-->

Tokoh Toggle

Prof Dr Siti Sjamsiah Apt : Tetap Andalkan Speed Reading

Siti sjamsiahBuku, kata orang, adalah jendela dunia sekaligus gudang ilmu. Ungkapan itu diresapi betul oleh Prof Dr Siti Sjamsiah Apt, 72. Maka, Sjamsiah tidak ingin jauh-jauh dari buku. Sampai menyandang status guru besar farmasi Unair (bidang biomedik farmasi) pun, Sjamsiah masih berkawan dengan buku.

Perempuan kelahiran Kediri pada 10 Agustus 1937 tersebut memang menyatakan hobi membaca sejak remaja. Sampai sekarang teman-temannya juga menyebut Sjamsiah sebagai kolektor buku.

Namun, tidak seperti pengoleksi lain, Sjamsiah tergolong tidak terlalu open dengan buku koleksinya. Bahkan, sekadar ditanya berapa kira-kira buku yang dimilikinya, Sjamsiah mengatakan tidak pernah menghitung. Dia hanya bilang, “Yang jelas banyak sekali.”

Sjamsiah mengungkapkan membeli empat atau lima buku tiap minggu. Itu berlangsung puluhan tahun. Maka, andai semua disimpan, buku koleksi Sjamsiah tentu ribuan.

Nyatanya, tak terlihat tumpukan buku di rumah Sjamsiah. Alih-alih menyimpan buku-buku tersebut, dia lebih suka membagi-bagikannya kepada keponakan, cucu, atau kerabat lain. Dia bilang ingin menularkan reading habit kepada generasi muda. “Saya miris sekali karena kebiasaan membaca anak muda kita sangat kurang jika dibandingkan dengan negara tetangga,” katanya.

Dalam pandangan Sjamsiah, menyimpan buku di rumah tidak berguna. Buku yang bertumpuk hanya akan menghabiskan ruangan. Belum lagi risiko buku berjamur dan rusak. Buku itu akan jauh lebih bermanfaat bila dibagikan kepada orang lain. “Keponakan atau cucu yang mampir selalu saya tawari buku-buku yang sudah selesai saya baca,” katanya.

Sjamsiah tentu tak membagikan buku-buku yang berkaitan dengan keilmuannya. Tapi, untuk buku yang lebih ringan dan populer, dia tak segan “menurunkannya” ke kerabat.

Meski usia sudah kepala tujuh, Sjamsiah masih rutin membaca buku-buku yang berkaitan dengan bidang ilmunya. Yakni, buku-buku tentang obat, jurnal obat-obatan, dan jurnal ilmiah lain. “Saya kan harus terus meng-update ilmu melalui bacaan,” tuturnya.

Yang namanya jurnal, demikian pula buku-buku keilmuan lain, umumnya selalu tebal. Bisa beratus-ratus halaman. Kalau dibaca secara normal, menyelesaikan satu buku saja memerlukan waktu lama.

Padahal, Sjamsiah tidak ingin menghabiskan banyak waktu hanya untuk satu buku. Cara mengatasinya? Dia memanfaatkan teknik membaca yang disebutnya speed reading (membaca cepat).

Sjamsiah menyatakan belajar teknik speed reading saat kuliah di Amerika Serikat pada 1968. Dia sengaja mengambil kursus membaca cepat karena sering kesulitan saat membaca buku-buku diktat yang tebalnya hingga ratusan halaman. “Membaca pelan-pelan sering tidak serantan,” ungkapnya.

Menurut Sjamsiah, ada dua teknik membaca cepat, yakni skimming dan scanning. Skimming adalah teknik membaca secara garis besar (sekilas) untuk mendapatkan gambaran umum isi buku, setelah itu baru melacak informasi yang ingin diketahui secara mendalam.

Sedangkan dalam teknik scanning, pada dasarnya tidak perlu membaca semua kalimat. Cukup dicari kalimat yang menjadi inti bacaan. Kecepatan mata menjelajah satu demi satu pulau-pulau kalimat juga memegang peran penting. Cara tersebut membutuhkan konsentrasi tinggi.

Kalau sudah terbiasa dengan teknik itu, lanjut dia, satu bab buku bisa dihabiskan hanya dalam beberapa menit. Teknik itu, lanjut Sjamsiah, sangat membantunya dalam menyiapkan makalah atau bahan perkuliahan.

Kuliah-Seminar, Tak Lupa Kata Mutiara

TAK hanya betah membaca buku-buku tebal, Prof Sjamsiah juga sangat rajin mengumpulkan kata-kata bijak dan quote dari orang-orang ternama. Menurut dia, kebiasaan yang ditekuninya sejak muda itu mengasyikkan. Kata-kata bijak tersebut, bagi Sjamsiah, juga bisa memberi banyak inspirasi.

Quote atau kata mutiara itu tentu tidak muncul begitu saja. Sedikit banyak itu pasti merupakan hasil perenungan,” ujar guru besar bidang biomedik farmasi yang masih diperbantukan di almamaternya tersebut.

Kata-kata bijak, menurut Sjamsiah, bisa dijadikan way of life. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Dia lalu mengutip ucapan Charles Darwin. Evolusionis itu mengatakan, bukan spesies terkuat yang akan bertahan, bukan juga spesies paling pintar.

”Menurut dia, yang paling bisa bertahan adalah spesies yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan. Itu luar biasa. Kalau dipikir-pikir, manusia memang harus mengikuti perkembangan zaman untuk bisa bertahan,” jelas perempuan berjilbab tersebut.

Satu lagi kata bijak yang dijadikannya pegangan adalah hadis berbunyi: Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada kemarin, dia termasuk orang yang beruntung. Yang hari ini sama seperti kemarin, dia termasuk orang yang merugi. Dan, yang hari ini lebih buruk daripada kemarin, dia termasuk orang yang celaka. ”Saya selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik agar tidak masuk golongan orang yang celaka,” tuturnya.

Sjamsiah berburu kata-kata bijak dari buku-buku yang dibacanya. Terutama, buku biografi orang-orang besar. ”Biasanya, dalam biografi ada quotation yang dicetak tebal. Kalimat itu saya tandai dan saya catat,” katanya.

Quote tersebut juga tidak sekadar disimpan. Sjamsiah kadang membubuhkan kata-kata itu dalam materi perkuliahan atau seminar yang dibawakannya. Tentu, dipilih kata bijak yang sesuai dengan materi yang disampaikan. ”Saya ingin semua orang terinspirasi seperti saya. Saya juga ingin mereka berkontemplasi setelah membaca kata-kata tersebut. Dari situ, mungkin mereka akan berbuat sesuatu,” tuturnya. (ign/soe)

Artikel ini dikronik dari Jawapos, edisi Sabtu, 19 September 2009 dengan judul asli Prof Dr Siti Sjamsiah Apt yang Tetap Andalkan Speed Reading

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan