-->

Lainnya Toggle

Surat dari Chicago: BAKAR!!!

Surat ini dikirimkan Alfred D. Ticoalu dari Chicago sebagai respons atas kasus pembakaran buku di Surabaya. Alfred adalah juga sosok yang berada di balik milis Pramoedya Ananta Toer.

Bakar, bakar!!! Mundur terus, pantang maju!!!

Ai, ai. Mengapa lagi-lagi terjadi pembakaran buku di negeri kita? Di sebuah negeri yang (katanya) sudah maju, hal ini membuat saya kembali bertanya-tanya akan kebenaran di balik mahalnya harga kebebasan. Setiap individu (katanya) sekarang memiliki kebebasan berbicara, menulis, dan berpendapat. Kalau begitu kelihatannya kebebasan tersebut masih juga diberi kesempatan merembet sampai ke hal-hal yang lainnya, seperti kekerasan, vandalisme dan kecupatan berpikir.

Silahkan tidak setuju dengan isi buku atau pendapat yang bersangkutan! Menurut saya itu adalah hak resmi dari kebebasan anda. Tapi saya rasa membakar buku sama saja seperti berjalan mundur (atau setidaknya di tempat). Kapan bangsa kita bisa maju kalau hal ini masih terus dilakukan? Kalau tidak setuju dengan isi buku-buku tersebut, ketimbang dibakar, hantam balik saja dengan menulis dan menerbitkan buku anda sendiri. Terakan pendapat atau data anda dan biarkan pembaca membandingkan mana yang benar. Mari bangun keadaan yang mendukung terjadinya arus timbal balik diskusi penuh logika. Kalau belum apa-apa sudah main bakar, anda secara langsung menunjukkan betapa kerdilnya intelektualitas dan harga diri anda.

Sudah saatnya kita merangkul secara keseluruhan ajang tarung ideologi dan opini yang berisi, adil dan berkualitas. Bak masuk ke ring tinju saja. Pembakaran buku tak ada bedanya dengan menembak kepala sang petinju lawan anda sebelum masuk ke ring untuk memulai pertarungan tesebut. Lagipula kertas semakin mahal harganya, Bung! Sudah terlalu banyak pohon-pohon bertumbangan dan hutan-hutan di negeri kita yang berubah menjadi padang gurun tandus demi terciptanya lembaran demi lembaran kertas.

Sungguh seperti sebuah komedi tragis saja kalau ini masih saja terus terjadi. Bak guyonan konyol yang selalu terulang dalam lembaran sejarah negeri tercinta. Dulu Lekra ditunding sebagai raja besar pembakar buku dan karenanya mereka dikutuk dan dihujat-hujat tujuh turunan. Ah, bukannya membuktikan diri anda lebih baik dari Lekra, ternyata malah anda yang sesungguhnya melakukan pembakaran tersebut.

Mundur terus, pantang maju!!! Saya rasa itu dogma resmi yang sekarang layak dipeluk dan disembah-sembah oleh para pelaku pembakaran buku. Dengan penuh hormat saya ucapkan selamat atas kemunduran Anda. Ya, begitu lah.

Alfred D. Ticoalu
4 September, 2009
Chicago, IL

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan