-->

Lainnya Toggle

“Sejarah” Siapa? “Ditulis” Siapa? (2)

“Sejarah” Siapa? “Ditulis” Siapa? (2)
Oleh: Amalia Elvadiani
Winston Churchill, yang juga mantan jurnalis dan seorang penulis memoar yang berpengaruh, pernah berkata “Sejarah akan baik padaku, karena aku akan menulisnya.” Tetapi sepertinya, ia bukan secara literal merujuk pada karya tulisnya, tetapi sekadar mengulang sebuah kutipan mengenai filsafat sejarah yang terkenal: “Sejarah ditulis oleh sang pemenang.”
Maksudnya, seringkali pemenang sebuah konflik kemanusiaan menjadi lebih berkuasa dari taklukannya. Oleh karena itu, ia lebih mampu untuk meninggalkan jejak sejarah — dan pemelesetan fakta sejarah — sesuai dengan apa yang mereka rasa benar. (wikipedia.com)
Pada tulisan pertama, saya telah menyitir sekelumit riwayat pendidikan sejarah yang saya dapatkan dari guru-guru pelajaran Sejarah saya. Dari latarbelakang sebelumnya dapat diketahui apa dan bagaimana struktur pengetahuan generasi Indonesia mengenai apa dan bagaimana Sejarah bangsa kita.
Saya mengutip pendapat Prof Aminuddin Kasdi yang komentarnya dikutip situs hidayatullahcom.
“Menurut Prof. Aminuddin Kasdi, dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Soemarsono, merupakan sosok jahat. Selain dianggap telah membunuh para kiai, banyak umat Islam yang telah ia bantai. “Sumur Soco di Magetan buktinya,” ujarnya kepada situs hidayatullahcom.
Dalam sumur ini ada sekitar 130 mayat Muslim dikubur. Sumur ini setidaknya bukti kekejaman Soemarsono atau PKI kala itu.
Tak sekadar itu, menurut Kasdi, kejahatan Soemarsono termasuk berada di balik kematian Gubernur Ngawi, Suryo. Begitu juga dengan matinya penghuni Pesantren Modern Takran, tak lain juga akibat Soemarsono.”
Dari pemberitaan yang diturunkan situs hidayatullahcom ada beberapa telaah kata yang patut dijadikan sumber telaah yang mendalam.
Pertama, pelabelan “sosok jahat” dan yang kedua adalah kata “dianggap” pada karakter Soemarsono, kemudian ditempeli dengan beberapa kasus fakta entah pidana atau kasus kejahatan politik.
Apakah pemberitaan tersebut telah menempatkan posisinya pada proporsi yang tepat, dari sisi redaksional ataupun etika keberimbangan jurnalis?
“Dianggap” dan “sosok jahat” merupakan label yang mengandung ekses “rasa” dan “ketidakpastian”.
Bila pun redaksional telah tepat, maka yang patut ditelusur berikutnya adalah narasumber, bagaimana validasi opini atau pendapat yang dilontarkan, memenuhi kapabilitasnya atau tidak?
Untuk membahas telaahan berikut saya akan mengutip salah satu pembicaraan mengenai “sejarah”.
Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari pelbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai “sejarah penceritaan”, atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periode yang hendak diteliti atau dipelajari.
Namun dalam penulisan sejarah, sumber-sumber tersebut perlu dipilah-pilah. Metode ini disebut dengan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik yang pertama kali harus dilakukan oleh sejarawan saat dia menulis karyanya, terutama jika sumber sejarah tersebut berupa benda. Yakni dengan melihat validisasi bentuk fisik karya tersebut, mulai dari bentuk, warna dan apa saja yang dapat dilihat secara fisik. Sedang kritik intern adalah kritik yang dilihat dari isi sumber tersebut, apakah dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.
Wawancara juga dipakai sebagai sumber sejarah. Namun perlu pula sejarawan bertindak kritis baik dalam pemilahan narasumber sampai dengan translasi ke bentuk digital atau tulisan.
Dalam beberapa tahun kebelakangan ini, ilmuwan posmodernisme dengan keras mempertanyakan keabsahan dan perlu tidaknya dilakukan kajian sejarah. Menurut mereka, sejarah semata-mata hanyalah interpretasi pribadi dan subjektif atas sumber-sumber sejarah yang ada. Dalam bukunya yang berjudul In Defense of History (terj: Pembelaan akan Sejarah), Richard J. Evans, seorang profesor bidang sejarah modern dari Univeritas Cambridge di Inggris, membela pentingnya pengkajian sejarah untuk masyarakat.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah )
Pemberitaan “dianggap”, tampaknya perlu disikapi lebih arif sebagai suatu yang belum dapat ditarik “validasi” nya secara mutlak. Apalagi dijadikan sebagai suatu acuan yang absolut untuk terbantahkan, sehingga apakah Soemarsono nyata benar merupakan “sosok jahat”? Apakah “validasi” kapabilitas opini keilmuan Prof. Aminuddin Kasdi, dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan puluhan ribu anak didik di bawah asuhannya yang menelan mentah-mentah tesis tersebut dapat dibuktikan, tanpa adanya azas pembuktikan pengadilan?
(Amalia Elvadiani, pengelola komunitas sastra emperan dan buku “ESOK” Surabaya)

Oleh: Amalia Elvadiani

Winston Churchill, yang juga mantan jurnalis dan seorang penulis memoar yang berpengaruh, pernah berkata “Sejarah akan baik padaku, karena aku akan menulisnya.” Tetapi sepertinya, ia bukan secara literal merujuk pada karya tulisnya, tetapi sekadar mengulang sebuah kutipan mengenai filsafat sejarah yang terkenal: “Sejarah ditulis oleh sang pemenang.”

Maksudnya, seringkali pemenang sebuah konflik kemanusiaan menjadi lebih berkuasa dari taklukannya. Oleh karena itu, ia lebih mampu untuk meninggalkan jejak sejarah — dan pemelesetan fakta sejarah — sesuai dengan apa yang mereka rasa benar. (wikipedia.com)

Pada tulisan pertama, saya telah menyitir sekelumit riwayat pendidikan sejarah yang saya dapatkan dari guru-guru pelajaran Sejarah saya. Dari latarbelakang sebelumnya dapat diketahui apa dan bagaimana struktur pengetahuan generasi Indonesia mengenai apa dan bagaimana Sejarah bangsa kita.

Saya mengutip pendapat Prof Aminuddin Kasdi yang komentarnya dikutip situs hidayatullahcom.

“Menurut Prof. Aminuddin Kasdi, dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Soemarsono, merupakan sosok jahat. Selain dianggap telah membunuh para kiai, banyak umat Islam yang telah ia bantai. “Sumur Soco di Magetan buktinya,” ujarnya kepada situs hidayatullahcom.

Dalam sumur ini ada sekitar 130 mayat Muslim dikubur. Sumur ini setidaknya bukti kekejaman Soemarsono atau PKI kala itu.

Tak sekadar itu, menurut Kasdi, kejahatan Soemarsono termasuk berada di balik kematian Gubernur Ngawi, Suryo. Begitu juga dengan matinya penghuni Pesantren Modern Takran, tak lain juga akibat Soemarsono.”

Dari pemberitaan yang diturunkan situs hidayatullahcom ada beberapa telaah kata yang patut dijadikan sumber telaah yang mendalam.

Pertama, pelabelan “sosok jahat” dan yang kedua adalah kata “dianggap” pada karakter Soemarsono, kemudian ditempeli dengan beberapa kasus fakta entah pidana atau kasus kejahatan politik.

Apakah pemberitaan tersebut telah menempatkan posisinya pada proporsi yang tepat, dari sisi redaksional ataupun etika keberimbangan jurnalis?

“Dianggap” dan “sosok jahat” merupakan label yang mengandung ekses “rasa” dan “ketidakpastian”. Bila pun redaksional telah tepat, maka yang patut ditelusur berikutnya adalah narasumber, bagaimana validasi opini atau pendapat yang dilontarkan, memenuhi kapabilitasnya atau tidak?

Untuk membahas telaahan berikut saya akan mengutip salah satu pembicaraan mengenai “sejarah”.

Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari pelbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai “sejarah penceritaan”, atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periode yang hendak diteliti atau dipelajari.

Namun dalam penulisan sejarah, sumber-sumber tersebut perlu dipilah-pilah. Metode ini disebut dengan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik yang pertama kali harus dilakukan oleh sejarawan saat dia menulis karyanya, terutama jika sumber sejarah tersebut berupa benda. Yakni dengan melihat validisasi bentuk fisik karya tersebut, mulai dari bentuk, warna dan apa saja yang dapat dilihat secara fisik. Sedang kritik intern adalah kritik yang dilihat dari isi sumber tersebut, apakah dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

Wawancara juga dipakai sebagai sumber sejarah. Namun perlu pula sejarawan bertindak kritis baik dalam pemilahan narasumber sampai dengan translasi ke bentuk digital atau tulisan.

Dalam beberapa tahun kebelakangan ini, ilmuwan posmodernisme dengan keras mempertanyakan keabsahan dan perlu tidaknya dilakukan kajian sejarah. Menurut mereka, sejarah semata-mata hanyalah interpretasi pribadi dan subjektif atas sumber-sumber sejarah yang ada. Dalam bukunya yang berjudul In Defense of History (terj: Pembelaan akan Sejarah), Richard J. Evans, seorang profesor bidang sejarah modern dari Univeritas Cambridge di Inggris, membela pentingnya pengkajian sejarah untuk masyarakat.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah )

Pemberitaan “dianggap”, tampaknya perlu disikapi lebih arif sebagai suatu yang belum dapat ditarik “validasi” nya secara mutlak. Apalagi dijadikan sebagai suatu acuan yang absolut untuk terbantahkan, sehingga apakah Soemarsono nyata benar merupakan “sosok jahat”? Apakah “validasi” kapabilitas opini keilmuan Prof. Aminuddin Kasdi, dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan puluhan ribu anak didik di bawah asuhannya yang menelan mentah-mentah tesis tersebut dapat dibuktikan, tanpa adanya azas pembuktikan pengadilan?

* Amalia Elvadiani, pengelola komunitas sastra emperan dan buku “ESOK” Surabaya

1 Comment

Putri Sarinande - 06. Sep, 2009 -

ada lagi, jangan terlalu percaya wikipedia. kini wiki telah berkurang kualitasnya disebabkan editor-editor berkualitas wiki yang kurang bermain peran. itu saya dapat dari hasil cross-check info-ifo tentang media yang beredar di dunia internet.
tapi, saya sepakat dengan ide dalam artikel ini. saya meyakini kalimat (saya lupa dapat dari mana siapa) bahwa kadangkala sejarah hanyalah apa katanya pemerintah yang berkuasa pada saat itu. pengadilan macam apa pula?
saya anggap artikel ini adalah ajakan untuk bersikap kritis, tanpa perlu menjadi anarkis.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan