-->

Lainnya Toggle

"Sejarah" Siapa? "Ditulis" Siapa? (1)

“Sejarah” Siapa? “Ditulis” Siapa? (1)
Oleh: Amalia Elvadiani
Terngiang kembali ungkapan berikut di otak saya: “History is written by the winning general (sejarah ditulis oleh jenderal yang menang)”.
Siapakah yang berhak menjadi “general” dan menulis “sejarah”nya? Saya cukup tergelitik ketika membaca sangkutan dari beberapa rekan saya mengenai kontra aksi atas turunnya pemberitaan yang diberi tajuk berjudul “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya”. Tulisan yang dimunculkan tiga edisi berturut-turut itu, dimulai hari Ahad, 09 Agustus 2009.
Terus terang, saya sebagai generasi yang lahir di tahun 1985-an tidak mengenal siapa dan bagaimana tokoh tersebut. Sejarah yang saya tahu mengenai paham yang diklaim terlarang dalam versi-versi sejarah, komunisme dan PKI, adalah berkisar pada tayangan film G30 S yang membuat saya trauma ketika ditayangkan berulang-ulang, mimpi buruk dan jijik, atau ketika saya harus berulang-ulang “didongengi” oleh guru sejarah saya mengenai organisasi PKI yang dekat dengan Komunisme yang kemudian ditakut-takuti dengan tindakan pemberangusan umat beragama. Sementara, saya tidak belajar apa dan bagaimana Komunisme sebenarnya, bagaimana bentuknya, apa warnanya, seperti apa cara-cara berkembangnya dan sebagainya.
Ketakutan masyarakat akan paham ini sangat beralasan, sama halnya ketakutan akan hal-hal mistis macam demit atau iblis, jurig yang tidak diketahui masyarakat bagaimana dan apa wujudnya, ketakutan akan paham Komunisme menjadi paranoid tersendiri akibat ketidaktahuan tersebut. Sejarah Komunisme sendiri seharusnya didedah, ditelaah benar-benar dari segala sisi. Apakah paranoid ini berkaitan dengan siapakah “jenderal” di belakang “sejarah”?
Dari sebuah respon komentar tertangkaplah ketidaktahuan tersebut, dan dipertajam dengan sebuah hasutan yang tidak mendasar. Bisa saya kutipkan komentar di facebook sebagai berikut:
“Hancurkan paham Komunis dalam bentuk apa pun. Bakarrrr”
Apakah individu tersebut paham tentang Komunis? Ini hanya contoh, dan saya yakin akan bertambah banyak yang menautkan Komunis dengan PKI atau G30 S dengan tindakan pemberangusan umat beragama. Kemudian saya menjadi paham, ketika respons berikutnya di facebook menunjukkan bukti dan fakta sejarah berikutnya:
“Heks… saya sedang mengkronik day by day peristiwa sepanjang tahun 1912-1923… Komunis di Indonesia justru lahir dari rahim Sarekat Islam yang juga membesarkan Tjokro, Abdoel Moeis, Agoes Salim, Ahmad Dahlan, Semaoen, Darsono, Alimin, Marco, Misbach… Mereka satu grup, beda kota: Putih ada di Surabaya, Merah ada di Solo dan Semarang. Bayangkan juga bagaimana Tan Malaka mati2an memperjuangkan di forum Komintern thn 1922 bahwa di Asia Tenggara, koalisi terbaik komunis adalah Islam. Atas ide itu, Tan dipetieskan oleh Komunis Soviet peranannya. Komintern marah karena terlampau fobia pada Islam….”
Pertanyaan selanjutnya adalah sejauhmana “Islam” dalam kondisi tersebut di”bahaya”kan? Ataukah seperti yang dilansir oleh media Hidayatullah.com. pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang berbahaya dan apa yang dibahayakan, dan siapa yang diberangus?
(Amalia Elvadiani, pengelola komunitas sastra emperan dan buku “ESOK” Surabaya)

Oleh: Amalia Elvadiani

Terngiang kembali ungkapan berikut di otak saya: “History is written by the winning general (sejarah ditulis oleh jenderal yang menang)”.

Siapakah yang berhak menjadi “general” dan menulis “sejarah”nya? Saya cukup tergelitik ketika membaca sangkutan dari beberapa rekan saya mengenai kontra aksi atas turunnya pemberitaan yang diberi tajuk berjudul “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya”. Tulisan yang dimunculkan tiga edisi berturut-turut itu, dimulai hari Ahad, 09 Agustus 2009.

Terus terang, saya sebagai generasi yang lahir di tahun 1985-an tidak mengenal siapa dan bagaimana tokoh tersebut. Sejarah yang saya tahu mengenai paham yang diklaim terlarang dalam versi-versi sejarah, komunisme dan PKI, adalah berkisar pada tayangan film G30 S yang membuat saya trauma ketika ditayangkan berulang-ulang, mimpi buruk dan jijik, atau ketika saya harus berulang-ulang “didongengi” oleh guru sejarah saya mengenai organisasi PKI yang dekat dengan Komunisme yang kemudian ditakut-takuti dengan tindakan pemberangusan umat beragama. Sementara, saya tidak belajar apa dan bagaimana Komunisme sebenarnya, bagaimana bentuknya, apa warnanya, seperti apa cara-cara berkembangnya dan sebagainya.

Ketakutan masyarakat akan paham ini sangat beralasan, sama halnya ketakutan akan hal-hal mistis macam demit atau iblis, jurig yang tidak diketahui masyarakat bagaimana dan apa wujudnya, ketakutan akan paham Komunisme menjadi paranoid tersendiri akibat ketidaktahuan tersebut. Sejarah Komunisme sendiri seharusnya didedah, ditelaah benar-benar dari segala sisi. Apakah paranoid ini berkaitan dengan siapakah “jenderal” di belakang “sejarah”?

Dari sebuah respon komentar tertangkaplah ketidaktahuan tersebut, dan dipertajam dengan sebuah hasutan yang tidak mendasar. Bisa saya kutipkan komentar di facebook sebagai berikut:

“Hancurkan paham Komunis dalam bentuk apa pun. Bakarrrr”

Apakah individu tersebut paham tentang Komunis? Ini hanya contoh, dan saya yakin akan bertambah banyak yang menautkan Komunis dengan PKI atau G30 S dengan tindakan pemberangusan umat beragama. Kemudian saya menjadi paham, ketika respons berikutnya di facebook menunjukkan bukti dan fakta sejarah berikutnya:

Heks… saya sedang mengkronik day by day peristiwa sepanjang tahun 1912-1923… Komunis di Indonesia justru lahir dari rahim Sarekat Islam yang juga membesarkan Tjokro, Abdoel Moeis, Agoes Salim, Ahmad Dahlan, Semaoen, Darsono, Alimin, Marco, Misbach… Mereka satu grup, beda kota: Putih ada di Surabaya, Merah ada di Solo dan Semarang. Bayangkan juga bagaimana Tan Malaka mati2an memperjuangkan di forum Komintern thn 1922 bahwa di Asia Tenggara, koalisi terbaik komunis adalah Islam. Atas ide itu, Tan dipetieskan oleh Komunis Soviet peranannya. Komintern marah karena terlampau fobia pada Islam….”

Pertanyaan selanjutnya adalah sejauhmana “Islam” dalam kondisi tersebut di”bahaya”kan? Ataukah seperti yang dilansir oleh media Hidayatullah.com. pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang berbahaya dan apa yang dibahayakan, dan siapa yang diberangus? (Bersambung)

Amalia Elvadiani, pengelola komunitas sastra emperan dan buku “ESOK” Surabaya

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan