-->

Lainnya Toggle

Suatu Hari di Kebun Binatang

Suatu Hari di Bebun Binatang
Oleh Djoko Pitono
Rabu (2/9/2009) siang, sebuah ruangan di Graha Pena penuh sesak oleh tamu-tamu tak diundang. Mungkin ada sekitar 40-an orang. Mereka ditemui oleh Pimred Jawa Pos, Leak Kustiya, dan beberapa redaktur harian itu. Setelah ada basa-basa sebentar, para tamu mulai teriak-teriak.
Mereka membaca apa yang disebut ‘deklarasi’ kekecewaan terhadap Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, yang dinilainya telah ‘menjadi corong PKI” karena mewawancarai tokoh PKI dalam Kudeta di Madiun 1948, Sumarsono. Sebelumnya, mereka (dan sejumlah massa lainnya telah teriak-teriak di luar ruangan). Sambil membaca ayat-ayat al Quran, mereka mengecam Dahlan Iskan, kemudian membakar koran Jawa Pos dan buku “Revolusi Agustus” tulisan Sumarsono.
Intinya, mereka menuntut Dahlan Iskan minta maaf, juga Jawa Pos Group, karena — katanya — Jawa Pos dan Dahlan Iskan telah menyakiti umat Islam. Permintaan maaf harus dimuat di halaman depan Jawa Pos.
Secara bergantian, mereka ‘mengadili’ Leak Kustiya. Maukah anda bertobat? ini bulan puasa lho. Apakah anda mengaku bersalah dan bersedia minta maaf? Leak Kustiya, dengan gayanya yang tenang menjawab antara lain, mengucapkan terima kasih atas penyampaian aspirasi terhadap tulisan di JP.
Dia juga mengatakan, semua aspirasi akan disampaikan kepada Pak Dahlan. Ia juga mengatakan, apa yang disampaikan mereka akan dimuat di JP sebagai imbangan tulisan tentang Sumarsono. Tetapi mereka menuntut Pak Dahlan harus dihubungi ‘sekarang juga’. Ini disebut mudah karena alat komunikasi sekarang sudah canggih. dan seorang pimred pasti mudah menghubungi bosnya.
Mereka tak menggubris setiap upaya Leak untuk berbicara, dan terus menekan untuk ‘sekarang juga’ membuat pernyataan tertulis bahwa Jawa Pos akan minta maaf, juga Dahlan Iskan, dan harus dimuat di Jawa Pos halaman depan, tiga hari berturut-turut.
Di tengah pembicaraan itu, Imam Syafi’i, Pimred JTV dan anggota Ombudman JP mengingatkan kepada para tamunya bahwa JP adalah media milik umat Islam juga,dan lebih dari 90% wartawannya adalah muslim. Ini asset umat islam juga. dan seperti juga telah disampaikan Leak, Imam Syafi’i memgatakan JP akan menurunkan tulisan untuk menyanggah Sumarsono dengan mewawancarai antara lain Prof Aminuddin Kasdi dari Unesa, tokoh anti-komunis Arukat Djaswadi dll.
Ketika pertemuan bubar sekitar pukul 15.00. dan orang-orang keluar dari ruangan, di luar banyak orang bergerombol. Lho ada apa kok banyak sekali? Ternyata para penghuni ruang Graha Pena barusan keluar karena terasa ada gempa.
Apa yang Menarik?
Ada yang nyeletuh, Leak Kustiya ibarat ‘diadili di kebun binatang’. Masuk akal. Cara para tamu tak diundang itu itu memang ‘setengah primitif’. Repotnya, mereka mengklaim mewakili umat Islam? Umat islam yang mana? Apa saya juga diwakili orang-orang itu? Sorry ya.
Arukat Djaswadi dalam pernyatannya, antara lain mengatakan: “Dahlan Iskan, apa yang kau cari? Apa kursi menteri? Apa karena hatinya sudah diganti dari Cina maka pikirannya sudah terkooptasi oleh ‘ideologi dari Timur’, ideologi komunis? Kalau benar, patut disayangkan dan harus diingatkan.. “, dsb..dsb…
Apa pernyataan ini worthy to be commented? Mo way.
Terlepas seseorang setuju atau menolak apa kata Sumarsono, itu sangat layak diberitakan. Ini karena ia adalah tokoh 45 yang diakui perannya, terlepas dia kemudian jadi komunis. (harap diingat, banyak anggota keluarga Dahlan Iskan di Takeran adalah korban pembunuhan orang-orang PKI saat terjadinya kudeta Madiun 1948. Dahlan berkali-kali menyebutnya).
Biarlah Sumarsono ngomong. Kemudian kita cari sumber berita lain untuk mereaksi. Repotnya, pernyataan seperti ini, apalagi di masa lalu, dapat langsung dicap pro-komunis, tak bersih lingkungan.
Prof Aminuddin Kasdi mengatakan, dia mendampingi para pendemo tersebut. Dalam wawancara-wawancara kemudian, dia banyak menyanggah apa yang disampaikan Sumarsono. Kepada Jawa Pos, profesor sejarah itu mengatakan bahwa ‘sejarah memang milik orang-orang yang menang”. Sumarsono sebagai orang dari pihak yang kalah, tak berhak atas sejarah. Ini pendapat dari profesor sejarah lo, bukan orang di pinggir jalan.
Barangkali tak pernah terbesit dalam benak Prof Kasdi bahwa sejarah akan menulis dirinya sendiri. Sejarah ibarat air dari mata air. Air itu dapat dibendung, dibelok-belokkan ke mana pun tetapi pada akhirnya akan turun ke laut. History writes itself.
Sebagian berita tentang demo di Jawa Pos kurang tepat, untuk tidak menyatakan banyak menyeleweng. Ada jurnalis yang menulis Leak Kustiya, Pimred Jawa Pos, minta maaf atas tulisan Dahlan Iskan. Jurnalis yang bersangkutan tampaknya harus lebih banyak belajar memperhatikan kata-kata sumber berita. Tidak ada pernyataan permintaan maaf atas tulisan dahlan iskan. Ketika ia ditanya apakah sebagai seorang muslim, Leak mau bertobat? Dia kemudian menjawab, ia tentu bertobat atas kesalahan-kesalahannya, apalagi di bulan ramadhan. Leak cerdik. Ia sama sekali tidak mengaitkan dengan berita Sumarsono. Dia juga tidak mengisyaratkan kesalahan Jawa Pos menurunkan tulisan Dahlan Iskan. Bahwa kata-katanya bersedia tobat diinterpretasikan sebagai tobatnya Pimred terkait berita Sumarsono yang memang jadi tanggungjawabnya, biarlah orang yang mengharapkan hal itu senang hatinya. Kalau ada wartawan yang juga menangkap hal itu sebagai pengakuan salah dalam pemberitaan tersebut, saya ya kasihan sama wartawannya.
Repotnya, berita sang wartawan itu telah mengecoh banyak pembacanya.
Leak memang tidak memenuhi tuntutan agar JP minta maaf. Faktanya, JP memang tidak pernah minta maaf. Saya bukan jurnalis JP, juga bukan karyawan JP Group. Namun sebagai kawan, saya sampaikan pada Leak agar tuntutan permintaan maaf pendemo jangan sampai dituruti. Dia jawab, ‘tidak akan’.
Kawan kita di Jakarta, M. Anis, juga demikian. Jangan beri toleransi sedikit pun pada para pendemo. Dengan santai tapi tampak serius, Anis bilang, kalau dia jadi Leak, dirinya malah akan berusaha memancing mereka agar merusak Graha Pena, kemudian dia akan perkarakan hal itu ke polisi.
Anis juga mengatakan, dirinya tidak selalu sejalan dengan pandangan dan langkah-langkah Dahlan Iskan, terutama sebelum ganti hati. Tetapi kalau Jawa Pos diteror seperti itu, sebagai jurnalis dia harus tegas membelanya.
Last but not least, hidup ini memang seperti dilukiskan dalam ungkapan orang Bali, ada niskala dan sekala. Ada keras, ada lembut. Ada cerdas, ada bodoh dan tolol. Ada hitam dan ada putih, Ada baik, ada buruk. Ada waras dan ada gila. Ada bersih, ada kotor. Itulah keseimbangan dalam kehidupan. Aiapa yang waras, siapa yang edan, kita bisa belajar dari sekeliling kita.
Dahlan Iskan akan selalu menghadapi hal-hal seperti aksi hari Rabu (2/9/2009). Ya,ini hukum alam saja. Pohon yang tinggi akan banyak diterpa angin; angin kecil, juga angin besar. Banyak orang kagum pada Dahlan, anak miskin dari pesantren Takeran yang kini jadi konglomerat media.
Tulisan-tulisannya bagus dan enak diikuti. Pekerja keras itu sederhana, mudah menangis melihat penderitaan orang, dan tidak tegaan. Banyak orang merubungnya dengan berbagai harapan dan permintaan. Tetapi tidak sedikit pula yang iri dan tidak senang dengan beragam alasan. Mereka bilang, Dahlan menggunakan segala cara untuk maju, dan oportunis.
Sebagian mungkin berharap Jawa Pos segera ditimpa musibah dan bangkrut. Sebagian lainnya lagi mungkin berpikir, Dahlan dan Jawa Pos-nya adalah target empuk untuk diperas dan dijadikan semacam ATM.
Bagaimana Anda melihatnya?

Oleh Djoko Pitono

Rabu (2/9/2009) siang, sebuah ruangan di Graha Pena penuh sesak oleh tamu-tamu tak diundang. Mungkin ada sekitar 40-an orang. Mereka ditemui oleh Pimred Jawa Pos, Leak Kustiya, dan beberapa redaktur harian itu. Setelah ada basa-basa sebentar, para tamu mulai teriak-teriak.

Mereka membaca apa yang disebut ‘deklarasi’ kekecewaan terhadap Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, yang dinilainya telah ‘menjadi corong PKI” karena mewawancarai tokoh PKI dalam Kudeta di Madiun 1948, Sumarsono. Sebelumnya, mereka (dan sejumlah massa lainnya telah teriak-teriak di luar ruangan). Sambil membaca ayat-ayat al Quran, mereka mengecam Dahlan Iskan, kemudian membakar koran Jawa Pos dan buku Revolusi Agustus tulisan Sumarsono.

Intinya, mereka menuntut Dahlan Iskan minta maaf, juga Jawa Pos Group, karena — katanya — Jawa Pos dan Dahlan Iskan telah menyakiti umat Islam. Permintaan maaf harus dimuat di halaman depan Jawa Pos.

Secara bergantian, mereka ‘mengadili’ Leak Kustiya. Maukah anda bertobat? ini bulan puasa lho. Apakah anda mengaku bersalah dan bersedia minta maaf? Leak Kustiya, dengan gayanya yang tenang menjawab antara lain, mengucapkan terima kasih atas penyampaian aspirasi terhadap tulisan di JP.

Dia juga mengatakan, semua aspirasi akan disampaikan kepada Pak Dahlan. Ia juga mengatakan, apa yang disampaikan mereka akan dimuat di JP sebagai imbangan tulisan tentang Sumarsono. Tetapi mereka menuntut Pak Dahlan harus dihubungi ‘sekarang juga’. Ini disebut mudah karena alat komunikasi sekarang sudah canggih. dan seorang pimred pasti mudah menghubungi bosnya.

Mereka tak menggubris setiap upaya Leak untuk berbicara, dan terus menekan untuk ‘sekarang juga’ membuat pernyataan tertulis bahwa Jawa Pos akan minta maaf, juga Dahlan Iskan, dan harus dimuat di Jawa Pos halaman depan, tiga hari berturut-turut.

Di tengah pembicaraan itu, Imam Syafi’i, Pimred JTV dan anggota Ombudman JP mengingatkan kepada para tamunya bahwa JP adalah media milik umat Islam juga,dan lebih dari 90% wartawannya adalah muslim. Ini asset umat islam juga. dan seperti juga telah disampaikan Leak, Imam Syafi’i memgatakan JP akan menurunkan tulisan untuk menyanggah Sumarsono dengan mewawancarai antara lain Prof Aminuddin Kasdi dari Unesa, tokoh anti-komunis Arukat Djaswadi dll.

Ketika pertemuan bubar sekitar pukul 15.00. dan orang-orang keluar dari ruangan, di luar banyak orang bergerombol. Lho ada apa kok banyak sekali? Ternyata para penghuni ruang Graha Pena barusan keluar karena terasa ada gempa.

Apa yang Menarik?

Ada yang nyeletuh, Leak Kustiya ibarat ‘diadili di kebun binatang’. Masuk akal. Cara para tamu tak diundang itu itu memang ‘setengah primitif’. Repotnya, mereka mengklaim mewakili umat Islam? Umat islam yang mana? Apa saya juga diwakili orang-orang itu? Sorry ya.

Arukat Djaswadi dalam pernyatannya, antara lain mengatakan: “Dahlan Iskan, apa yang kau cari? Apa kursi menteri? Apa karena hatinya sudah diganti dari Cina maka pikirannya sudah terkooptasi oleh ‘ideologi dari Timur’, ideologi komunis? Kalau benar, patut disayangkan dan harus diingatkan.. “, dsb..dsb…

Apa pernyataan ini worthy to be commented? Mo way.

Terlepas seseorang setuju atau menolak apa kata Sumarsono, itu sangat layak diberitakan. Ini karena ia adalah tokoh 45 yang diakui perannya, terlepas dia kemudian jadi komunis. (harap diingat, banyak anggota keluarga Dahlan Iskan di Takeran adalah korban pembunuhan orang-orang PKI saat terjadinya kudeta Madiun 1948. Dahlan berkali-kali menyebutnya).

Biarlah Sumarsono ngomong. Kemudian kita cari sumber berita lain untuk mereaksi. Repotnya, pernyataan seperti ini, apalagi di masa lalu, dapat langsung dicap pro-komunis, tak bersih lingkungan.

Prof Aminuddin Kasdi mengatakan, dia mendampingi para pendemo tersebut. Dalam wawancara-wawancara kemudian, dia banyak menyanggah apa yang disampaikan Sumarsono. Kepada Jawa Pos, profesor sejarah itu mengatakan bahwa ‘sejarah memang milik orang-orang yang menang”. Sumarsono sebagai orang dari pihak yang kalah, tak berhak atas sejarah. Ini pendapat dari profesor sejarah lo, bukan orang di pinggir jalan.

Barangkali tak pernah terbesit dalam benak Prof Kasdi bahwa sejarah akan menulis dirinya sendiri. Sejarah ibarat air dari mata air. Air itu dapat dibendung, dibelok-belokkan ke mana pun tetapi pada akhirnya akan turun ke laut. History writes itself.

Sebagian berita tentang demo di Jawa Pos kurang tepat, untuk tidak menyatakan banyak menyeleweng. Ada jurnalis yang menulis Leak Kustiya, Pimred Jawa Pos, minta maaf atas tulisan Dahlan Iskan. Jurnalis yang bersangkutan tampaknya harus lebih banyak belajar memperhatikan kata-kata sumber berita.

Tidak ada pernyataan permintaan maaf atas tulisan Dahlan Iskan. Ketika ia ditanya apakah sebagai seorang muslim, Leak mau bertobat? Dia kemudian menjawab, ia tentu bertobat atas kesalahan-kesalahannya, apalagi di bulan ramadhan. Leak cerdik. Ia sama sekali tidak mengaitkan dengan berita Sumarsono.

Dia juga tidak mengisyaratkan kesalahan Jawa Pos menurunkan tulisan Dahlan Iskan. Bahwa kata-katanya bersedia tobat diinterpretasikan sebagai tobatnya Pimred terkait berita Sumarsono yang memang jadi tanggung jawabnya, biarlah orang yang mengharapkan hal itu senang hatinya. Kalau ada wartawan yang juga menangkap hal itu sebagai pengakuan salah dalam pemberitaan tersebut, saya ya kasihan sama wartawannya.

Repotnya, berita sang wartawan itu telah mengecoh banyak pembacanya.

Leak memang tidak memenuhi tuntutan agar JP minta maaf. Faktanya, JP memang tidak pernah minta maaf. Saya bukan jurnalis JP, juga bukan karyawan JP Group. Namun sebagai kawan, saya sampaikan pada Leak agar tuntutan permintaan maaf pendemo jangan sampai dituruti. Dia jawab, ‘tidak akan’.

Kawan kita di Jakarta, M. Anis, juga demikian. Jangan beri toleransi sedikit pun pada para pendemo. Dengan santai tapi tampak serius, Anis bilang, kalau dia jadi Leak, dirinya malah akan berusaha memancing mereka agar merusak Graha Pena, kemudian dia akan perkarakan hal itu ke polisi.

Last but not least, hidup ini memang seperti dilukiskan dalam ungkapan orang Bali, ada niskala dan sekala. Ada keras, ada lembut. Ada cerdas, ada bodoh dan tolol. Ada hitam dan ada putih, Ada baik, ada buruk. Ada waras dan ada gila. Ada bersih, ada kotor. Itulah keseimbangan dalam kehidupan. Siapa yang waras, siapa yang edan, kita bisa belajar dari sekeliling kita.

Dahlan Iskan akan selalu menghadapi hal-hal seperti aksi hari Rabu (2/9/2009). Ya,ini hukum alam saja. Pohon yang tinggi akan banyak diterpa angin; angin kecil, juga angin besar. Banyak orang kagum pada Dahlan, anak miskin dari pesantren Takeran yang kini jadi konglomerat media.

Tulisan-tulisannya bagus dan enak diikuti. Pekerja keras itu sederhana, mudah menangis melihat penderitaan orang, dan tidak tegaan. Banyak orang merubungnya dengan berbagai harapan dan permintaan. Tetapi tidak sedikit pula yang iri dan tidak senang dengan beragam alasan.

Sebagian mungkin berharap Jawa Pos segera ditimpa musibah dan bangkrut. Sebagian lainnya lagi mungkin berpikir, Dahlan dan Jawa Pos-nya adalah target empuk untuk diperas dan dijadikan semacam ATM.

Bagaimana Anda melihatnya?

1 Comment

dewa01api - 07. Sep, 2009 -

mudah sekali kita mengatasnamakan Islam utk menekan yg lain. Islam tak seperti itu. kalo mo berimbang, tinggal buat pernyataan pembanding d JP, pihak JP pasti mau. kalo grasagurus, itu namanya represi sipil

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan