecinta Buku)

Oleh Diana AV Sasa

Jantung saya berdebar. Kami akan memulai aksi melawan pembakaran buku. Tapi hanya ada 3 kepala di taman itu: Saya, Nisa (esok), dan Anas (Unmerbaya). Saya melirik jam di HP, masih 35 menit sebelum pukul 4. Mungkin mereka masih di jalan, bisik batin saya menenangkan.

Kami mulai berbenah menata buku-buku di pelataran taman. Tiba-tiba kami diminta bergeser oleh petugas dinas pertamanan yang mengisi bak air mancur. Selang bocor, hingga airnya muncrat mengenai beberapa buku. Kami menjerit histeris tak rela. Maka kamipun bergeser ke tempat yang lebih aman dari musuh buku:air.

Polisi dan intel menghampiri. Kami bersapa akrab. Sesekali mereka bertanya tentang ini itu. Setelah yakin bahwa aksi ini tak ada kaitannya dengan komunis-komunis-an, mereka lega. Katanya mereka khawatir diserang kelompok FAK. Kami pun bercanda lagi. Berfoto dan sok narsis.

Kemudian beberapa kawan seniman mulai berdatangan. Agus Gembel membawa buku Celestine Prophecy kesayangannya. Bambang Tri membawa 2 rim pamflet bersama istrinya. Taufik Monyong menunggang vespa nyentriknya sambil membawa megaphone. Slamet Wahedi, penyair muda itu menyusul dengan seorang kawan. Antok Sirean berlari-lari menghampiri bersama kawan-kawan Gaya Nusantara. Akhol, Diana, dan beberapa kawan LSM ikut bergabung. Luhur Kayungga, Hanif Nasrullah, Toga Situruk dan kawan-kawan seniman ikut pula menambah kerumunan. Kami tak genap 20 nyawa, tapi kami yakin, ada banyak nyawa lain yang semangatnya mendukung kami dari jauh. Mereka tak hadir, namun semangat mereka ada di dada kami.

Maka saya mengangkat megaphone. Membaca basmallah,dan mulai berorasi. “Buku bukanlah semata sekumpulan kertas dan teks. Ia adalah sebuah karya yang dibuat dengan keringat,dengan kerja keras, dengan darah. Maka barangsiapa semena-mena membakarnya,memberangusnya, ia telah melecehkan karya para penulis, merendahkan pekerjaan mulia para pekerja di balik buku. Mereka harus kita LAWAN…!!!”

Kami bergerak mendekati jalan raya. Menenteng poster dan membagikan selebaran. Slamet Wahedi mengambil alih megaphone dan berorasi.”Buku adalah dokumen sejarah yang padanya setiap generasi akan belajar tentang sejarah bangsanya. Biarlah buku lahir dan mencari sendiri pebacanya. Ia adalah anak-anak nurani setiap penulis. Maka jangan sekali-kali merendahkannya. Pembakaran buku adalah tindakan pembodohan…!!”

Sirine berbunyi. Kami menepi. Duduk melingkar mengitari ‘monumen’ buku. Taufik Monyong memimpin upacara buku. Kami memegang buku masing-masing. Taufik Monyong memegang Da Vinci Code karya Dan Brown. Agus Gembel memegang Celestine Prophecy karya James Redfield. Nisa memegang Filosofi Kopi karya Dee. Di tangan saya ada Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan.

Kami memangku buku-buku itu dengan takzim. Menunjukkan bagaimana buku menjadi pemangku ilmu pengetahuan. Bersama-sama, kami membuka halaman 9 (mestinya 7, si Monyong lupa tanggal). Simbol tanggal aksi hari ini. Kami baca keras-keras halaman itu. Suara kami bersautan seperti lebah yang mendengungkan mantra. Saya membaca “… Dan disana tiba-tiba saja kau berkata tentang Tuhan, tubuh, dan tabu! “Aku adalah jalang, aku adalah dina-sudah beragam lelaki yang mencicipi tubuhku… Kau tak lagi percaya dengan ibadah dan iman agama, juga termasuk konsep cinta, nikah, dan lelaki (Ouugghhh…kok pas halaman ini? Kebetulan yang aneh)

Kemudian kami membuka halaman 19 (simbol bulan september-9). Memegang buku tepat di depan dada, simbol buku sebagai dokumen sejarah bagi masa depan. Lalu kami membaca kembali keras-keras. Saya membaca daftar isi,”Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur! Pengakuan ke satu: Tuhan, rengkuh aku dalam hangat cinta-Mu. Pengakuan ke dua:Kupilih jalan dakwah untuk menegakkan hokum-hukum Tuhan di Indonesia. Pengakuan ke tiga: Ketika bibit-bibit kecewa menumbuh” (Aneh sekali bagi saya. Kenapa begitu misteri upacara ini bagi saya pribadi)

Lalu kami beralih ke halaman 29, simbol tahun 2009. Kami angkat buku ke atas kepala dan kami baca keras-keras 5 baris terakhir. Saya membaca “Yang kuteriaki hanya berucap pendek lepas. “Nggak tahu, Pindah kali” Aku dihampiri rasa gelisah…” (teringat perpisahan dengan sahabat Riyas karena pilihan memakai jilbab)

Terakhir, kami sunggi buku diatas kepala sembari mengucap “TERIMAKASIH BUKU” sebanyak 7x. Upacara selesai. Nisa Diani, Agus Gembel, Slamet Wahedi bergantian membacakan puisi dan cerpen. Aksi kami tutup dengan membacakan pernyataan sikap”

PEMBAKARAN BUKU=KEJAHATAN

Wherever books will be burned, men also, in the end, are burned.–Heinrich Heine (1797–1856),

Rabo, (2/9/09) Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos. Mereka terdiri dari Paguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur, Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ‘45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.

Mereka keberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dimuat dalam tulisan bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis Jawa Pos, 9-11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.

Setelah membacakan pernyataan sikap, Akurat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah.

Tindakan pembakaran buku itu adalah tindakan vandalisme tidak beradab yang dilakukan manusia-manusia berpendidikan. Di antara kerumunan massa itu ada Profesor Sejarah, Aminudin Kasdi yang menjadi mediator. Kami sangat kecewa Prof. Aminudin, selaku akademisi, tidak melakukan pencegahan aksi pembakaran buku tersebut. Sungguh teladan yang tak layak dicontohkan seorang begawan sejarah.

Bagi kami, buku adalah penanda jaman. Ia adalah dokumen sejarah. Buku adalah arsip yang padanya kelak generasi mendatang akan belajar tentang sejarah bangsanya. Indonesia sudah mengalami banyak kebutaan akan alur sejarahnya karena ketiadaan arsip yang berimbang. Dan ini tak boleh terjadi lagi di era demokrasi dijunjung tinggi tingi ini.

Bagi seorang penulis, Buku adalah harga diri, maka barangsiapa berani memBAKAR BUKU, ia telah melakukan PELECEHAN HARGA DIRI PENULIS. Apapun isinya, siapapun penulisnya, apapun ideologi penulisnya, ia tentu ditulis dengan darah dan keringat, maka tak ada yang sekali-kali boleh memberangusnya.

Tidak setuju boleh, beda pendapat OK, tapi janganlah buku dibakar-bakar. Itu cermin ketidakberadaban. Lawan buku dengan buku, Tulisan dengan tulisan, bukan API…!!!

Karena itu, kami mengecam keras tindakan Front Anti Komunis yang telah membakar buku. Kami menuntut FAK untuk meminta maaf pada seluruh pecinta buku di Indonesia melalui media massa nasional.

Demikian pernyataan ini kami buat sebagai bentuk pembelaan akan keagungan BUKU.

(Masyarakat Pecinta Buku) *

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan